
HAPPY READING GUYS
________________________
Ana yang sudah siap mengikuti Art untuk pergi ke suatu tempat yang belum dijelaskan secara padanya oleh kekasihnya itu, untuk sekali lagi ia menatap pantulan dirinya yang tampak begitu cantik dengan pakaian casual yang kini melekat pada tubuhnya serta disempurnakan oleh sapuan tipis make up yang diberikan oleh calon adik iparnya ini menambah kecantikannya menjadi semakin sempurna hari ini...
"Kakakku memang memiliki selera yang tinggi ya... Lihatlah betapa cantiknya calon kakak iparku ini... Luar biasa! " Puji Pim sambil menatap Ana dari ujung kepala hingga ujung kakinya...
Beruntungnya lagi adalah ketika pakaian yang mereka berdua gunakan memiliki size yang sama maka Pim dapat memilih dan memadukan pakaian yang paling cocok untuk Ana dari seluruh koleksi pakaian yang ia punya di dalam lemari bajunya di kamar ini...
Ingin sekali ia membuat Ana mencoba gaun-gaun terbaik yang ia punya, namun semua keinginan itu harus ia urungkan setelah mendengar bahwa kakaknya akan mengajak kekasihnya ini ke Downtown New York City menggunakan motornya... Karena alasan itulah ia mengurungkan niatnya, tidak lucu kan jika gaun-gaun indahnya yang tentunya sangat mahal itu digunakan untuk berboncengan di atas motor yang Pim tahu dengan sangat pasti tidak akan melaju dengan kecepatan standar yang terbilang pelan sesuai dengan standar orang di jalan raya pada umumnya, ditambah lagi dengan dikendarai oleh kakak kesayangannya itu...
Sungguh, motor itu tidak akan pernah melaju dengan pelan-pelan asal selamat...
"Ah, ya... Pim, apa kamu punya jaket? Tadi kakakmu menyuruhku untuk memakai jaket juga... " Tanya Ana sambil menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan melihat detail apakah ada sesuatu yang kurang dari penampilannya hari ini,
Ia benar-benar ingin tampil sempurna karena tidak dapat menebak apakah hari ini akan menjadi salah satu kencannya dengan Art yang menyenangkan ataukah akan menjadi semacam studytour pengenalan kehidupan dan sejarah seseorang Arthit yang masih misterius ini?
Maka dari itu ia setuju untuk menggunakan pakaian casual yang tengah ia pakai saat ini, yang tentunya akan memudahkannya untuk bergerak cepat jika memang diperlukan nantinya seandainya jika terjadi suatu situasi yang diluar perkiraan dan diluar kendali mereka nantinya...
"Tentu kak, aku punya banyak... Ah, ya aku ingat sesuatu... " Sahut Pim sambil tersenyum manis dan berlari kearah salah satu lemari pakaiannya, tak lama ia lalu mengeluarkan sebuah jaket kulit hitam model untuk wanita yang terlihat keren...
__ADS_1
"Gunakan ini maka,.... " Ujar Pim menyerahkan jaket kulit itu pada Ana lalu melanjutkan apa yang ingin ia katakan lewat bisikan pada Ana, hingga akhirnya mereka berdua sama-sama terkekeh pelan khas dari gadis-gadis yang terhibur setelah membicarakan gosip terkini yang sedang populer...
Dengan perlahan namun pasti, Ana mulai menyesuaikan dirinya dengan segala situasi dan kondisi yang terkadang bisa berubah menjadi begitu ekstrim dan brutal yang sering ia hadapi akhir-akhir ini, tentunya ia juga harus betul-betul menyiapkan mental dan fisiknya jika ia benar-benar bertekad untuk mencintai Art dan juga siap menjadi istri dari pria yang notabene adalah calon ahli waris kelompok mafia yang disegani oleh banyak pihak itu...
Karena tidak hanya sebagian hidupnya yang akan berubah akan tetapi seluruh hidupnya akan berubah total mulai dari nama belakangnya sampai ke setiap detail kecil setiap hal yang bisa dan tidak bisa ia lakukan kelak pasti akan sangat jauh berbeda dari sebelumnya...
***
Di halaman depan mansion megah itu, suara motor yang Art naiki mulai menggema sembari menunggu kekasihnya datang, dan betapa terpesona nya ia ketika melihat Ana keluar dengan penampilan yang simpel namun begitu menawan, kemudian setelah ia memperhatikan lebih detail lagi...
Ada sesuatu yang berbeda,
Ana menggunakan jaket kulit yang sama dengan yang kini sedang Art gunakan, padahal seharusnya jaket kulit yang kini sedang Ana gunakan tidak akan pernah keluar dari dalam lemari penyimpanannya karena jaket itu adalah salah satu benda kesayangan Pim yang tak seorang pun ia izinkan untuk menyentuhnya karena itu adalah hadiah ulang tahun dari Art, tentunya setelah ratusan rengekan dan drama yang ia mainkan agar kakaknya ini mau membeli sepasang pakaian couple dengan dirinya, karena pria seperti ayahnya dan juga kakaknya ini tidak akan pernah mau berurusan dengan pakaian sehingga tak jarang pakaian yang mereka kenakan selalu senada dan kadang terkesan monoton...
"Pim yang memberikannya padaku tadi... " sahut Ana sambil tersenyum manis
"Oo... Benarkah? padahal ini adalah salah satu benda kesayangannya, biasanya para pelayan di rumah ini akan langsung di pecat jika sampai ada sedikitpun debu yang menempel pada jaket ini... hahaha" ujar Art setelah selesai memasangkan pengait helm Ana,
"Benarkah? lalu mengapa ia memberikannya padaku hanya agar kita mengenakan jaket couple? benarkah ini sangat berharga baginya? " tanya Ana
"Tentu... tapi adikku itu gadis yang sangat pintar, cerdik dan terkadang licik... tapi dengan pembuktian ini aku bisa yakinkan bahwa ia telah berharap lebih padamu sayang... dia telah menempatkan dirimu di atas semua barang-barang yang ia sayangi... berarti juga aku telah mendapatkan lampu hijau dari dirinya... hahaha..." sahut Art sambil tertawa senang,
__ADS_1
"lampu hijau?" tanya Ana bingung
"apa sebaiknya kita segera menikah sayang? aku rasa semua nya sudah setuju dan sangat mendukung hubungan kita ini... hanya menunggu kata ya dari dirimu..." sahut Art yang sukses membuat wajah Ana merona merah, untungnya ia telah memakai helm itu hingga semua itu dapat tersamarkan,
"Jangan bercanda..." sahut Ana malu-malu,
"kenapa setiap aku mengatakan tentang pernikahan responmu selalu sama sayang? kamu pikir aku bercanda?" tanya Art sambil terkekeh pelan,
"karena kamu tidak pernah melamarku dengan serius! kenapa hanya dengan kata-kata bukan dengan tindakan langsung?!" gerutu Ana dalam hatinya,
"Ayo kita berangkat, pegangan yang erat" ujar Art ketika Ana sudah naik di motor yang ia gunakan saat ini,
"oke" sahut Ana sambil mengeratkan pelukannya di pinggang kekasihnya itu,
Art langsung memacu kendaraannya meninggal mansion megah milik keluarganya ini, memulai sesuatu yang belum dapat dipastikan bagaimana akhirnya... karena di setiap perjalanan nantinya mungkin akan membuat Ana marah, kecewa, sedih, senang, dan bahagia... Tidak ada yang tahu bagaimana ini akan berakhir, yang bisa seorang Arthit lakukan hanyalah bertaruh... Bertaruh segalanya untuk cinta dan masa depannya...
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
vote like dan komentarnya guys...
__ADS_1
kasi rating juga karyanya Author ya...