
HAPPY READING GUYS
________________________
"Aku rasa aku sudah bisa mengingat beberapa sayang... Ternyata ini lebih melelahkan daripada olahraga lainnya... " Sahut Ana sambil tersenyum senang dengan napas yang berhembus cepat...
"Sekarang atur napasmu sebentar, lalu kita mulai latihan sparring partner... " Ujar Art sambil melangkahkan kakinya kearah sebuah lemari kayu jati yang berisikan begitu banyak laci...
Sebelum itu, Art mengelap katananya hingga bersih lalu memasangkannya dengan sarung pelindung katananya lagi sebelum memajangnya lagi...
Setelah selesai, tangan Art menarik laci kedua dari yang terbawah dan mengambil 2 buah pedang samurai yang terbuat dari kayu di sana... Lalu Art membawanya sambil menghampiri Ana yang tampak sedang minum dipinggiran matras latihan itu...
"Gunakan ini... " Ujar Art sambil memberikan sebuah pedang yang terbuat full dari kayu pada Ana,
"Kenapa kita tidak menggunakan pedang sungguhan?" Tanya Ana sedikit tidak puas karena Art memberikannya sebuah pedang kayu untuk latihan sparing sedangkan tadi ia bisa menggunakan pedang sungguhan hanya untuk latihan gerakan-gerakan dasarnya...
"Apa kamu sudah siap tersayat pedang sayang? Apa dirimu sudah terbiasa tersayat pisau? cukup sakit loh..." Tanya Art dengan serius sambil memasang kuda-kudanya dan tersenyum menyeringai,
"Tidak! " Sahut Ana bergidik ngeri membayangkan jika pedang setajam itu menyayat kulitnya yang mulus ini...
"Maka dari itu biasakan menggunakan pedang ini dulu dan pelajari semua gerakannya dengan sempurna setelah itu baru kamu boleh mencoba menggunakan pedang sungguhan untuk sparring partner denganku" Sahut Art dengan wajah seriusnya,
__ADS_1
Dua puluh menit telah berlalu, entah sudah berapa kali gerakan Ana dipatahkan oleh Art... Beberapa kali juga Ana bahkan sampai jatuh terduduk karena tidak mampu menahan kuatnya serangan balik yang coba Art ajarkan dengan serius padanya... Dan entah ia sadari atau tidak... Entah sejak kapan sifat manja seorang putri tunggal keluarga Geraldine ini benar-benar hilang dari dalam dirinya...
Ana sudah mulai berubah menjadi seorang gadis yang gigih dan penuh semangat, bukan gadis manja yang pernah ada sebelum KJ datang ke dalam kehidupannya di New York ini... Semua sifat manja itu seakan menguap perlahan dan menghilang sepenuhnya tanpa jejak sedikit pun...
Ternyata sebuah kutipan kata tentang orang mampu berubah sifatnya karena seseorang yang spesial benar-benar terbukti hari ini... Jika ada seseorang yang benar-benar memiliki tempat dan makna yang mendalam di dalam hatimu maka orang itulah yang mungkin memiliki kemampuan untuk merubah apapun sifat dan kelakuan yang mungkin bersifat negatif pada dirimu...
***
Setelah berlatih hampir 2 setengah jam lamanya, Ana menjatuhkan dirinya di atas matras ruang latihan itu... Merentangkan tubuhnya yang sudah basah oleh keringat dan juga deru napas yang begitu cepat, tubuh ramping nan ideal Ana belum pernah se-lelah ini sebelumnya...
Melihat kekasihnya sudah tidak mampu lagi mengikuti ritme latihan yang ia berikan, akhirnya Art memutuskan untuk menyudahi seluruh latihannya hari ini...
Ana melirik Art sekilas, ada sedikit keringat yang juga membasahi dahi, bahu dan juga lengannya... Tapi tidakkah semua latihan yang mereka lakukan secara intens tadi itu mampu membuat Art kelelahan sama seperti dirinya saat ini? kenapa hanya Ana yang nampak begitu kelelahan sekarang?
Sebenarnya seberapa kuat stamina yang pria ini miliki?
Ana tidak dapat memikirkan bagaimana jika seorang gadis biasa yang mendapatkan latihan seketat tadi... Bisa-bisa tulang mereka akan remuk jika baru berlatih seni bela diri tapi sudah pada standar yang cukup tinggi seperti ini... Beruntungnya Ana sudah sering berolahraga dan juga berlatih dance yang membuat kelenturan tubuh dan staminanya meningkat hingga setidaknya ia tidak pingsan setelah semua latihan itu...
Ya, walaupun itu belum cukup mampu untuk setidaknya mengimbangi setengah dari kekuatan kekasihnya yang kini duduk santai di sampingnya sembari menarik pedang kayu yang masih ia pedang...
"Kenapa sepertinya kamu tidak lelah sayang? Apa aku yang terlalu lemah atau kamu yang memiliki stamina yang terlalu ekstrim? " Tanya Ana sambil tersengal-sengal kelelahan,
__ADS_1
"Aku? Sayang... Bahkan jika kita berlatih selama 4 jam penuh aku masih punya cukup tenaga untuk melakukan hal lainnya... " Sahut Art sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri, sementara Ana hanya cemberut menanggapinya...
Melihat wajah imut dan menggemaskan itu cemberut membuat Art terkekeh geli ingin sekali rasanya ia mencium bibir yang cemberut itu saat ini juga...
"Kamu tidak perlu cemberut begitu... Aku bisa seperti sekarang ini juga bukanlah suatu proses yang instan sayang... Aku sudah berlatih sejak umurku baru 7 tahun, masa mudaku sebagai seorang tuan muda dari kelompok mafia yang besar membuatku tidak pernah bersekolah formal, setiap hari aku selalu belajar dari guru privat dan setelah itu aku bisa latihan dan mempelajari apapun sesuka hatiku karena tidak pernah ada yang namanya PR dalam hidupku... Tapi karena ayah sekaligus guruku adalah orang sekaliber Kim Hans Suppanad maka aku pasti bisa menjadi sekuat dan sepintar dirinya... Kemungkinan terburuknya adalah aku hanya bisa mencapai setengah dari kemampuan yang ayahku miliki jika aku bermalas-malasan... " Ujar Art sambil menatap Ana yang memperhatikan dirinya dengan sangat lekat dan penuh minat dengan apa yang ia sampaikan barusan...
"Tapi itu tidak mungkin terjadi, kenapa? Karena bagiku ayahku adalah idolaku yang luar biasa... Bahkan rasanya aku tidak akan mampu hidup tanpa dirinya... Karena dirinyalah aku bisa seperti saat ini... Dan apa kamu percaya jika aku mengatakan bahwa aku belajar menembak pada usiaku yang kurang lebih baru 5 tahun? Apakah kamu percaya jika aku mengatakan bahwa aku sudah pernah melubangi dada dan paha seseorang di usia yang sekecil itu?" Tanya Art sambil tersenyum lebar, ia mulai mencoba membuka tentang bagaimana dan siapa dirinya pada Ana secara perlahan...
"Bagaimana mungkin? Jangan bercanda! Anak kecil tidak akan mampu menahan hentakan dari senjata api dengan tangan mungilnya... " Ujar Ana tidak percaya sambil bangun dan duduk dengan posisi yang sama seperti Art saat ini,
"Ya... Itu memang tidak mungkin, tapi itu bisa ku lakukan dengan bantuan ayah dan kepercayaan penuh yang ia berikan pada anaknya yang masih berusia sekecil itu... Dan akibat dari banyaknya hentakan keras yang dihasilkan pistol itu, kepala bagian belakang ayahku sampai terluka dan mengeluarkan darah..." Sahut Art dengan santainya,
"Bagian belakang kepala paman? Tunggu-tunggu... Bagaimana caramu menembak memangnya? Kenapa yang terluka adalah kepala paman? Bukankah dia seharusnya bisa mengarahkan tembakanmu dengan tangannya?" Tanya Ana yang semakin penasaran akan cerita masa kecil kekasihnya ini,
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...
__ADS_1