Sebuah Harapan

Sebuah Harapan
Terulang Kembali


__ADS_3

Aku tertidur pulas pada hal hari masih pagi tapi tidur di waktu pagi itu memang enak walau akan menimbulkan beberapa penyakit, aku tidur begitu pulas sampai pintu di ketuk bi surti aku ndak mendengar nya


"non" akhir nya bi surti masuk ke dalam kamar ku


aku hanya menggeliat dan mengucek ngucek mata ku yang masih terasa berat


"kata nya mau kerumah sakit non"


mendengar kata rumah sakit aku langsung terduduk


"ini sudah pukul berapa bi?


" sudah pukul 09.00"


aku langsung menuju kamar mandi seperti orang yang di kejar kejar setan, begitu aku keluar dari kamar mandi bi surti masih berdiri di kamar ku dengan memandang ku yang memakai baju terburu buru


"pelan pelan saja non" kata nya


aku mengambil baju di dalam lemari lagi lagi aku memakai baju pemberian mami jujur baju pemberian mami itu memang nyaman banget di pakai.bi surti tersenyum melihatku yang begitu percaya diri memakai baju di depan nya apalagi melihat tubuh ku yang putih bersih di tambah dengan perut ku yang buncit. rambut ku kuncir satu seperti ekor kuda dengan pita jepit di atas di tambah lagi bedak tipis dan lipstik sangat sempurna


"cantik non"


aku hanya tersenyum melihat nya dari cermin


"siapa pun yang melihat non iga pasti akan jatuh hati"


"ndak dengan Irwan Hardi Wijaya Diningrat bi"


"mata hati nya belum terbuka non"


"sampai kapan?


" itulah yang gak bibi ketahui non"


aku berjalan menuruni anak tangga dan bi surti dengan setia mengikuti langkah ku


"non"panggilnya


" iya bi"jawab ku tanpa melihat ke arah nya


"semua bekel yang mau di bawa sudah siap di meja"


"Terima kasih bi"


Aku melihat semua bekel yang akan di bawa sudah lengkap di meja aku mengambil nya


"biar saya aja non" kata nya dengan mengambil semua nya"mari non"

__ADS_1


Pasti mami sudah menunggu ku apa yang harus aku jawab ketika mami bertanya kenapa aku lama sekali jawab saja yang sebenar nya, pintu mobil dibuka oleh pak kardi aku pun langsung masuk dan bi surti meletakkan semua nya di sebelah ku


"pelan pelan pak terus nanti kalau sudah sampai jangan biarkan non iga membawa nya"


"siap bos" jawab pak kardi dengan berdiri siap, aku tersenyum melihat tingkah mereka.


"saya pergi dulu bi"


"hati hati non"


aku menganggukkan kepala mobil berlahan lahan meninggalkan bi surti,aku pagi ini kelihatan segar sekali karena aku berharap ini awal yang baik buat ku dengan senyum tipis


"ada apa non?


" ndak ada apa apa pak"jawab ku dengan membuang pandangan ku ke samping, kami sampai di rumah sakit pak kardi sibuk membawa bekel yang di buat oleh bi surti dan pak kardi mengikuti langkah ku dari belakang sesampai nya di kamar mas irwan aku langsung masuk dan betapa terkejut nya aku melihat mas irwan sedang berduaan dengan mbak winda,


"kamu gak bisa ketuk pintu dulu apa kalau mau masuk kamar orang? tanya mbak winda sementara mas irwan hanya diam dengan buru buru melepas kan pegangan nya


"maaf" kata ku pelan sungguh pagi ini sakit ku terulang kembali


"kamu mau ngapain? tanya nya lagi yang melihat pak kardi membawa bekel begitu banyak" kamu tau dari mana kalau irwan kecelakaan? tanya nya"kamu kan bukan karyawan nya lagi kenapa mesti repot repot seperti layak nya istri saja kamu"


" masalah buat kamu? tanya mami yang begitu datang, mbak winda diam"kamu lagi irwan malah diam aja"


"mami kamu kenapa sih yang? kata nya pelan


"kok kamu malah marah sama aku"


"wanita seperti kamu itu pantas di marah bahkan bila perlu di tampar"


"kok tante ngomong nya begitu? tanya nya dengan suara manja


" sudah berapa lama kamu pacaran sama anak saya?


"sudah tiga tahun tante"


"apa kamu belum tau kalau irwan itu sudah menikah? aku, mas irwan dan mbak winda terkejut


" apa? kata winda"bener kamu sudah menikah yang atau mami kamu berbohong karena mami kamu gak suka dengan hubungan kita? aku hanya diam berdiri dengan memegang perut ku


"kenapa gak kamu jawab ir?mas irwan hanya diam menatap ku


" kenapa kamu diam?


"haruskah aku katakan yang sebenar nya?


" jadi selama ini kamu membohongi ku"kata nya dengan marah"siapa wanita yang telah menjadi istri mu? mas irwan hanya diam

__ADS_1


"perlu mami jelaskan siapa istri kamu ir?


" jangan mi"cegah mas irwan aku hanya mampu diam karena aku berharap hubungan kami akan membaik namun kenyataan nya aku harus menelan pil pahit kembali


"kenapa?


"jadi kamu benar benar sudah menikah, aku gak akan membiarkan wanita itu merebut kamu dari ku"


"kamu mau apakan istri nya irwan?


" kalau aku gak bisa mendapatkan nya siapa pun gak bisa mendapatkan nya"


"maksud kamu apa? tanya mami dengan memegang tangan nya mbak winda


" aku akan menghancurkan nya bila perlu membunuh nya" tamparan keras mendarat di pipinya aku nyengir melihat nya


"dasar psikopat"kata mami dengan mendorong nya sampai terjatuh, mas irwan hanya diam dengan memegang kepala nya


" kalau sampai hal itu terjadi saya orang pertama yang akan mengejar kamu kemana pun kamu pergi, ingat itu"kata mami sambil membungkuk kan badan nya sambil menunjuk ke arah mbak winda"siapa kamu sampai seberani itu atau kamu belum mengenal saya? mbak winda diam"pergilah sebelum saya berbuat terlalu jauh"kata mami sambil berdiri"kamu gak dengar apa kata saya? mbak winda bangkit dan keluar dari ruangan mas irwan


"itulah mi yang saya takutkan"


"kamu yang gak jantan,menghadapi wanita liar seperti dia masak gak mampu"


"aku bukan gak mampu mi tapi aku takut terjadi apa apa dengan iga dan calon anak ku mi"


"maka nya kamu harus menjaga nya dan jangan biarkan dia kemana pun sendirian atau kamu memang sangat mencintai nya sampai gak mau kehilangan nya"


"bukan seperti itu mi"


"lalu apa?


sejenak ndak ada suara yang terdengar lagi hanya suara jam dinding pada hal hari masih pagi


" apa kah kamu gak sadar sikap mu yang seperti itu sangat menyakitkan istrimu"mas irwan kembali menatap ku


"aku butuh waktu yang tepat untuk mengatakan semua nya mi


" sampai kapan? tanya mami"kamu lagi ga kenapa diam aja, sebenar nya kamu masih mau melanjutkan pernikahan ini atau tidak? aku begitu terkejut dengan pertanyaan mami"kenapa kamu diam ga?


"iga gak terlibat masalah ini mi?


" dia istri kamu dia berhak"


"aku melarang nya mi untuk mengatakan apa pun"


"dan kamu nurut ga? kenapa aku juga di persalahkan dalam hal ini, apakah aku juga salah aku hanya berusaha menuruti kemauan nya walau sebenar nya hati ku menolak.

__ADS_1


__ADS_2