
HAPPY READING GUYS
________________________
"tunggu dulu, jika benar mama meninggal saat aku masih bayi... bagaimana bisa mama bisa dengan nyata merawatku sampai aku berusia sekitar 14 tahun pa? ini tidak masuk akal!" protes Ana setelah mencerna dengan baik setiap kata yang papanya katakan itu...
"sebenarnya... dia bukanlah ibu kandungmu sayang... dia adalah adik ibumu, mereka berdua kembar... namanya yang sebenarnya adalah Pricillia, adik kembar mamamu lah yang sebenarnya merawatmu dulu sejak kamu masih berumur 15 bulan... karena kebaikannya lah kamu bisa menikmati kasih sayang seorang ibu nak... tapi..." ujar tuan Gerald sambil menutup wajahnya dan menjambak rambutnya sendiri,
"papa bahkan harus kehilangan dia juga, papa tidak bisa melindungi keselamatannya... dia terbunuh lagi dalam sebuah kecelakaan, tidak... bukan kecelakaan, tapi sebuah bom dipasang pada bagian bawah mobil dan ketika Lia menumpangi mobil itu... mobil itu meledak berkeping-keping... papamu ini gagal lagi menyelamatkan seseorang yang dia sayangi... seseorang yang sangat penting untuk hidupnya!" ujar tuan Gerald frustasi
"awalnya Ana tidak dapat mempercayai apa yang sedang papanya ceritakan, namun melihat keseriusan papanya dan juga tekanan serta rasa frustasi yang begitu dalam terlihat pada diri papanya itu, Ana memutuskan untuk percaya...
"jadi dimana mama dan kakak disemayamkan?" tanya Ana sambil memeluk tubuh papanya itu...
"tepat di samping Pricillia sayang... tepat disampingnya, mereka berdua selalu ada disana... dan kenapa papa selalu berada di sisi kananmu saat mengunjungi makam mamamu adalah karena alasan ini... papa tidak mau kamu tahu kebenaran yang menyakitkan ini... tapi belakangan ini papa semakin sadar... tidak ada yang benar-benar bisa disembunyikan selamanya... maafkan papa..." ujar tuan Gerald sendu, ia menangis lagi mengingat kedua wanita yang ia cintai itu meninggal karena permusuhan yang ia miliki...
Kedua wanita yang ia cintai?
Ya, Charles Dion Geraldine sadar betul bahwa selama membesarkan Ana bersama dengan Pricillia selama kurang lebih 14 tahunan itu ia sudah mulai mencintai Pricillia...
Entah karena wajah Pricillia dan Patricia yang sama persis atau karena kenyamanan yang terbentuk seiring berjalannya waktu ketika merawat Ana bersama-sama...
Tapi semuanya hancur lagi ketika ia lengah sedikit saja... maka setelah semua itu terjadi Charles Dion Geraldine tidak mau lagi hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, ia memohon bantuan pada sahabatnya untuk melindungi putrinya... putri satu-satunya, yang juga merupakan harta terbesarnya yang ia miliki dalam kehidupan ini dari musuh bebuyutannya...
MD Group...
Perusahaan otoriter dibawah pimpinan Mad Dog dan kakaknya Michael...
__ADS_1
Suara ponselnya berbunyi dengan nyaring dan bergetar,
'Guardian Kim' nama yang muncul di layar ponsel itu...
Dengan sangat cepat tuan Gerald melepaskan pelukannya dari Ana dan tangannya secepat kilat menyambar ponselnya itu... melihat siapa yang meneleponnya, ia tersenyum penuh kelegaan... seakan semua beban berat yang selama ini ia pikul telah musnah semuanya...
Ia sampai berlutut di lantai dan menempelkan ponselnya itu di depan dadanya dengan penuh rasa syukur...
Kim meneleponnya berarti semua misinya sudah selesai, semua musuh mereka berhasil disingkirkan dan pastinya tanpa sisa karena Kim lah yang melakukannya...
"Hallo... Kim..." ujar tuan Gerald berusaha menormalkan suaranya
"Sekarang kau bisa benar-benar tenang Charles, mereka semua sudah dibersihkan..." ujar tuan Kim dengan suara dinginnya itu yang begitu khas...
"akhirnya... setelah belasan tahun lamanya, aku bisa terlepas dari semua ini..." ujar tuan Gerald bahagia dan sangat antusias
"papa... apa? terbebas dari apa?" tanya Ana penasaran karena papanya yang sedari tadi terlihat seperti sedang kehilangan jiwanya dan hanya tubuhnya yang ada di tempat ini, tiba-tiba saja dipenuhi oleh kebahagiaan dan rasa syukur yang melimpah...
"setelah ini, kamu tidak perlu lagi cemas akan ada banyak orang yang mengincar nyawamu lagi sayang... karena Mad Dog, sumber dari segala permasalahan yang keluarga kita miliki sudah lenyap..." sahut papanya sambil memeluk tubuh Ana dengan sangat erat...
"apa paman Kim yang melakukannya pa? bagaimana bisa?" tanya Ana yang sebenarnya memang tidak tahu latar belakang dari paman Kim Hans Suppanad nya itu...
Yang Ana tahu hanyalah paman Kimnya itu adalah seorang pebisnis besar seperti papanya juga, bahkan jauh lebih hebat dari papanya...
"untuk masalah itu papa tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang sayang... agar tidak ada kesalahpahaman yang berdampak buruk dan membuat pandanganmu berubah tanpa dasar yang jelas pada paman Kim mu itu... tapi setelah dia datang kemari sebelum kembali ke Thailand, kamu boleh menanyakannya sendiri padanya..." sahut papanya sambil berdiri dan mengelus lembut pucuk kepala Ana...
Tuan Gerald langsung pergi ke ruang kerjanya saat itu juga... entah apa yang akan ia kerjakan selarut ini...
__ADS_1
Sementara Ana hanya bisa cemberut dan pergi ke kamarnya pada akhirnya...
saat akan menaiki tangga, Ana berpapasan dengan Mark...
"nona mau saya buatkan sesuatu? saya tahu mood nona sedang tidak terlalu baik sekarang kan?" tawar Mark namun di jawab dengan gelengan kepala dari Ana...
"tidak perlu Mark... aku hanya perlu istirahat" sahut Ana sambil melanjutkan langkahnya menaiki tangga...
Kepalanya terasa penuh dengan semua fakta tentang kehidupannya...
kehidupan yang tidak sesimpel yang ia pikirkan selama ini... bahkan mamanya yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang dan yang meninggal belasan tahun lalu bukanlah ibu kandungnya...
Melainkan hanya bibi kembaran dari mamanya, dan juga kenyataan tentang ia juga sebenarnya memiliki seorang kakak perempuan baru bisa ia ketahui sekarang...
"Entah apa lagi rahasia yang belum aku ketahui sekarang... setelah tahu semua ini, aku bahkan tidak bisa percaya jika siapapun bilang sudah tidak ada lagi rahasia yang terpendam... aku rasa hidupku ini terlalu fana, semua keindahan dan hidup yang sangat mudah ini menyimpan cerita yang rumit... aku masih belum bisa percaya... mama... aku harap kalian berdua tenang di alam sana... awasi dan jaga aku dari sana ya... kakak juga..." gumam Ana sambil menerawang jauh menatap langit-langit kamarnya itu...
Entah sejak kapan, tapi Ana sekarang sudah sedikit bisa lebih dewasa dalam berpikir...
memang dalam tindakannya ia masih belum bisa bijaksana dalam memilah apa yang paling baik untuk ia lakukan, namun perubahan pola pikir yang hanya 1% ini bukankah sudah lebih berarti daripada tidak sama sekali bukan?
______________________
jangan lupa vote like dan komentarnya guys...
kasi rating juga karyanya Author ya...
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1