
HAPPY READING GUYS
________________________
Setelah selesai makan dan minum, Art mengajak Ana untuk pergi ke halaman belakang rumahnya, akan tetapi bukan di taman belakang halaman mansion ini, melainkan ke halaman paling belakang rumahnya itu yang bersentuhan langsung dengan ujung pesisir Miami beach ini...
"Kenapa kalian membuat halaman belakang yang begitu luas sayang? Tidakkah ini terlalu luas?" Tanya Ana saat mereka melalui jalan setapak yang dipenuhi oleh lampu taman itu...
"Selain untuk menciptakan pemandangan yang indah, ini juga berfungsi sebagai peningkatan kualitas keamanan sayangku..." Sahut Art sambil merangkul pinggang Ana, memeluknya dan menikmati sensasi hangat dari tubuh kekasihnya ini...
"Hmmm? Keamanan? Apa hubungannya? Bukankah jika semakin luas halaman rumah akan semakin sulit untuk diamati dan diamankan sayang?" Tanya Ana lagi yang masih tidak paham akan maksud dari kekasihnya ini...
"Ya, memang seperti itu di pandangan orang awam sayang... Tapi ini menjadi semacam sistem keamanan terintegrasi yang kuat, sehingga jika seandainya ada orang asing yang berhasil menerobos masuk kesini, ada beberapa rentang waktu yang cukup lama untuk mereka berhasil mencapai rumah utama... Dan diharapkan dengan rentang waktu itu, kita bisa mempersiapkan segala macam sesuatu yang cukup sebagai tindakan penanggulangannya dan siap memberikan perlawanan..." Sahut Art lalu tangannya bergerak keatas dan mulai mengusap lembut rambut Ana,
Di bawah sinar rembulan malam ini, wajah Ana tampak begitu cantik, manis dan mulus layaknya sebuah batu giok murni yang telah di gosok halus...
Art mengusap pipi mulus Ana pelan dengan ibu jarinya, menikmati senyuman indah yang terukir dengan begitu indah di wajah cantik kekasihnya ini...
"Aku mencintaimu... Terima kasih karena telah menerimaku di dalam hatimu, meskipun aku begitu banyak kekurangan tapi dengan dirimu selalu ada di sisiku... aku akan terus berusaha menjadi pria yang sempurna sampai aku benar-benar layak untuk menjadi suamimu kelak Anastasya Geraldine..." Ujar Art dengan sangat serius pada Ana,
Ana terpaku melihat pria tampannya ini, di bawah sinar rembulan malam ini ia benar-benar terlihat seperti seorang pangeran dari cerita dongeng...
Begitu tampan dan mempesona, sayangnya ia tidak mengenakan mahkota seperti di cerita-cerita dongeng biasanya... Senyuman manis yang terlukis dengan indah di wajah tampannya seakan-akan dapat mengunci pandangan setiap wanita yang menatapnya...
Apalagi saat ini, ketika ia mengucapkan kata-kata yang begitu serius dan penuh dengan komitmen itu, wajah Ana memerah...
Apa kekasihnya ini tidak sadar kalau ia mengatakan sesuatu seperti ini dengan penuh keseriusan dan komitmen ia seperti sedang melamar gadisnya?
Sayang sekali ia tidak mengatakan satu kalimat tambahan...
Will You Marry Me?
__ADS_1
Ah, sayang sekali memang...
Namun, apakah jika Art mengatakan itu sekarang hati Ana sudah cukup siap untuk mengikat komitmen yang kuat dan sangat suci di kehidupannya ini? Itu juga masih menjadi tanda tanya besar saat ini... Yang jelas, yang Art tahu adalah Ana masih belum mau menginjakkan kakinya ke jenjang yang paling tinggi dalam hubungan mereka ini...
Art tidak mau memaksakan kehendaknya pada Ana, toh juga umur mereka memang belum menginjak titik kritis yang mengharuskan mereka berdua menikah secepatnya... Titik kritis itu masih terlalu jauh dari mereka berdua sehingga tidak perlu rasanya jika terlalu terburu-buru karenanya...
Lalu perlahan namun pasti, Art memiringkan dan mendekatkan wajahnya pada Ana... Memegang dagunya dengan sangat lembut seperti setitik salju yang lembut...
Cuuuppphhh...
Mereka berciuman lagi malam ini di bawah sinar rembulan yang begitu cantik menerangi malam ini...
Namun tanpa mereka sadari, seseorang tersenyum jauh di belakang mereka... Saat melihat adegan romantis itu, iapun memilih untuk mengurungkan niatnya untuk menemui mereka berdua...
"Semoga cinta yang anakku jalin memiliki alur yang lebih mulus daripada alur yang tuhan persiapkan untuk ayah dan ibunya ini..." Ujar orang itu sambil berjalan menjauh...
Ia tidak lain dan tidak bukan adalah Kim...
Setelah perbincangan serius tadi, Art tiba-tiba muncul karena merasa khawatir, namun ayahnya ini benar-benar tidak bisa mengatakan apapun yang sedang terjadi saat ini karena keadaannya begitu rumit...
Lalu setelah mereka pergi jalan-jalan di halaman belakang, Kim ingin mencoba meredakan rasa kesal dari anaknya ini akan tetapi, ternyata disisinya sudah ada obat penawar yang benar-benar ampuh untuk menghilangkan emosinya...
Cinta memang rumit, terkadang ia bisa menjadi obat yang sangat ampuh untuk menyembuhkan segala macam rasa sakit, akan tetapi pada titik tertentu ia bisa menjadi sebuah racun yang sangat mematikan bagi siapapun yang mencoba merasakannya...
***
Setelah Ana hampir kehabisan napasnya, mereka berdua akhirnya menyelesaikan ciuman manis itu... Wajah mereka berdua benar-benar memerah, sedikit lagi... Hanya sedikit lagi saja mungkin Art akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri...
Aroma tengkuk Ana yang begitu manis sudah menggodanya secara terampil...
Maka Art lebih memilih untuk menyudahi semuanya daripada ia harus menghadapi situasi yang bahkan tidak akan bisa ia kendalikan nantinya, karena semakin hari Ana semakin membuat dirinya tergila-gila...
__ADS_1
Apalagi ayahnya juga sudah sangat sering mengingatkan padanya agar jangan bertindak terlalu jauh sebelum ia mengikat Ana dalam hatinya dan juga di atas altar dengan sebuah janji suci antara mereka berdua...
Glekkk...
Art menelan ludahnya sendiri ketika melihat Ana masih begitu menggoda dari sudut pandangnya... Sikapnya yang kini malu-malu membuat Art kesulitan untuk menahan dirinya...
"Emmm... Malam sudah semakin larut, udaranya juga semakin dingin... Pakailah..." Ujar Art sambil melepas dan mengenakan jasnya pada Ana...
"Emmm... I-iya..." Sahut Ana malu-malu
"Ayo kembali ke dalam rumah, aku tidak mau kamu sakit sayang..." Ujar Art
Namun bukannya menggandeng tangan Ana, tapi Art malah sedikit berjongkok di depannya, seolah-olah menunggu Ana untuk naik ke punggungnya untuk digendong menuju ke dalam mansion besar itu...
"Ayo naik sayang... Lumayan jauh loh kalau mau berjalan..." Ujar Art sambil tersenyum manis pada Ana,
Oh, betapa manisnya pria ini...
Setelah memberikan jasnya untuk menghangatkan tubuh kekasihnya, kini ia juga mengambil inisiatif untuk menggendong kekasihnya agar tidak perlu berjalan jauh yang mungkin bisa membuatnya kelelahan di malam yang sudah begitu larut malam ini...
Ana pun tersenyum dan langsung melompat ke atas punggung Art dengan senang hati...
"Jangan mengeluh kalau aku berat ya..." Ujar Ana sambil mengeratkan pelukannya di leher Art,
"Jika kamu terlalu berat bagiku, maka aku tidak akan berjuang jika aku tidak yakin bisa menanggung semua beban yang ada... Tapi karena aku yakin 100% pada diriku bahwa aku bisa menanggung semuanya, maka aku akan terus berjuang tidak peduli seberapa pun beratnya kedepannya..." Sahut Art dengan penuh keyakinan,
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
vote like dan komentarnya guys...
__ADS_1
kasi rating juga karyanya Author ya...
⭐⭐⭐⭐⭐