
HAPPY READING GUYS
________________________
Setelah Ana setuju untuk pergi bersama Art walaupun dengan sedikit enggan karena masih merasa kesal pada kekasihnya, langkah kaki mereka berdua akhirnya berhenti di sebuah bangunan cukup besar di belakang mansion milik keluarga Hans Suppanad ini...
Lokasinya tidak terlalu jauh dengan tempat mereka berciuman malam tadi membuat Ana sedikit malu saat sekilas bayangan malam itu kembali terlintas di dalam benaknya,
Saat memasuki pintu gedung itu, mata Ana mulai meneliti semua isi dan peralatan yang ada di dalamnya...
Ini adalah sebuah ruang latihan dimana alat fitnes, gelanggang tinju, matras karate, lemari besar yang dipenuhi dengan body protector dan kelengkapan alat olah raga lainnya tersusun sangat rapi, lalu ada sebuah kabinet putih yang memajang sebuah pedang panjang dengan sebuah lampu khusus yang menyinarinya dari bagian atasnya membuat pedang itu terlihat begitu mewah dan berkelas...
Tentu saja perhatian Ana dapat teralihkan oleh pedang itu karena pedang itu adalah katana, pedang panjang yang digunakan oleh para samurai untuk menebas lawannya seperti di film-film aksi Jepang yang pernah Ana tonton sebelumnya...
Melihat Ana begitu tertarik pada pedang samurainya, Art tersenyum karena menyadari ada sedikit celah yang cukup baik untuk segera berbaikan dengan kekasihnya ini...
"Itu adalah pedang samuraiku, pedang itu disebut katana... Senjata yang umum digunakan oleh para samurai di Jepang sekitar zaman Endo sampai sekarang..." Ujar Art pada Ana yang nampak masih asik melihat pedang samurainya itu,
"Hmmm... Begitu..." Sahut Ana sambil menyentuh pedang yang begitu indah di depan matanya ini...
"Ehmmm... Sebenarnya siapapun yang berani menyentuh dan tersentuh oleh pedang ini selain keluargaku tidak pernah ada yang bisa kembali hidup-hidup loh..." Ujar Art sedikit memasang senyuman ngeri di wajahnya walaupun sebenarnya ia hanya pura-pura tersenyum seperti itu pada Ana, namun apa yang ia katakan tentang tidak ada satupun yang dapat kembali hidup-hidup setelah berhadapan dengan pedangnya itu memanglah sebuah fakta yang tak terbantahkan...
Mendengar hal itu membuat Ana langsung menarik tangannya dengan sangat cepat dan memanyunkan bibirnya kesal bercampur takut sebelum ia kembali bertanya pada Art,
"Kenapa? Apa ada sebuah kutukan di pedang ini seperti di film-film?" Tanya Ana dengan polosnya,
__ADS_1
"Hahaha... Tidak-tidak... " Sahut Art sambil tertawa lepas, lalu mendekatkan wajahnya pada Ana dan berbisik,
"Saat aku menebaskan pedang itu pada siapapun, maka targetnya pasti akan mati... Sampai saat ini belum ada yang pernah bisa selamat... " Bisik Art membuat Ana bergidik ngeri mendengarnya,
Cuuppphh,
"Tapi kamu kan sebentar lagi akan menjadi keluargaku juga... Jadi kamu tidak perlu takut dan jangan pernah takut pada hal-hal seperti ini, karena aku pasti akan melindungi dan melatih istriku menjadi wanita yang kuat seperti ibuku..." Ujar Art setelah berhasil mencuri ciuman dari bibir Ana dengan begitu cepat hingga membuatnya merona malu karenanya,
"Kamu apa-apaan sayang?! Aku masih marah padamu! Memangnya siapa yang mengizinkanmu untuk mencium ku!" Gerutu Ana sambil mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan bahwa ia sedang merona saat ini,
"Hehehe... Baiklah sayangku, tapi Ana dengarkan aku sekarang... Setelah hari ini berlalu maka aku akan membawamu ke berbagai tempat yang belum pernah kamu lihat sebelumnya, aku akan mengubah jadwal-jadwalnya dan akan mengenalkan diriku yang seutuhnya padamu..." Ujar Art dengan serius dan ia tidak lagi tertawa membuat Ana menoleh kearahnya karena merasakan bahwa ini adalah hal serius yang sedang ingin kekasihnya ini bicarakan padanya...
"Apa aku masih belum mengenalmu dengan baik sekarang?" Tanya Ana pelan, ada sedikit rasa khawatir di dalam dirinya...
Sebelumnya ia tidak bisa menerima kebenaran bahwa Art adalah seorang mafia, lalu sekarang apa lagi yang harus ia ketahui tentang kekasihnya yang sangat misterius ini? Apa bagian dari dirinya yang belum Ana ketahui?
"Apa? Apa yang tidak aku ketahui tentang dirimu? Jelaskan padaku Art... " Ujar Ana sambil mencengkram kerahasiaan baju kekasihnya dengan tangannya yang sedikit bergetar karena cemas akan apa yang sebenarnya belum ia ketahui tentang kekasihnya ini...
"Sayang... " Ujar Art dengan lembut sambil menggenggam kedua tangan Ana yang mencengkram kerah bajunya dengan sangat lembut, lalu perlahan menariknya dan mengecup punggung tangannya pelan,
"Semua tentang diriku tidak dapat didefinisikan hanya dengan kata-kata sayang... Kamu harus melihatnya secara langsung baru akan paham dengan apa, siapa dan bagaimana aku di luar sana terpecah menjadi begitu banyak bagian..." Ujar Art setelah mengecup tangan Ana dengan lembut,
"Aku hanya perlu kamu percaya sepenuhnya padaku... Itu saja sudah cukup untukku saat ini... Jika kamu mau maka peluklah aku..." Ujar Art sambil melepaskan tangan Ana lalu merentangkan tangannya menunggu Ana datang ke pelukannya,
Ana terdiam sambil menatap mata Art seakan mencari keyakinan dirinya di dalam tatapan mata teduh Art yang sangat ia cintai ini...
__ADS_1
Greeeppp...
Beberapa detik kemudian Ana memeluk Art dengan sangat kuat, sekuat usahanya untuk selalu yakin dan percaya kepada kekasihnya ini... Seberapa gelapnya rahasia yang belum ia ketahui saat ini akan berusaha ia pahami dan terima dengan setulus hatinya...
"Pacarku yang baik..." Ujar Art sambil mengecup pucuk kepala Ana dengan senang karena mereka telah berbaikan dan juga Ana telah memutuskan untuk percaya sepenuhnya pada dirinya terlepas dari apapun yang akan ia lihat nantinya di berbagai tempat yang bahkan mungkin tidak akan pernah terbayangkan di dalam pikirannya untuk dapat melangkahkan kakinya ke sana...
"Sekarang ganti pakaianmu dengan pakaian olahraga raga, kita akan sedikit merenggangkan otot hari ini... " Ujar Art memberikan perintahnya pada kekasih cantiknya ini,
"Berolahraga? Ya, ide yang cukup menarik... Lagi pula beberapa hari terakhir aku memang belum sempat olahraga lagi..." Sahut Ana yang langsung pergi ke ruang ganti,
Setelah mereka berganti baju di ruangan yang berbeda, akhirnya keduanya telah menggunakan pakaian olahraga yang menurut mereka nyaman digunakan kali ini...
"Sebelum kita pergi, aku ingin mengajakmu untuk berlatih seni beladiri... Setiap hari selama 2-3 jam mungkin cukup... " Ujar Art melihat Ana berjalan mendekatinya,
"Kamu akan menjadi pelatihku? Baiklah, tidak terlalu buruk... yang penting kamu tidak menjadi pelatih yang cabul saja maka aku bisa menerimanya..." Sahut Ana sambil menjentikkan jarinya setuju dengan sedikit bumbu kesombongan yang dibuat-buat,
"Hooo... Kamu membuatku punya imajinasi dan rencana lain yang menarik sayang... Menakjubkan... " Ujar Art sambil menarik tangan Ana hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka berdua, mengunci Ana dengan tatapan mematikan yang begitu nyata yang tentunya diselimuti hasrat yang tak tergambarkan sebelumnya...
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
vote like dan komentarnya guys...
__ADS_1
kasi rating juga karyanya Author ya...
⭐⭐⭐⭐⭐