
HAPPY READING GUYS
________________________
Harry telah terkapar tidak berdaya di lantai dengan begitu banyak luka di tubuhnya, perlahan tapi pasti ruangan itupun dipenuhi oleh bau amis darah yang sangat khas setelah semua darah itu bereaksi dengan udara dan akhirnya terkontaminasi oleh oksigen...
Art menggunakan kakinya untuk menggerakan bahu Harry, ketika ia menggulingkan tubuh pria itu, terlihat jelas bahwa Harry sudah benar-benar tidak mampu merintih kesakitan. Suaranya seakan telah habis ia gunakan dan ia hanya bisa meringis menunggu kematian... Art mulai berjongkok dan mengeluarkan sebuah pisau lipat yang kecil namun terlihat cukup panjang dan indah, ia ingin menggunakannya untuk mengakhiri hidup Harry sekarang juga dengan menusuk jantungnya,
Akan tetapi, sebuah suara isakan lembut mengganggu rencananya tepat ketika pisau itu sudah ada di atas dada Harry dan hanya dengan satu dorongan maka semuanya akan segera berakhir...
“Hentikan... Jangan lakukan itu... Jangan...” ujar Ana sambil terisak dan tubuh rampingnya menggigil ketakutan...
Ini adalah batasnya!
Jika sekarang ia melihat secara langsung apa itu sebenarnya yang disebut dengan pembunuhan, maka traumatis yang kuat tidak akan dapat ia hindari lagi... Mentalnya sudah benar-benar ditempa dan dipaksa hingga melewati batas yang mampu ia rasakan sebelumnya ketika melihat keseluruhan penyiksaan tadi, jadi ia hanya ingin semuanya berhenti sekarang sebelum dirinya menjadi hilang kendali dan mungkin akan gila karena ribuan teror yang melintas di matanya...
“Aku lebih suka memberantas rumput sampai ke akarnya...” sahut Art dengan tatapan tajamnya, namun ketika ia menoleh kearah kekasihnya itu, ia benar-benar sadar bahwa ini adalah batasnya, ini adalah batas yang bisa Ana tanggung untuk saat ini dan jika ia memaksakan lebih jauh... Kemungkinan besar Ana akan pergi dan tidak akan ada dalam jangkauannya lagi untuk di bawa ke sisinya lagi...
“Urus dia” ujar Art kepada anak buahnya yang tampak sedikit terkejut melihat bosnya berhenti hanya sampai disini,
Hal yang paling membuat mereka tercengang adalah alasan utama bosnya ini berhenti adalah hanya karena seorang gadis cantik yang kini masih terikat di kursi layaknya seorang sandra biasa memintanya untuk berhenti...
“Gadis ini pasti sangat berharga” gumam mereka semua dalam hatinya, sambil diam-diam mengingat wajahnya dan juga perawakan gadis ini agar suatu hari mereka tidak akan mengusiknya secara tidak sengaja,
__ADS_1
“Kita akan kembali ke kamar hotel sekarang” ucap Art saat mengelus pipi mulus Ana yang sudah dibasahi oleh air matanya,
“Berhentilah menangis Oke?” pinta Art sembari tangannya dengan cekatan membuka semua ikatan di tangan Ana dan juga di kursi itu,
“Aku mual...” ucap Ana dengan suara yang sangat kecil sambil menutup mulut dan hidungnya ketika tangannya sudah terlepas,
“Ayo pergi...” sahut Art sambil memegang tangan kekasihnya dengan lembut,
Disepanjang jalan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Ana, wajahnya masih terlihat sangat pucat sekarang. Sesekali Art meliriknya untuk mengamati situasinya, namun sepertinya Ana sudah terlalu tertekan...
Wajahnya pucat, pandangan matanya sedikit tidak fokus, dan tangannya yang tidak membalas genggaman tangan Art telah menunjukkan dengan jelas kalau dirinya masih sangat terguncang meski telah meninggalkan ruangan itu,
Sesampainya di kamar, Art membawanya ke sebuah sofa dan mereka berdua pun duduk disana,
Hanya mereka berdua yang ada di kamar ini sekarang dan keheningan pun tidak dapat dihindarkan untuk sesaat...
“Sangat” sahut Ana singkat,
“Maafkan aku karena lepas kendali... Aku sangat marah ketika tahu dia yang menyuruh beberapa penjahat untuk mencoba mencelakaimu dulu, ketika di basemen, di taman, dan juga di mall hanya untuk bisa mendekatimu... Aku awalnya mengira itu adalah ulah Mad Dog secara keseluruhan, tapi ternyata ada faktor lain di luar musuh...” ujar Art dengan wajah yang suram karena menahan aura kejamnya agar tidak mempengaruhi keadaan Ana lagi,
“Huh?” Ana masih sedikit bereaksi meskipun tatapannya masih agak sedikit kosong,
“Dia yang mengirim beberapa penjahat?” tanya Ana dengan suara tercekat seakan baru saja ada sebuah bom waktu yang di pasang di dadanya, jantungnya berdetak semakin kencang setelah mendengar semua ini,
__ADS_1
“Apa... Apa dia... yang... Dulu memasang bom di mobil juga?” tanya Ana dengan tangan yang bergetar,
Banyak adegan yang kembali terlintas di benaknya, segala mara bahaya yang mengancam hidupnya dari waktu ke waktu... Terlebih lagi kenangan dimana mobilnya dipasang bom bukan hanya sekali tetapi sudah 2 kali!
“Untuk kasus itu aku rasa tidak... Dia tidak akan memiliki akses ke penjual/perakit bom dengan mudah sayang... Dia tidak bisa, dan itu jelas rencana jahat Mad Dog...” sahut Art sambil mengelus kepala Ana,
“Siapa Mad Dog?” tanya Ana tanpa berpikir karena pikirannya terasa keram mendengar informasi yang baru saja ia dengar,
Bagaimana mungkin ada orang yang tidak akan terkejut jika orang terdekat mereka ternyata adalah orang yang paling jahat dan telah membahayakan hidupnya... Terlebih lagi Ana bahkan pernah menerima orang seperti itu menjadi pacarnya, menjadi orang yang ia harapkan untuk bisa membantunya mengobati luka di hatinya, tanpa tahu sifat aslinya karena ia hanya tahu kalau Harry adalah anak dari kenalan bisnis papanya...
“Sudah lah... Jangan pikirkan itu lagi, pikiran dan tubuhmu sudah terlalu lelah sekarang ini... Lebih baik kamu mandi dulu Oke?” ujar Art lagi sambil menuntun Ana menuju kamar mandi,
Ana tampak begitu layu dan lemah, sementara matanya cukup menerawang jauh... Sepertinya ia masih belum mampu dengan cepat mengatasi segala macam hal yang terjadi hari ini yang tentu saja sangat menekan mentalnya hingga ke titik terbawah...
“Maafkan aku” ucap Art ketika mereka sampai di depan pintu kamar mandi,
“Aku seharusnya tidak memaksakan hal ini... Mungkin kamu memang tidak di takdirkan untuk ini...” ujar Art mencoba mengatakan semua yang menjadi beban di hatinya sejak meninggalkan ruangan tempat ia menghajar Harry,
Sebetulnya ia juga baru tahu tentang informasi bahwa dalam beberapa kasus sebelumnya Harry lah yang menjadi dalangnya bukan anak buah dari Mad Dog, ini membuktikan bahwa ia masih menjadi seorang pria yang sangat naif dan belum mampu untuk sepenuhnya menanggung beban menjadi ketua SDG yang sesungguhnya...
Ada satu sudut dalam hatinya yang mengatakan untuk melepaskan Ana karena jika ia masih bersikeras untuk memaksakan keinginannya dan mengikat Ana agar tetap ada di sampingnya maka ia hanya akan memberikan ketakutan dan juga penderitaan di setiap harinya...
Art tidak pernah mengira bahwa jatuh cinta akan menjadi sesulit dan se kompleks ini untuk dihadapi... Ia benar-benar bimbang dan mengatakan semua itu meskipun di dalam hatinya terasa sangat sakit meskipun tidak ada luka fisik...
__ADS_1
______________________
Kasi komentar atau kesan kalian sama isi novelnya 😉😁🥂