
"Takdir yang telah berbaik hati mempertemukan kita"
________________________________
Kota yang paling padat kedua setelah kota Berlin ini adalah kota tempat tinggalnya keluarga Al-Zair.
"Ternyata Hamburg masih sibuk," Gumam Ikhsan setelah Take-off.
Ikhsan yang lelah di atas pesawat pergi membeli minum di market terdekat sambil menunggu jemputan.
Setelah membayar, Ikhsan yang sudah cukup haus segera meminumnya dan segera pergi ke luar market.
Bruggg,,,,
Minuman Ikhsan terjatuh karena seorang perempuan yang sedang berlari dari arah depan ikhsan.
"Maaf, maaf," ucap perempuan itu dengan bahasa jerman.
"Kamu aneh ya, kamu gk liat ya?," kata Ikhsan sedikit emosi.
"Kan aku udah bilang maaf," kata perempuan itu sambil mengambil uang di dompetnya. "Berapa harganya? Biar aku ganti," sambungnya sambil mengeluarkan uang 5DM
"Ck, ini bukan masalah uang," kata ikhsan menepis tangan perempuan itu dan berlalu pergi dengan barang-barangnya.
"Aku Latifatul maafkan aku," sontak Ikhsan kaget mendengar nama itu.
__ADS_1
"Kamu orang Indonesia?," ikhsan bertanya sambil membalikkan badannya.
"Iya, kamu juga orang indonesia," perempuan itu balik bertanya.
"Ok, karena kita berasal dari negara yang sama, aku akan memaafkan mu, tapi lain kali berhati-hatilah, ini bukan rumah," kata ikhsan dan berlalu pergi.
Mereka berdua berpisah. Dan siapa yang akan menyangka pertemuan tadi adalah awal dari segalanya.
"Dia cantik, tapi ah,,, kenapa aku malah memikirkannya," sahut ikhsan memuji perempuan yang bernama Latifatul di dalam hatinya.
🍃
Ikhsan yang sudah menunggu jemputan mulai merasa bosan. Tapi, bosan itu hanya bertahan sebentar karena selang waktu 5 menit, sebuah mobil Prosche bewarna putih datang menjemput Ikhsan.
"Hy men," sapa seorang yang keluar dari dalam mobil tersebut.
"Hmm," sahut Ikhsan cuek.
"Gk ah, capek," sahut Ikhsan kesal karena menunggunya terlalu lama.
"Hahah, lu masih aja sama kayak 3 tahun yang lalu ya," katanya.
Orang tersebut adalah kembarannya Ikhsan, Irfano Al-Zair. Seorang yang sedikit sombong dan tampan. Ia terkenal di kalangan wanita masa SMA nya seperti yang ia ceritakan ke Ikhsan selama di Cina lewat surat-surat.
*ikhsan yang baju hitam dan fano yang baju putih.
"Kita langsung pulang?," tanya Fano.
"Ya, aku capek,"
__ADS_1
🍃
"Assalamu'alaikum, aku pulang," Ikhsan masuk dan langsung menuju ruang tamu, di sana sudah ada Ayah dan Bunda Ikhsan menunggu.
"Wa'alaikumussalam, nak. Kamu baik-baik ajakan selama perjalanan," sang ayah yang bernama Falex Al-Zair bertanya. Bunda ikhsan yang bernama Nurma langsung memeluk anaknya itu.
"Aku baik-baik saja, dimana adikku," ikhsan menanyakan keberadaan adiknya Marwa Al-Zair.
"Palingan di atas," sahut Fano sambil duduk di sofa.
"Bunda rindu sekali padamu nak, sudah 3 tahun kita tidak bertemu. Kamu nya tidak mau pulang, di sana terlalu nyaman ya daripada Hamburg?," kata Bundanya yang melepas pelukan dari sang anak.
"Kakak,," seorang gadis cantik turun dari tangga dan menyalami Ikhsan.
"Haha, tambah putih aja kamu," ikhsan menggoda adik kesayangannya itu.
"Ya dong. Kak Fano janji lo traktir malam nanti, kan kak Ikhsan dan kak Fano lulus di UHH (Universitas Hamburg)," ucap Marwa senang.
"Fano, kau tidak bilang padaku," Ikhsan melotot ke Fano, yang membuat Ayah Bunda mereka tertawa.
"Hahahah,, tapi senang kan?," kata Fano sambil pergi ke lantai atas rumah.
Ikhsan hanya tersenyum karena ia memang ingin kuliah di sana.
_________________
gimana? Maaf jelek. Hahahah
Komen yak jika ada kurangnya
__ADS_1