
"benar non iga ndak jadi makan bakso, ntar dedek bayi nya ngences non? canda bi munah" masak iya bapak nya ganteng, emak nya cantik masak anak nya begitu? lanjut bi munah
"ndak bi, bi munah ndak buat kan teh untuk mbak winda? tanya ku
" iya non?
"bi munah tau minum kesukaan bi munah?
" jus mangga non? jawab bi munah, wajar bi munah tau apa yang menjadi kesukaan mbak winda secara mbak winda sering main kerumah mas irwan dan mereka berpacaran juga sudah cukup lama, tapi kenapa dada ku terasa sesak, seperti ada yang menekan, ndak aku ndak boleh seperti ini"non iga kenapa diam?
"ndak bi, pergi lah? waktu sudah menunjukan jam 01.00 siang, bi munah pergi keluar dari kamar, aku mengintip dimana mas irwan dan mbak winda berada, ternyata aku mendengar mereka suara mereka berada di kamar, sungguh aku semakin sesak, aku istri nya tapi ndak pernah di ajak nya ke kamar mas irwan, sementara mbak winda, sebenarnya aku ingin ndak ingin mengingat bahwa sebenarnya aku itu siapa bagi mas irwan, tapi hati ku ndak bisa di bohongi, bi munah mengantarkan minuman buat mas irwan dan mbak winda di kamar mas irwan, ini kesempatan ku keluar tanpa di ketahui mbak winda
"non iga ke kamar bi munah saja, setelah mengantar minuman ini bi munah menyusul? kata bi munah, aku mengangguk kan kepala, tapi bukan itu yang aku lakukan aku pergi keluar dengan berjalan kaki, sampai pintu gerbang pak satpam penjaga rumah heran melihat keluar,
" non iga mau kemana non? tanya pak satpam
"ada urusan sebentar pak? jawab ku pak dimana membuka kan pintu pagar untuk ku, setelah itu" Terima kasih pak? kata ku
"sama sama non? aku berjalan ndak tau arah kemana yang akan aku tuju, karena hanya intan teman ku satu satu nya, pasti jam segini intan masih di kantor, handphone, handphone ku ketinggalan di kamar, uang yang aku bawa hanya tiga puluh ribu, kalau aku naik angkot uang ini ndak akan cukup buat makan bakso, aku berjalan di terik nya matahari, sungguh sangat panas, padahal selama ini aku selalu berjalan kemana mana, tapi kenapa sekarang aku lebih banyak mengeluh, waktu yang aku tempuh hampir satu jam, keringat mulai membasahi baju dan wajah ku, duduk sebentar
" mau makan apa mbak? tanya si penjual bakso
"bakso pak, sama jus jeruk, tapi air jeruk perasan nya jangan di tambah air ya pak, cukup di tambah dengan batu es? kata ku.
" baik mbak? aku masih terdiam, sudah pulang belum ya mbak winda, kenapa aku bisa lupa membawa handphone ku, bersyukur warung bakso nya sunyi, karena jam istirahat sudah selesai. hanya butuh waktu lima belas menit pesanan ku datang. cabe ya, bakso ku beri cabai sampai tiga sendok, baru ku makan, apa karena perasaan ku ndak menentu sehingga bakso ku pun ndak terasa pedas, bakso ku hingga habis, baru ku minum jus jeruk ku,
"berapa pak? tanya ku
" tiga puluh ribu mbak? wajar harga nya mahal, karena bakso di warung ini terkenal enak, bahkan ukuran jumbo nya terasa sekali daging nya, habis sudah uang ku,
__ADS_1
"jam berapa sekarang ya pak? tanya ku pada penjual bakso
" sudah jam 02.45 mbak? cepat sekali waktu berjalan,
"Terima kasih pak? pamit ku, kalau aku berjalan kerumah intan butuh waktu berapa jam ya, batin ku sambil berjalan, tapi ndak angin kenapa hujan turun begitu lebat ya, apa hujan juga tau tentang perasaan ku saat ini, mungkin,,, hujan saja tau tentang perasaan ku, tapi mas irwan. aku tetap berjalan di tengah deras nya hujan,.
bi munah sedang mencari keberadaan ku, pasti bi munah khawatir karena hujan turun begitu deras, di telpon nya handphone ku, ndak terangkat karena hanya ke beri nada dering saja.bi munah bingung, bagaimana menyampaikan kepada mas irwan karena mbak winda masih berada di kamar mas irwan, ndak berapa lama mbak winda pamit pulang, mas irwan mengantarkan sampai ke depan, mbak winda memakai payung yang diberikan mas irwan menuju mobil nya, sebelum pulang mbak winda mencium pipi mas irwan, kebiasaan mbak winda. mas irwan menutup pintu kembali, bi munah mendekati mas irwan
" den?
"hmmm? jawab mas irwan
" non iga ndak ada? kata bi munah dengan nada penuh ke khawatiran
"gak ada gimana bi?
"kenapa bi munah bingung, biarkan aja iga pergi, to juga dia udah gede, ada mobil bisa minggir, hujan turun bisa berteduh? begitu santai nya mas irwan menjawab, sedikit pun ndak ada khawatirnya ke pada ku.
"saya telpon ndak di angkat den?
" bentar lagi juga pulang?
"tapi den,,,non iga kan lagi hamil den, kalau terjadi sesuatu bagaimana den? kata bi munah
" jadi saya harus gimana bi?
"cari non iga den, jangan sampai den irwan menyesal kalau terjadi apa apa dengan iga?
"biarkan saja, paling juga dia kerumah intan?
__ADS_1
" tapi non intan kan lagi di kantor den? kata bi munah"bagaimana bi munah menjawab kalau mami den irwan nelpon, atau bi munah kasih tau saja sama mami den irwan kalau non iga pergi sebelum mami den irwan nelpon?
"jangan bi! bisa berabe urusan nya? buat kerjaan orang aja? gerutu mas irwan" tadi sebelum dia pergi ada ngomong sama bi munah?
"ada den, kata nya mau makan bakso di perempatan lampu merah ujung jalan den?
" nah itu sudah tau, kenapa bingung?
"ya kalau non iga makan bakso den, kalau sampai melakukan sesuatu? kata bi munah dengan membayangkan begitu ngeri jika terjadi sesutu dengan istri majikan nya
" terjadi sesuatu apa bi? tanya mas irwan
"bunuh diri den?
" bunuh diri, gak mungkin kali bi?
"ndak mungkin bagaimana den, perasaan non iga sedang ndak menentu?
"gak menentu bagaimana?
" ya melihat den irwan di kamar berduaan dengan mbak winda den, apa den irwan lupa kalau non iga itu istri den irwan yang sah? kata bi munah dengan menatap mas irwan
"sejak kapan bi munah pandai bicara?
" sejak sekarang den? jawab bi munah ketus"kalau sampai terjadi sesuatu dengan non iga dan biji kecambah nya bukan den irwan saja yang akan di salahkan dengan mami mas irwan, tapi bi munah juga den? kata bi munah dengan menepuk nepuk dada nya
"udah biar saya cariin bi, buat ribet aja? kata mas irwan"ambilkan saya payung? perintah mas irwan, bi munah pergi dan mengambil payung dan menyerahkan payung kepada mas irwan
" cari sampai ketemu den? kata bi munah, mas irwan diam sambil memandang bi munah, setelah itu pergi.
__ADS_1