
HAPPY READING GUYS
________________________
Ana yang mendengar apa yang baru saja Art katakan masih dapat mengerti dan mencerna sedikit maksud dalam perkataan kekasihnya saat ini, ia menjadi semakin lemas karena tidak mau mempercayai apa yang ia tangkap dan simpulkan dari kata-kata itu...
“Apakah dia menyerah? Apakah hubungan kami benar-benar akan berakhir?” gumam Ana dalam hatinya dan langsung melemparkan dirinya ke dada Art lalu memeluknya sambil menangis dengan sekuat tenaga,
Art memejamkan matanya, tangan kirinya memeluk tubuh Ana sementara tangan kanannya mengelus pucuk kepala kekasihnya ini dengan lembut. Bagaimana pun juga ia juga sedang berusaha untuk memenangkan hatinya sendiri, merelakan orang yang dicintai tentunya akan sangat berat untuk dilakukan
“Ya, aku tidak boleh ragu... Semakin cepat aku memutus hubungan ini maka semakin cepat ia bisa memiliki kehidupan yang lebih bahagia dan kehidupan yang lebih normal, menemukan seorang pria biasa yang bisa membahagiakannya dalam kehidupan ini tanpa menyeretnya ke dalam bahaya apapun di masa depan...” gumam Art dalam hatinya berusaha meyakinkan dirinya sendiri,
Setelah cukup lama Ana menangis di pelukan Art, Art akhirnya melepaskan pelukannya lalu menghapus jejak air mata di pipi Ana dan menampilkan senyum lembut di wajahnya pada Ana, mengecup bibir lembut itu sebelum menggendongnya ke atas tempat tidur...
“Istirahatlah... Kamu sudah terlalu lelah hari ini, jangan menangis lagi... Itu membuat hatiku sakit Ana...” ujar Art sambil mengelus kepala Ana dan menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya,
Saat ia selesai menyelimuti Ana tangannya tiba-tiba di genggam erat oleh Ana dengan tatapan sayu di matanya “Jangan pergi, temani aku disini...” pinta Ana dengan suara masih sesenggukan,
“Kamu ingin tidur bersama? Apa kamu yakin sayang? Aku bisa saja berbuat hal yang... Hehehe” sahut Art sambil tersenyum setengah menyeringai pada Ana untuk menggodanya,
__ADS_1
“Jangan bertingkah seolah ini yang pertama kalinya!” sahut Ana lagi sedikit kesal karena kekasihnya masih saja bercanda di situasi seperti ini, ia juga kesal karena ia tahu kalau senyum dan candaan itu hanya tipu muslihat pria ini,
Setelah melewati banyak hal bersama dengannya, tentunya Ana sudah bisa mengetahui setidaknya kapan Art bersungguh-sungguh dan kapan ia berpura-pura akan sesuatu hal, meskipun tidak akurat namun ia dapat menyadari perbedaan diantara keduanya.
“Baiklah tuan putri... Aku akan memelukmu sepanjang malam” sahut Art lalu ia melepaskan sepatunya dan berbaring miring ke arah Ana, merentangkan tangannya agar Ana bisa menggunakan tangannya sebagai bantal,
Ana tentunya dengan senang hati memeluk tubuh Art seolah jika ia tidak memeluknya sekarang maka dirinya tidak akan pernah bisa memeluknya lagi dilain kesempatan, sehingga Ana memeluk Art dengan sangat erat seolah-olah ia bisa membenamkan seluruh wajahnya di dada bidang lelakinya ini...
Setelah cukup lama hening, akhirnya Ana terlelap dalam tidurnya. Matanya yang sembab terpejam dengan sangat nyaman saat ini, Art memperhatikan kekasihnya dalam keheningan. Sesekali tangannya bergerak mengusap rambut Ana dengan lembut lalu mengecup keningnya beberapa kali, untuk beberapa saat tangannya berhenti mengelus rambut kekasihnya ini karena gerakan Ana yang tiba-tiba seperti menggigil ketakutan.
Alisnya berkerut, wajahnya dipenuhi dengan kecemasan yang mutlak lalu butiran-butiran keringat mulai membasahi keningnya. Seolah-olah ketenangan dan tidurnya yang nyaman telah terganggu oleh sesuatu, sesuatu yang sangat buruk. Entah itu mimpi buruk ataupun semacam pasca trauma setelah melewati kejadian ekstrim hari ini,
“Apakah hari ini terlalu buruk untukmu sayang? Kamu tampak sangat menderita... Maaf” gumam Art dengan suara bergetar, ia merasa sangat bersalah karena memaksa Ana untuk mulai mengenal dan mencoba terbiasa dengan dunia hitamnya...
Berat memang, tapi tetap tak dapat dielakkan lagi...
***
Pukul 03.01 dini hari,
__ADS_1
Art dengan perlahan menggeser tubuhnya dan membaringkan Ana di tempat tidur sepenuhnya, mengecup keningnya pelan dan beranjak dari tempat tidur itu...
Ia berjalan ke arah jendela besar kamar hotel itu, membuka kordennya hingga gemerlapnya kota yang hidup selama 24 jam ini terpampang nyata di depan matanya, kelap-kelip lampu di jalanan dan berbagai macam warna lampu gedung terlihat sangat menawan malam ini...
Dreet... Dreet...
Ponsel Art bergetar, ada sebuah notifikasi email masuk terlihat di layar ponselnya, tapi bukan email itu bukan ditujukan ke email pribadinya melainkan ke email khusus pekerjaannya. Ia tidak langsung membukanya tapi malah menatap gemerlap cahaya lampu di depan jendela dengan tatapan setengah kosong. Beberapa saat kemudian ia kembali membuka ponselnya dan membuka email masuk, dan ternyata itu adalah email terkait bisnis di Mexico.
Setelah membaca sekilas Art memejamkan matanya dan mendesah pelan sebelum berbicara pada dirinya sendiri
“Apa ini pertanda bahwa aku dan dia benar-benar tidak bisa bersama? Bahkan seluruh dunia seakan mau berubah hanya untuk menciptakan jarak untuk kami berdua” gumam Art pada dirinya sendiri setelah melihat perubahan jadwal bisnis dengan para kartel di Mexico itu,
Pada awalnya Art ingin membawa Ana kemari karena tingkatan para mafia disini tidak terlalu kejam walaupun telah terjadi sesuatu yang jauh di luar kendalinya karena kedatangan Harry yang benar-benar tidak terduga. Pada awalnya setelah dari cabang mafia ini Art ingin membawa Ana ke Hongkong yang notabene wilayahnya sudah lebih kondusif karena pengaruh SDG sudah mengakar cukup kuat di sana setelah berafiliasi dengan SYO meskipun itu tidak secara resmi dilakukan tentunya.
Dengan strategi secara bertahap membawa kekasihnya mengenali seberapa gelap dan dinginnya dunia mafia itu, Art berharap Ana dapat mulai terbiasa dan belajar menguatkan dirinya di lingkungan dunia bawah ini...
Tapi takdir memang tidak pernah bisa ditebak oleh siapapun, di hari pertama saja sudah sangat berat dan menyisakan cukup banyak trauma untuk Ana, apalagi kalau Art sekarang bersikeras membawa Ana untuk ikut ke Mexico, dimana tentunya sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat itu adalah sarangnya para kartel Mexico yang mengerikan. Siapapun yang hidup di dunia gelap pasti sangat paham bahwa Mexico adalah pusat dari kartel narkoba dan kartel perdagangan manusia dimana hati nurani orang-orangnya sudah benar-benar tidak ada.
Semua itu tentu bukan tanpa sebab, karena saking berbahayanya di sana bahkan jika kamu dan temanmu berjalan di trotoar saat siang bolong, kemungkinan besar kamu bisa diculik dan dijual sebagai budak, psk, ataupun langsung dibunuh agar organ-organ di dalam tubuhmu dapat mereka jual pada orang yang memerlukan donor organ...
__ADS_1
______________________
Kasi komentar atau kesan kalian sama isi novelnya 😉😁🥂