
HAPPY READING GUYS
________________________
"A-apa yang mau kau lakukan?! Sayang... Jangan bercanda dan berbuat yang aneh-aneh, apa kamu tidak takut aku laporkan pada paman?!" Ujar Ana berusaha sedikit mengancam walaupun ia sedang sangat gugup akibat kelakuan dari kekasihnya ini...
"Mengancam ku atas nama ayah? Ooh sayangnya selain dia menyayangimu sebagai keponakannya, ia juga sangat mendukung putranya ini untuk menjadikanmu sebagai menantunya loh... Jadi hmmm... Haruskah aku memaksamu menikahiku dengan cara seperti ini?" Sahut Art sambil sambil tersenyum penuh arti, memangnya siapa yang bisa mengancam seorang Arthit Hans Suppanad? Karena dialah yang selalu mengancam orang Hahaha...
"K-kamu..." Ujar Ana gugup lalu dengan cepat Art mengecup tengkuk Ana pelan, namun ia tak meninggalkan jejak di sana... Ia hanya mengecupnya, hanya sekedar kecupan yang mampu membuat Ana menutup matanya rapat-rapat karena begitu gugup memikirkan apa yang ingin Art lakukan padanya saat ini, selain itu... Hanya dengan kecupan ringan itu saja sudah membuat darahnya berdesir hebat...
Lalu ciuman Art mendarat di keningnya, ciuman yang lembut dan menenangkan seperti biasanya...
Ana membuka matanya pelan dan yang pertama kali ia lihat adalah senyum jahil dari kekasihnya ini... Ia tidak benar-benar mau melakukan sesuatu hal yang lebih untuk membuat Ana menjadi miliknya seutuhnya... Melihat Art yang tersenyum sambil menahan tawanya seperti itu, yang seolah-olah sedang mengejek Ana yang terlalu khawatir dengan apa yang akan ia lakukan sedari tadi,
"Apa kamu takut kalau aku melakukan hal yang lebih jauh lagi sayang?" Bisik Art tepat di telinga Ana dengan nada yang sangat menggoda,
"Diam atau aku akan pulang!" Sahut Ana yang kesal karena merasa dipermainkan 2 kali hari ini oleh kekasihnya,
"Hey! Jangan, jangan... Baiklah, mari kita mulai latihannya saja Oke? Jangan pulang... Setidaknya sebulan " Ujar Art sambil menarik tangan Ana mengajaknya segera melakukan pemanasan sebelum berlatih seni beladiri dengannya...
__ADS_1
"Sebulan?! Apa kamu gila? Bagaimana dengan kuliahku?! " Sahut Ana karena ia ingat akan statusnya yang masih belum lulus dari kampus tempatnya menuntut ilmu dan mencari gelar sarjana itu...
"Itu adalah hal yang sangat sepele sayangku... Selama kamu bersamaku dan belajar semua materi yang aku ajarkan tidak akan ada yang berani mempertanyakan kemampuanmu sayang... Bahkan dosen killermu itu akan sangat setuju untuk memberikanmu izin langsung melakukan sidang ujian kelulusan... Strata 1 hanyalah formalitas belaka..." Sahut Art dengan entengnya,
"Benarkah? Bagaimana kamu bisa yakin? Ini adalah institusi pendidikan formal ternama di New York City, memangnya kamu siapa hingga mereka mau menuruti apa yang kamu inginkan? Tidakkah kamu paham bahwa sistem pendidikan di negara ini adalah yang paling independen dan tak terpengaruh oleh sistem politik apapun? " Tanya Ana yang sama sekali tidak mempercayai apa yang Art katakan...
Menjadi orang yang terpelajar bukanlah hanya sekedar gelar yang tersemat selamanya di belakang nama seseorang... Melainkan memiliki kemampuan untuk dihormati oleh masyarakat dan juga orang-orang sekitar serta mampu menjadi seorang manusia yang bermanfaat di tengah-tengah lingkungannya minimal, bukan hanya sekedar gelar yang akan dijual untuk mencari pekerjaan dan melupakan taraf lingkungan sosial yang sehat...
"Independen? Ya... Amerika Serikat tempatmu tumbuh dan berkembang ini bisa menjadi salah satu negara dengan sistem pendidikan yang terbaik di dunia juga karena hal itu... Independensi yang kental memang harus diterapkan jika ingin menghasilkan anak didik yang terbaik... Tapi disisi lain tidakkah terpikir dalam benakmu bagaimana aku bisa se-percaya diri ini mengatakan semua itu sayang?" Sahut Art yang balik bertanya, namun belum sempat Ana menyahutinya Art sudah kembali berbicara ketika melihat Ana mengerutkan keningnya berpikir tentang apa yang ia katakan barusan...
"Dengan tingkat independensi yang setinggi itu maka bagi seseorang yang ada di dalam lingkaran lingkungan itu, siapapun dengan ilmu kemampuan yang lebih tinggi akan bisa melakukan apapun yang mereka inginkan selama itu berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang selalu mereka junjung tinggi... Ilmu pengetahuan di atas senioritas dan latar belakang keluarga... Kaya miskin tidak akan pernah masuk dalam hitungan, karena yang terpenting adalah otak seseorang..." Ujar Art sambil menarik pedang samurai miliknya dari sarung pelindungnya, mengarahkan pedang panjang dan tajam itu tepat kearah Ana...
Menempatkan tangannya yang tengah memegang pedang itu di pinggang ramping kekasihnya ini, sementara kepalanya menelusup diantara tengkuk dan bahu kiri Ana... Tubuh mereka berdua benar-benar menempel hingga seakan-akan udara pun tidak akan memiliki tempat di sana...
"Kamu sangat menyukai pedang milikku ini kan? Maka aku akan melatihmu untuk memainkannya... " Ujar Art dengan lembut di telinga Ana, sebuah bisikan yang akan terdengar ambigu jika diucapkan di tempat lain tentunya...
Ana hanya mengangguk setuju lalu mereka melanjutkan sesi latihan ini,
Bermain pedang? Hmmm... Memang sudah sangat lama Ana merasa penasaran bagaimana rasanya memegang dan memainkan pedang yang asli,
__ADS_1
"Ternyata cukup berat... " Gumam Ana pelan ketika pedang panjang itu beralih ke tangannya yang kini juga di genggam oleh Art,
"Tentu saja sayang... Karena ini adalah pedang ku, pedang ini dibuat secara khusus dengan begitu banyak campuran besi dan material lainnya hingga tercipta pedang se-ideal dan sekuat ini... " Sahut Art sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Ana untuk menuntunnya belajar gerakan-gerakan dasar dalam permainan pedang...
"Bersiaplah, kita mulai latihannya" Ujar Art
"Oke" Sahut Ana dengan mantap dan bersemangat
"Haaaa... Huup... Haaa..." Suara mereka berdua bersautan seiring dengan gerakan-gerakan yang terus Art ajarkan pada Ana...
Sejauh ini, Art belum pernah menikmati sesi latihan yang se-menyenangkan ini... Tentu saja sangat menyenangkan bagaimana tidak? Selama latihan ini berlangsung ia dapat memeluk tubuh kekasihnya, mencium wangi tubuh kekasihnya yang begitu memabukan ini... Selain itu setelah beberapa menit berlatih, tubuh mereka yang sudah mulai berlumuran keringat setelah berlatih pedang bersama membuat pelukan itu terasa sedikit lengket dan mengacaukan konsentrasi dari Art karena pikirannya tidak dapat fokus pada poin untuk melatih Ana bermain pedang tanpa memikirkan hal lain diluar semua itu, sementara Ana masih sangat bersemangat untuk mencoba berbagai gerakan pedang itu tanpa memperdulikan apapun lagi, ia bahkan tidak merasa risih walaupun berkeringat cukup banyak hari ini...
"Hmmm... Aku rasa kamu sudah mulai bisa mengingat beberapa gerakannya kan sayang?" Tanya Art pada Ana sambil melepaskan pelukannya dari belakang untuk menjaga pikirannya tetap lurus dan waras saat ini,
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
vote like dan komentarnya guys...
__ADS_1
kasi rating juga karyanya Author ya...