
Pagi ini mood ku benar benar lemah, sampai ketiga adik ku berangkat sekolah dan kuliah aku masih belum beranjak dari ranjang ku, bahkan ketika bapak ku berangkat kerja aku juga masih membaringkan tubuh ku, sampai ibu yang masuk ke kamar ku dan melihat keadaan ku
"kamu sedang ndak enak badan atau bagaimana nduk? kata ibu dengan memegang kening ku
" ndak bu?
"kalau begitu kenapa kamu ndak bangun?tanya nya dengan membuka jendela" ndak baik wanita hamil bangun kesiangan nduk? aku menarik tangan ibu hingga dia terduduk diranjang ku"kamu ini? dengan memukul lengan ku pelan, aku memeluk nya begitu erat serasa ndak ingin melepas kan nya, aku menangis dalam pelukan nya yang lembut"kamu kenapa nduk? tanya nya dengan melepaskan pelukan dan menatap mataku"kenapa kamu menangis? tanya dengan menghapus air mata ku"kata kan pada ibu mu ini ada apa sebenar nya? ku tatap mata ibu dalam dalam
"bu maaf kan aku bu, maaf kan aku?
" kenapa kamu harus minta maaf, sebenar nya apa yang terjadi?
"aku ndak bisa menjadi istri yang baik bu?
" ibu ndak paham? ku pegang tangan ibu lalu ku cium
"aku akan berpisah bu?
" dengan suami kamu? tanya ibu, aku mengangguk kan kepala"kenapa sampai harus berpisah? pertanyaan yang ndak bisa aku jawab, harus kah aku mengatakan yang sebenar nya kalau suami ku selalu jalan dengan pacar nya meskipun kami sudah menikah"kenapa kamu diam?
"cara pandang kami berbeda bu?
" yang nama nya menikah itu menyatukan dua pikiran yang berbeda nduk, ndak ada orang menikah itu semua nya sama dalam pandangan dan prinsip?
"tapi ini benar benar ndak bisa di toleran bu?
" begitu besar kah kesalahan yang di perbuat suami kamu nduk sampai kalian harus berpisah?
"sangat bu sampai hati ku susah untuk menerima nya kembali bu?
" jangan pernah mengambil keputusan ketika hati dan kepala dalam keadaan panas karena itu akan membuat kamu menyesali nanti nya?
"aku sudah memikir kan matang matang bu?
" kamu ndak akan menyesal?
"aku ndak akan pernah menyesal dengan keputusan ku sendiri bu?
" pikirkan sekali lagi nduk, apa itu benar benar jalan keluar buat hubungan kalian? kata nya dengan meninggalkan ku
__ADS_1
"bu!!! panggil ku dengan mengikuti langkah nya menuju meja makan
" ibu hanya ingin kamu itu ndak berpisah, kamu jangan memikir kan diri kamu sendiri tapi pikirkan juga bayi mu yang belum lahir ini nduk, haruskah ketika dia lahir bapak dan ibu nya berpisah hanya karena cara pandang berbeda. nduk kita ini hidup di kampung dan dari keluarga yang miskin,ndak baik memiliki titel janda, ibu bukan egois nduk tapi ibu ndak akan kuat ketika tetangga membicarakan status mu?
"maaf kan aku bu, maaf kan aku yang menambah beban ibu?
"ibu ndak akan keberatan kamu tinggal disini, to ini juga rumah kamu nduk?
" bu bukan aku ndak mendengar kata kata ibu, tapi hati ini sudah terlanjur sakit bu? kata ku dengan memegang dada ku, ibu menarik nafas dalam dalam
"kalau itu sudah menjadi keputusan mu ibu ndak bisa berbuat apa apa nduk?
" ibu marah? ibu menggelengkan kepala nya dan menatap ku dengan tersenyum
"ibu ndak marah tapi ibu khawatir kamu mengambil keputusan yang salah? apa yang harus aku katakan pada ibu agar dia mendukung keputusan ku
" baik lah akan aku pikirkan kembali? ini adalah jawaban yang akan membuat ibu tenang"ibu mau kemana?
"ibu akan mencuci baju bu'de mirna?
" ibu masih mengupah nyuci? tanya ku
" aku akan ikut ibu?
"ndak usah mendingan kamu di rumah saja?
" aku mau ikut? kata ku dengan merengek
"ya sudah, sarapan dulu?
" aku ndak terbiasa sarapan pagi bu?
"ya paling ndak cuci muka dulu?
" baik lah? jawab ku menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi"sudah bu? aku dan ibu pergi kerumah bu'de mirna, butuh waktu setengah jam menuju kerumah nya karena lumayan jauh,
"ibu setiap hari seperti ini?
"ndak kadang sama nina kalau pas dia libur, kadang juga sama Nino?
__ADS_1
" berapa pintu yang mencuci kan baju sama ibu?
"empat nduk?
" empat!!!! terkejut nya aku
"sudah?
aku hanya ndak tega melihat ibu ku yang sudah tua masih mengupah nyuci pintu ke pintu bahkan empat pintu dalam satu hari dengan jarak tempuh yang lumayan jauh, belum nyuci sudah lelah duluan karena terlalu jauh berjalan. seharus nya ibu menikmati hari tua nya di rumah tanpa harus bekerja. tapi kenyataan nya.
"kapan pulang ga? seseorang menyapa ku
" eh bu'le,, kemaren bu'le? aku begitu sederhana hanya memakai sendal jepit dan celana kolor pendek selutut dan kaos oblong, leher ku yang jenjang dan tulang leher yang menonjol karena aku kelihatan lebih kurus kaki ku yang putih bersih tanpa ada bekas luka, tubuh ku kelihatan mulus tapi ndak dengan hidup ku, berbanding terbalik
"mampir ga?
" matur ke suwun bu'le, mau ke rumah bu'de mirna? jawab ku dengan mengikuti langkah ibu ku, akhir nya sampai juga
"lho kamu pulang ga?
" iya bu'de?
"suami kamu ndak ikut? pertanyaan yang ndak ingin aku dengar
" ndak bu'de, saya bantu ibu dulu bu'de?
"monggo?
mendengar pertanyaan bu'de mirna aku yakin pasti ibu memikir kan pernikahan ku,pernikahan yang ndak bertahan lama pernikahan yang ndak pernah di dasari cinta tapi karena hawa nafsu,
" sini bu? aku mengambil timba nya, disini jarang orang menggunakan sanyo,mengambil air menggunakan tali yang ujung nya di ikat ember dan ujung nya di ikat di tiang penyanggah, baru di atas nya ada alat bulat , sehingga air di angkat alat itu akan membantu dan memutar. mulai ku isi air di bak sampai penuh sehingga membuat perut ku tertekan,ku ambil baju satu persatu untuk ku cuci sampai hingga selesai
"kamu istirahat saja nduk?
" ndak bu? dengan membilas cucian membuat baju ku sedikit basah, ibu melarang ku mengangkat cucian sampai jemuran. selesai sudah semua cucian empat pintu. aku merasakan benar benar lelah ku pegang bawah perut ku karena sedikit keram menahan nya dengan menggigit bibir bawah ku dengan sedikit nyengir
"kamu kenapa nduk? tanya ibu ku dengan khawatir memegang tangan ku
" ndak ada apa apa bu, biasa keram?
__ADS_1
"ini yang ibu takut kan nduk! berjalan dengan pelan pelan menuju rumah, akhir nya sampai juga.