
Happy Reading Guys
_____________________
”Tidak, bukan begitu Ana...” sahut papanya tapi ia tidak bisa memberikan jawaban yang pasti karena ia juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh keluarga itu,
“Aku tidak memenuhi syarat untuk menjadi istrinya, pasti seperti itu... aku tahu, aku terlalu bodoh untuk mengira bisa selalu bersama dengannya, mungkin Art menganggapku sebagai beban pa” ujar Ana dengan tidak berdaya, seakan ia telah benar-benar kehilangan semangat dan juga tujuan hidupnya dalam waktu yang bersamaan,
“..............” Gerald hanya bisa menahan kesedihan di dalam hatinya melihat putri kesayangannya ini begitu hancur karena patah hati, meskipun ia kesal dengan keputusan yang telah diambil oleh Art yang sudah sangat ia percayai itu, ia menyadari betul bahwa ia tidak bisa melakukan tindakan apapun untuk berhadapan dengan mereka, ia hanya mampu untuk menghibur dan mendukung putrinya dengan sekuat yang ia bisa apapun keputusan yang akan diambil oleh Ana untuk masa depannya sendiri,
***
3 hari penuh Ana mengurung diri di dalam kamarnya, Davika dan Andeline beberapa kali sudah datang untuk menghiburnya namun semua itu seakan tidak memberikan perubahan yang nyata pada Ana, ia masih suka termenung di depan jendela kamarnya menatap langit yang luas dengan pikiran kosongnya,
Hari-hari pun berlalu begitu saja hingga tak terasa sudah 1 minggu berlalu semenjak ia mengurung dirinya sendiri di dalam kamarnya,
jadwal ujian akhir skripsinya pun sudah semakin dekat namun Ana tidak memperdulikannya. Hal ini lama kelamaan membuat Davika tidak bisa menahan dirinya lagi, ia benar-benar kesal bercampur sedih melihat sahabatnya dalam kondisi seperti ini, ketika menatap sosok cantiknya saat ini, Davika seakan melihat raga yang kosong tanpa jiwa. Benar-benar rapuh...
Plak!
Davika tiba-tiba menampar pipi Ana dengan sangat keras hingga posisi tubuh Ana sedikit goyah karenanya, bukan hanya Ana, bahkan Andeline pun terkejut melihat hal ekstrim yang dilakukan oleh Davika saat ini,
__ADS_1
“Kamu brengsek Ana! kenapa kamu malah berubah menjadi seperti mayat hidup tanpa jiwa begini?! Kemana Ana yang aku kenal?! Kemana orang yang selalu memberontak dan keras kepala itu?! Kenapa sekarang hanya ada orang menyedihkan ini di depan mataku huh?!” teriak Davika meluapkan seluruh emosinya, air matanya mengalir deras di pipinya seakan ia yang merasakan sakitnya tamparan itu, ia menangis sesenggukan karena merasa frustasi melihat keadaan Ana beberapa hari ini dan ia tidak dapat melakukan apapun untuk sahabatnya ini,
Ana meraba pipinya yang terasa perih akibat tamparan itu dan air matanya pun ikut mengalir melihat Davika menangis sesenggukan di depannya saat ini, lalu ia melangkah mendekati Davika lalu memeluk tubuh ramping sahabatnya itu sambil berkata,
“Maafkan aku Dav... maafkan aku...” lirih Ana sambil menitihkan air matanya, mereka terus menangis hingga baju mereka berdua pun basah karena air mata,
“Kalian berdua memang menyebalkan” gerutu Andeline yang ikut terbawa suasana lalu ia bergabung dalam acara peluk-pelukan itu secara sukarela,
Setelah beberapa lama, mereka tampak sudah mulai menenangkan dirinya masing-masing... Ana tersenyum karena dengan bantuan kedua sahabatnya ini ia bisa meluapkan seluruh emosinya hingga hatinya sedikit terasa lebih baik sekarang dan pikirannya pun menjadi lebih jernih saat ini,
“Ana... mungkin ini memang sulit karena bajingan bodoh itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padamu ketika kamu sudah menyerahkan hatimu pada, tapi ingatlah bahwa hidupmu tidak berakhir begitu saja karenanya... Kamu harus kembali bangkit dan buktikan bahwa dia telah mengambil keputusan yang salah! buktikan bahwa kamu adalah berlian yang telah ia sia-siakan!” ujar Davika dengan penuh semangat yang membara,
“Ya Ana... Jangan terpuruk lagi, kamu harus bangkit dan segera menyiapkan semua hal untuk ujian akhir beberapa hari lagi, namamu sudah terlanjur terdaftar 1 semester lebih cepat untuk melakukan ujian akhir jadi jangan buang kesempatan ini” ujar Andeline mengingatkan bahwa masih ada ujian yang menunggunya beberapa hari lagi dan Ana belum mempersiapkan apapun untuk itu, gelar yang akan tersemat di belakang namanya yang dipertaruhkan di ujian itu,
***
Hari demi hari berlalu dengan penuh kesibukan bagi Ana dan kedua sahabatnya itu, mengurus dokumen yang diperlukan untuk ujian, materi presentasi ujian dan berbagai keperluan izin dari kampusnya ia selesai dengan kecepatan tercepat yang ia bisa dengan bantuan Davika dan Andeline tentunya, dalam segi materi yang harus ia presentasi pada ujian akhir nantinya Ana tidak begitu kesulitan karena Art telah mengajarinya banyak hal untuk menyelesaikan berbagai kasus. Namun inilah yang membuatnya kesulitan karena ketika ia mengingat kembali pengetahuan itu maka ia otomatis juga akan mengingat Art yang dengan sabar dan penuh cinta mengajarinya setiap prinsip dan hukum ekonomi yang tidak dapat ia pahami saat itu,
“Ini menyebalkan” gumam Ana pada dirinya sendiri
Setelah malam hari tiba, Setelah semua yang diperlukannya untuk ujian telah siap. Davika dan Andeline pun sudah pulang saat ini, Ana menatap kunci mobil di tangannya. Tampaknya ia sedang berpikir keras untuk pergi atau tidak...
__ADS_1
“Ya, aku harus kesana!” ujar Ana sambil menggenggam kunci mobilnya dengan sangat kuat dan berjalan pergi ke garasi
“Tuan, tampaknya nona Ana akan pergi keluar” ujar John pada tuan Gerald
“Biarkan saja, situasi sekarang sudah cukup aman jadi aku tidak perlu mengirim pengawal untuknya... Setidaknya putriku sudah mau keluar kamar dan menghadapi kenyataan hari ini” ujar tuan Gerald sambil melihat keluar jendela ruang kerjanya ia menatap mobil Ana yang pergi menjauh,
“Baik tuan” sahut John
Setelah 2 jam perjalanan Ana sampai di depan hotel megah yang sangat familiar baginya, hotel yang indah namun hanya bagian atasnya tapi sangat jauh berbeda 180° di bagian ruang bawah tanahnya, tempat dimana semua hal buruk mulai muncul dalam hidup Ana.
“Aku mau bertemu dengan Nicholas, katakan padanya bahwa Anastasia Geraldine menunggunya di lobby hotel” ujar Ana pada resepsionis hotel itu yang sebelumnya sudah pernah berurusan dengannya, resepsionis itupun langsung menelpon Nicholas dan menjelaskan keadaan saat ini,
“Arahkan dia ke ruang bawah tanah” perintah Nicholas pada resepsionis itu dan langsung menutup teleponnya
“Huh... Oke, hari yang melelahkan akhirnya akan dimulai ckckck” ujar Nicholas sambil memijat keningnya sendiri setelah mendengar kabar Ana telah kembali ke hotel ini,
Disisi lain,
Resepsionis itu langsung memanggil seorang petugas keamanan yang berjaga di dekatnya dan membisikkan tugas yang diberikan Nicholas tadi, lalu penjaga itu menatap Ana beberapa kali dan kembali berbicara pada resepsionis itu,
“Nona, silahkan ikuti saya” ujar penjaga itu menuntun jalan
__ADS_1
_____________________
See You Tomorrow