Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
ITU BUKAN CINTA TAPI OBSESI


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Keduanya terhanyut dalam gelora rindu, tidak ada penolakan dari Mikayla. Membuat Nathan lebih berani bermain dengan bibir sexy milik istrinya.


Hingga Mika yang kekurangan oksigen memukul dada bidang Nathan hingga membuat tauta dua benda kenyal itu terlepas.


Melihat Mikayla terengah-engah membuat Nathan ingat penyakit yang di derita sang istri, "Ma-maaf." Kata Nathan terbata.


Mika tidak langsung menjawab ucapan suaminya melainkan dia menetralkan nafas dan detak jantung yang tidak beraturan, bukan penyakitnya kambuh tetapi perasaan yang berdebar setiap berdekatan dengan Nathan nyatanya sampai detik ini masih terus berdetak.


Nathan mengusap lembut bibir yang bengkak dan agak kebiruan akibat ulahnya, dia terlalu menggebu-gebu karena takut Mika pergi darinya.


"Maaf, pasti sakit." Ucap Nathan sendu.


"Sedikit." Jawab Mika yang menunduk malu.


Nathan berdehem karena dia juga malu setengah mati akibat perbuatannya, keduanya tampak terdiam beberapa saat setelah pergulatan lidah dan bibir.


"Kita pulang," Ucap Nathan yang di angguki Mikayla.


Nathan segera menyalakan mesin mobil sedangkan Mika mengenakan seat belt ya kembali, perlahan mobil Nathan bergerak meninggalkan area parkiran sekolah.


Tanpa keduanya sadari dari kejauhan dua pria melihat kejadian yang ada di dalam mobil Nathan, Nathan seakan lupa kaca mobilnya dapat di lihat dari luar mobil.


"Lihat, mereka saling mencintai. Apa kamu akan terus melanjutkan perasaanmu kepada Mika?" Tanya Zaki yang menepuk pundak Dean.


"Mika seperti itu karena dia amnesia sehingga cara Nathan memulihkan ingatannya dengan cara licik seperti itu." Jawab Dean yang belum dapat terima.


"Baik amnesia atau tidak, Mikayla juga melakukannya dengan senang hati. Jika Mika tidak terima pasti Nathan sudah di tampar atau di hajar sejak dia menciumnya." Kata Zaki yang tidak habis pikir dengan sifat Dean.


Dean hanya diam membisu, apa yang di katakan Zaki ada benarnya juga tetapi Dean meyakini jika Nathan tengah berusaha membuat Mikayla ingat masa lalunya.


"Aku sarankan, lebih baik kamu mencari wanita lain. Apa kamu tega melihat Mikayla sedih karena berpisah dengan Nathan? Jika kamu terus berusaha memisahkan mereka itu bukan cinta lagi Dean melainkan sebuah obsesi, kamu terobsesi memiliki Mikayla dalam hidupmu. Coba saja kamu bayangkan, kamu hidup satu atap dengan wanita yang tidak pernah mencintaimu padahal kamu selalu menghujaninya dengan cinta, apa itu tidak lebih menyakitkan di banding mengikhlaskan?" Ucap Zaki panjang lebar kepada Dean.


Dean masih setia diam seribu bahasa, "Bagaimana aku bisa ikhlas sedangkan aku pria yang selalu ada untuk Mika di saat susah sekalipun." Jawab Dean yang masih belum menerima kenyataan yang sudah jelas dia lihat dengan mata dan kepalanya sendiri.


"Bukankah kamu di kenang sebagai pria baik untuk Mikayla sudah cukup? Jika kamu menghalalkan segala cara dan Mika mengetahuinya, bayangkan bagaimana kecewanya gadis itu Dean." Timpal Zaki kembali.


"Sudahlah, kamu selalu membela Nathan karena kalian dekat sejak aku pergi keluar negeri." Ucap Dean yang melangkah meninggalkan Zaki begitu saja.

__ADS_1


Zaki hanya menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepalanya, "Kamu tidak tahu saja bagaimana menderitanya Nathan selama ini Dean." Ucapnya pelan dengan menatap punggung Dean yang sudah menjauh dari pandangannya.


Dean dengan cepat menyalakan mesin mobil dan meninggalkan area sekolah begitu saja, bahkan dia melewati Zaki tanpa menegurnya.


*


*


*


Mobil hitam membelah jalan raya yang masih tampak ramai dengan kendaraan, berbeda yang tengah duduk di dalam mobil. Tampak hening dan tenang sedangkan di luar cukup bising.


Hingga suara perut membuyarkan semuanya, Mikayla merutuki perutnya yang tidak tahu situasi.


"Bisakah kamu tahan sampai rumah." Runtuk Mika dalam hati.


"Kamu lapar?" Tanya Nathan yang masih fokus menyetir.


"E-eh, ti-tidak." Jawab Mika terbata karena menahan malu.


"Yakin?" Tanya Nathan dengan menoleh kearah Mika sebentar dan kembali fokus menyetir.


"Kenapa wajahnya yang memerah sangat menggemaskan, rasanya ingin aku gigit pipinya." Ucap Nathan dalam hati.


Nathan menekan gasnya hingga membuat mobilnya melaju lebih kencang lagi, Mika yang sadar jika Nathan tidak melewati jalan menuju mansion Anderson hanya menatap bingung.


Dia mengamati jalanan yang sangat tidak asing untuk ya, hingga mobil Nathan berhenti di salah satu swalayan yang membuat Mika ingat.


"Apartemen?" Gumamnya pelan.


"Apa?" Tanya Nathan yang sayup-sayup mendengar gumaman Mikayla.


"Oh, tidak apa-apa. Kita kenapa berhenti di sini?" Jawab Mika yang menatap Nathan dengan lembut.


Nathan hanya tersenyum kearah Mika, "Berbelanja, ayo turun!" Ajak Nathan yang membuat kening Mika berkerut dalam.


Mika segera membuka seat belt ya dan keluar dari dalam mobil, dia menunggu Nathan yang tengah mencari sesuatu di dalam mobilnya.


Sebuah jaket berada di tangan kanan Nathan, tanpa berkata apapun Nathan membuka blazer yang hanya di sampirkan di dua pundak istrinya.

__ADS_1


"Masukkan tanganmu!" Perintah Nathan kepada Mika.


Dengan cepat Mika memasukkan kedua tangannya kedalam jaket yang sudah Nathan siapkan.


Segera Nathan menaikkan resleting hingga sampai keleher, membuat Mika sedikit kaget.


"Lain kali jangan mengenakan gaun seperti ini, aku tidak mau kamu di gigit nyamuk." Ucap Nathan yang membuat Mikayla gemas.


"Bilang saja jika tidak rela aku di lihat pria lain." Gerutu Mika dalam hati.


"Kenapa dengan bibirmu itu, apa kamu ingin aku cium lagi sayang?" Tanya Nathan dengan senyum menggoda.


Mika membelalakkan kedua matanya karena jarak wajahnya dan Nathan sangat dekat, secara reflek Mika menutup dan mendorong wajah Nathan dengan telapak tangan kanannya.


"Dasar omes!" Ucap Mika bersungut kesal.


"Omes?" Beo Nathan.


"Otak Mesum!" Ucap Mikayla dengan jelas.


Nathan tergelak mendengar ucapan Mikayla, dia menarik pinggang ramping Mika dan berbisik di telinga kirinya.


"Mesum dengan istri tidak ada salahnya." Jawab Nathan dengan meniup lembut telinga Mika.


Tubuh Mika meremang karena ulah Nathan, segera dia melepaskan diri dari Nathan karena godaan dari pria tampan yang berstatus suaminya itu tidaklah main-main.


"Sudah cepat masuk atau aku pulang!" Ucap Mika galak.


"Ayo, keburu tutup." Ajak Nathan yang menggenggam tangan Mikayla erat


Nathan mengambil trolly kecil dan mendorongnya dengan satu tangan, "Apa kakak nyaman seperti ini, lebih baik lepaskan tangan Mika agar kita lebih nyaman berbelanja." Ucap Mika yang menoleh kearah Nathan.


"Apa kamu tidak suka aku genggam?" Tanya Nathan yang melempar pertanyaan.


"Suka." Jawab Mika tanpa sadar.


"Begitulah? Baguslah, aku akan selalu menggenggam tanganmu kemanapun dan di manapun." Kata Nathan dengan senyum yang menawan.


"Eh, bu-bukan begitu makhsudku." Mika baru sadar apa yang dia ucapkan.

__ADS_1


"Perkataan yang keluar tidak bisa ditarik." Ucap Nathan yang semakin erat menggang tangan Mikayla.


__ADS_2