
HAPPY READING GUYS
________________________
"Ya... Kamu akan berada dalam situasi seperti seorang aktris dalam sebuah film action pada umumnya... Diculik, disekap lalu menemui dalang dibalik semua yang terjadi..." Sahut Art menjelaskan hingga membuat Ana menarik tangannya agar mereka berhenti di ambang pintu,
"Kenapa? Kamu takut?" Tanya Art dengan senyuman mengejek,
"Tentu saja! Apa aku segila itu kau kira hah?!" Sahut Ana sambil mengerutkan alisnya tidak senang mendengar apa yang baru saja pria ini katakan,
"Ya, aku segila ini untuk menciptakan dan melatih wanita yang akan menjadi istriku ini agar ia benar-benar kuat dan tidak akan pernah tertekan dalam situasi apapun nantinya saat aku sudah menikahinya kelak... Aku tidak mau ia mengalami stress hanya karena ketakutan oleh hal semacam ini... Ya aku benar-benar segila ini mengerti?!" Ujar Art dengan sangat tegas sambil menarik tangan Ana hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka berdua...
Namun bukannya malah merasa takut atau terintimidasi, Ana malah tersipu malu mendengar kata-kata yang baru saja dikatakan oleh kekasihnya ini... Bukan sebuah untaian kata romantis, namun terdengar begitu manis di telinganya sendiri...
"Apa ini berarti kau ingin menikahiku?" Tanya Ana seperti seorang gadis super bodoh yang tidak dapat mengerti inti dari pembicaraan Art tadi, meskipun sebenarnya ia paham... Hanya saja ia ingin mendengar langsung dari mulut pria bernama Arthit Han Suppanad ini,
"Aku tahu kamu tidak sebodoh ini Ana... Berapa kali kamu akan menanyakan pertanyaan aneh ini huh?" Tanya Art sambil menarik Ana masuk ke dalam ruangan itu,
Di dalam ruangan itu terlihat hanya ada sebuah kursi kayu di tengah-tengah ruangannya dengan sebuah bohlam kuning tepat di atasnya, benar-benar seperti kondisi yang digambarkan dalam film-film itu,
"Memangnya aku tidak boleh mendengarnya langsung dari mulutmu?!" Gerutu Ana kesal dengan suara kecil namun masih dapat di dengar oleh Art yang hanya tersenyum dan menahan tawanya,
Art mendudukkan Ana di kursi itu lalu mengambil tali tambang berwarna putih untuk mengikat tubuh mungil nan seksi itu,
__ADS_1
"Kamu tahu kali ini kamu benar-benar terikat kan?" Tanya Art sambil mengikat tubuh kekasihnya di kursi itu dengan erat,
"Ah!!!..." Jerit Ana ketika Art mengikat tangannya dengan sangat kuat,
"Jika kamu tahu kamu sudah terikat seperti saat ini... Maka seharusnya kamu juga harus paham bahwa sejak kamu menerima cintaku, maka saat itu juga seluruh jiwa dan ragamu telah terikat seperti ini denganku... Dan tidak ada alasan untuk tidak menikah denganku tentunya... Aku pasti akan menikahimu cepat atau lambat, mengenai kapan waktunya kita lihat saja nanti sayang..." Ujar Art sambil mengelus kan jarinya di tali tambang putih itu hingga berakhir pada dagu mulus Ana...
Cuuppphh...
Sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Ana sebelum bibir itu di lakban oleh orang yang menciumnya tentunya,
"Eeemmm... Emmm... Em..." Ujar Ana berusaha mengatakan sesuatu tapi tidak bisa karena bibirnya sudah di lakban dan tangan dan kakinya juga sudah diikat dengan kuat,
"Sekarang dengarkan aku, ini adalah pelatihanmu untuk meloloskan diri saat diculik maka cobalah membuka ikatan tali yang melilit tanganmu dengan cara apapun... Yang pertama, coba perhatikan di sekeliling apakah ada benda tajam yang sekiranya bisa membantumu memotong tali itu? Jika ada berusahalah untuk menggunakannya, dan tentu tanganmu mungkin akan lecet jika harus bekerja keras membukanya... Hanya luka kecil maka akan perih sedikit" Ujar Art menjelaskan apa yang sekiranya bisa Ana lakukan pada situasi yang buruk seperti saat ini,
"Lalu, saat si penculik atau siapapun dalang dari penculikan ini datang mendekatimu seperti ini, jangan takut padanya dan mengalihkan pandanganmu darinya... Tapi balas tatapannya dengan tatapan yang lebih tajam dan penuh amarah agar ia lebih tertantang padamu... Dan ketika ia mendekatimu minimal di jarak seperti ini, tetaplah fokus dan ingat untuk memberikan serangan yang kuat hanya dengan sekali gerakan..." Ujar Art lagi,
"Hahaha... Itu pasti sangat sakit bagi si penculik jika kamu berhasil melakukannya dengan baik sayang..." Ujar Art sambil tertawa cekikikan,
"Ehmmm, emmm... Emmm... " Ujar Ana namun entah apa yang ia katakan karena mulutnya tertutup lakban,
"Sudah itu saja yang perlu kamu tahu untuk saat ini, aku akan pergi ke ruangan sebelah dan mengawasi semuanya dari sana... Ingat jangan takut dan tetap kuatkan dirimu sekuat yang kamu bisa untuk menghadapi semua ini, lalu untuk penampilan penutupnya aku akan memperlihatkan apa arti sebenarnya dari kata kejam, dan situasi apa yang disebut kejam tepat di depan matamu sayang..." Ujar Art lalu pergi meninggalkan Ana sendirian di ruangan itu,
"Astaga! Ini gila... Jantungku berdebar begitu kencang! Ini benar-benar mendebarkan dan menakutkan! Apa aku benar-benar akan aman? Tapi memangnya ada yang bisa melawan Art disini? Jika dilihat dari sikap bos tempat ini harusnya aku akan benar-benar aman ya kan?" Gumam Ana dalam hatinya, kesunyian di ruangan itu semakin membuatnya tegang menunggu apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya,
__ADS_1
"Tenang Ana... Kamu bisa! Jangan takut! Kamu bisa! Ini hanyalah hal kecil... Kamu harus terbiasa! " Gumam Ana pada dirinya sendiri
"Astaga! Harus terbiasa?! Apa yang aku katakan huh?!" Gumam Ana lagi dalam hatinya sembari mengalihkan pikirannya di tengah kesunyian ini,
Tak berselang lama, terdengar langkah kaki di tengah kesunyian yang Ana rasakan sekarang, langkah kaki itu semakin terdengar mendekat dan bukan hanya langkah kaki satu orang... Langkah kaki itu terdengar seperti banyak orang yang datang,
Ceklek...
"Wah... Wah... Wah... Ternyata pekerjaan kalian memang sehebat rumor yang beredar..." Ujar seorang pria yang benar-benar sangat familiar di mata Ana,
"Eehhhmmm... Heeemmmm... Hemmmm! " Teriak Ana namun tertahan karena mulutnya telah dilakban,
"Hallo gadis cantik ku... Apa kabarmu? Akhirnya kita bisa bertemu lagi ya..." Ujar Harry sambil tersenyum puas dan penuh kemenangan,
"Heeem! Ehm! Hemmm!" Ujar Ana yang masih mencoba mengatakan sesuatu sambil menatap Harry dengan tajam dan penuh kekesalan,
"Hahaha... Gadis manis, tenanglah... Jangan memberontak lagi... Aku tidak akan menyakitimu jika kamu menurut..." Ujar Harry sambil mengelus rambut hitam Ana,
"Oh ya... Kalian apakan bodyguard nya yang cukup menyusahkan itu? Apa kalian membunuhnya?" Tanya Harry pada orang-orang yang mengikutinya kesana,
______________________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...
__ADS_1
vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...