
"kenapa ndak jadi bicara nduk?tanya ibu
"ndak Bu"
"kenapa?aku hanya tersenyum,aku ndak ingin berbicara masalah ini di depan ketiga adik ku,karena aku ndak ingin rasa hormat mereka hilang terhadap bapak nya walau sebenar nya bapak sudah ndak pantas mendapatkan semua itu baik dari istri atau anak nya,cukup aku yang merasakan hilang rasa itu,aku berdiri
"kamu mau kemana?tanya mas Irwan
"bentar mau ketoilet mas"aku berdiri dengan memegang perut ku"kamu mau kemana?tanya ku
"nemenin kamu"jawab nya dengan memegang pinggang ku,ibu ku tersenyum
"bentar ya Bu"kata ku dengan meninggalkan meja makan dan berjalan menuju toilet wanita
"kamu mau kemana?tanya ku
"masuk"
"kamu gak lihat kalau ini toilet wanita?
"lihat"
"terus kenapa masuk?
"aku takut terjadi apa apa sama kamu"
"jangan khawatir"kata ku dengan memegang tangan nya"kamu tunggu sini aja ya?aku masuk,aku hanya buang air kecil sehingga aku ndak membutuhkan waktu lebih lama
__ADS_1
"sebentar"tangan ku di tarik nya
"ada apa mas?
"apa yang sedang kamu pikirkan?pertanyaan nya membuat aku ndak mampu mengelak
"kamu membuat aku terkejut mas"kata ku dengan mengelus dada ku,dia tersenyum"yuk buruan aku sudah ndak sabar mas"dia langsung menggandeng tangan ku,ini hal yang membuat ku sangat bahagia karena suami ku punya hobi baru kalau ndak menggandeng tangan ku memeluk punggung ku,hal yang sebelumnya ndak pernah aku rasakan sehingga membuat aku tersenyum
setelah semua di bayar oleh mas irwan kami menuju mobil dan melanjutkan kembali perjalanan,kali ini aku duduk dengan menyandarkan tubuh ku dan bangku nya agak aku luruskan sedikit agar bisa meluruskan badan ku,dengan santai mas Irwan selalu mengusap perut ku ketika tanpa sengaja melihat perut ku bergerak,dia tersenyum senyum dan tanpa sepengetahuan ku Nina memandang suami ku dari kaca spion. akhirnya kami sampai juga,mang diman dan bi Surti menyambut kami dengan penuh suka cita
"selamat datang non"sambut nya
"terima kasih bi"jawab ku,ibu dan ketiga adik ku begitu kagum melihat megah nya rumah mas Irwan,
"mari Bu"ajak bi Surti
"terima kasih bi"mereka tertawa bahagia melihat kamar tamu begitu besar dan dingin di tambah lagi tempat tidur yang empuk membuat mereka tambah nyaman
sementara aku langsung membaringkan tubuh ku,masih teringat di benak ku ketika pertama kali aku masuk kerumah ini sebagai istri Irwan Hardi Wijaya Diningrat dan sebagai pengantin baru aku ndak tidur bersama suami ku tapi di ruang tamu dimana ibu ku sekarang sedang istirahat,aku tersenyum kecut mengingat nya,
"kamu kenapa?tanya mas Irwan,aku hanya tersenyum dan berdiri menuju kamar mandi,masih ada sedikit rasa sakit di hati ini atas perbuatan suami ku,kenapa ketika aku di malang ndak ada memikirkan sedikit pun tentang sikap mas Irwan terhadap ku tapi sekarang,kenapa ketika aku kembali ke Jakarta aku mengingat kembali peristiwa itu,ku guyur rambut ku yang panjang terasa sejuk,aku harus melupakan semua itu karena aku ingin membuka lembaran baru.
malam sudah larut dan malam ini aku begitu gelisah aku melihat mas Irwan tidur di samping ku begitu lelap,mungkin dia lelah karena nyetir dari Malang ke Jakarta aku berusaha memejamkan mata tapi begitu sulit,ku miringkan badan ku kekanan dan kekiri tetap sama masih gelisah,jarum menunjuk kan angka 12.00
"kamu belum tidur?tanya mas Irwan dengan mengucek ngucek mata nya,aku menggelengkan kepala"kenapa?dengan mengusap perut ku karena posisi tidur ku telentang,di telentang kan tangan nya dan aku tidur di dekapan nya,di ciumi rambut ku dan di usap usap kepala ku dan aku pun tertidur pulas,dan aku pun lupa dengan pikiran ku
dan aku terbangun jam 02.30 karena ingin buang air dan juga haus,setelah buang air aku turun ke bawah pelan pelan dan aku mendengar suara seseorang
__ADS_1
"kamu sudah gila nin"suara mas Irwan,ngapain mereka berdua
"aku mencintai mu mas"
"kamu sudah gila"aku semakin penasaran,aku ndak bisa melihat mereka sedang berbuat apa,
"aku iri dengan mbak iga mas"
"kamu berkhianat dengan kakak mu yang telah memberi mu kehidupan sampai hari ini"aku sedikit melihat Nina yang begitu agresif dengan kakak ipar nya,di lipat nya tangan Nina di leher mas Irwan
"lepaskan nin"
"kenapa mas,,aku yakin mas Irwan ndak bergairah melihat mbak iga karena perut besar nya"rasa nya aku ingin muntah
"aku gak ingin iga salah paham"
"itu yang aku harapkan"dan aku menekan saklar lampu dan mereka begitu terkejut melihat ku yang sudah berdiri di depan ku,Nina langsung melepaskan tangan nya dari leher mas Irwan dan aku juga melihat lipstik Nina nempel di wajah mas irwan,hati ku kembali sakit melihat peristiwa ini,belum kering luka ku kini harus di tambah lagi,tapi ini lebih sakit karena dia adik ku,adik yang selama ini aku dambakan dia yang menusuk hati ku dengan jarum bertubi tubi. mas Irwan mendekati ku dan berusaha ingin menjelas kan semua nya tapi aku mengangkat tangan ku menandakan aku ndak butuh penjelasan apa pun,aku membuka lemari pendingin dan menuangkan nya di gelas dan ku minum sekali teguk kan,karena aku merasa sekujur tubuh ku panas dan terasa mendidih.begitu selesai aku menatap Nina dengan pakaian nya yang ndak senonoh,
"serendah ini kah kamu nin?tanya ku"aku ndak menyangka kalau kamu itu serendah ini"kata ku pelan
"aku iri dengan semua yang mbak iga miliki termasuk mas Irwan"aku ndak perlu banyak bicara karena aku ndak mau semua orang yang berada di rumah ini tau termasuk ibu,aku berjalan menuju kamar dan mas Irwan mengikuti ku dari belakang dan berusah memegang tangan ku tapi ku tepiskan,
"ga"panggil nya tapi aku ndak menghiraukan nya,hati ku sudah terlanjur sakit dengan kejadian ini,dan aku ndak perlu bicara apa pun,ku baringkan kan badan ku dan ku tarik selimut
"ga"panggil nya
"tidurlah"kata ku pelan,benar kah aku di takdirkan untuk tidak pernah bahagia,benarkah hubungan ku dengan mas Irwan memang harus sampai di sini,benarkah takdir ku juga sama dengan ibu ku,air mata ku ndak berhenti mengalir hingga hari menjelang pagi mata ini ndak bisa terpejam,ketika mas Irwan terbangun aku berusaha pura pura memejamkan mata ku,dia menatap ku dan mencium keningku setelah itu dia mandi
__ADS_1
"ga"panggil nya dengan mencium pipi ku"udah siang bangun"aku ndak bergeming sedikit pun ketika mendengar suara nya dan bibir nya mendarat di pipi ku rasa nya aku ingin muntah.