Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
PERASAAN ANEH


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Nathan mengantarkan Laura sampai di depan toilet wanita, "Aku pergi dulu." ucap Nathan yang langsung melangkahkan kakinya lebar meninggalkan Laura.


Laura yang ingin menahan Nathan harus menahan kesal, "Awas kau gadis ingusan, aku akan membalasmu!" Geram Laura yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa siswi yang sedang berada di dalam kamar mandi sedikit menyingkir karena Laura yang sangat kotor, Laura segera membilas wajahnya yang terkena sambel kacang. Beruntung sambal kacang yang di tumpahkan oleh Mikayla tidaklah pedas, dia hanya berbohong kepada Nathan dan semuanya saat di kantin.


Mendengar Mika di marahi oleh Nathan membuat hati Laura bersorak gembira, "Cih, istri? Tetapi cinta Nathan sudah habis untukku." Ucap Laura lirih dengan memandang dirinya dari pantulan cermin.


Sedangkan Nathan berjalan menuju kelas Mikayla yang berada di lantai dua dengan tergesa-gesa, dia merasa khawatir dengan istrinya karena diguyur air es oleh Laura. Nathan membuka cepat pintu kelas Mika, bahkan para siswa melihat kearahnya.


"Cari siapa, Kak?" Tanya seorang siswa kepada Nathan dengan sopan.


"Mika, Mikayla ke mana?" Jawab Nathan dengan nafas memburu.


"Mikayla belum masuk ke kelas kak." Ucap siswa tersebut jujut.


"Makasih." Jawabnya.


Nathan menghembuskan nafasnya panjang, dia berjalan putar arah untuk menuju lantai tiga tetapi langsung dia urungkan saat melihat adiknya. Dengan cepat berjalan ke arah Kinanti, "Di mana, Mika?" Tanyanya cepat.


Kinan menatap kakanya sebal, "Mana aku tahu, kamu kira aku suaminya!" Jawab Kinan yang langsung melepaskan cekalan tangan Nathan.


"Hey! Aku belum selesai berbicara!" Seru Nathan kepada Kinanti.


Kinan menoleh ke belakang dan memberikan jari tengah untuk sang kakak sembari berkata, "Bith*ch." Kinan begitu sangat kesal karena Nathan tega meneriaki Mika sedangkan Laura yang memulai semua pertengkaran hari ini.


Nathan mngguyar rambutnya ke belakang, dia akhinya berjalan menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Dalam pikirannya mengkhawatirkan Mikayla sedangkan dalam hati tengah berkecamuk kenapa harus mengkhawatirkan gadis itu. Terlebih gadis itu juga sudah membalas Laura dengan telak.


Nathan berjalan masuk kekelasnya, beberapa temannya menyapa. Dia hanya tersenyum dan mengangguk, Nathan menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kayu. Dia mengedarkan pandangannya di langit yang tampak sangat cerah hari ini juga semilir angin yang sedikit kencang membawa hawa panas.


Benar, hawa panas tiba-tiba menyeruak dalam dirinya saat melihat dua orang yang sangat dia kenali dengan berada di taman belakang sekolah. Kebetulan kelas Nathan di lantai tiga dan dapat dengan jelas pemandangan yang berada di sekolahannya.


"Dean ... Mikayla." Gumamnya pelan.


Nathan menatap lekan Dean yang bersandar dengan memandang ke arah Mikayla yang menengadahkan kepalanya ke langit, kedua tangannya mengepal dengan erat tanpa dia sadari saat melihat Dean yang tidak berpaling dari Mika.

__ADS_1


Dean berjalan mendekat ke arah Mika dan menyodorkan sapu tangan, Mika mengambilnya dan segera mengusap sudut mata yang masih basah.


"Terima kasih, Kak. Akan Mika kembalikan besok." Ucapnya.


Dean hanya mengangguk tanpa niatan untuk menjawab, mengulurkan tangan kanannya membantu Mikayla berdiri. "Ayo masuk, satu mata pelajaran lagi untuk hari ini." Kata Dean lembut.


Mika menghirup udara dengan dalam, "Let's go!" Seru Mika yang membuat Dean tertawa sembari mengacak rambut panjang bergelombang milik Mika dengan gemas.


Nathan yang melihatnya lantas langsung melotot, bahkan sudah setengah berdiri. Ingin sekali dia berlari ke arah mereka tetapi suara bel berbunyi. Membuat para siswa yang masih berada di luar masuk kelas untuk mengikuti ujian mata pelajaran terakir hari ini.


"Nat, ada apa?" Tanya Zaki ketua kelas.


"E-eh, tidak apa-apa." Jawab Nathan berbohong.


"Lain kali jangan terlambat saat tes," Ucap Zaki mengingatkan.


*


*


*


Sedangkan Dean yang merasa dirinya di tatap oleh Nathan menoleh ke belakang, membuat Nathan kelabakan. "Nomor berapa?" Tanya Dean tanpa suara hanya menggerakkan bibirnya.


Spontan Nathan memberikan jari telunjuk, Dean segera memberikan jawabannya kepada Natha. Nathan langsung fokus dengan kertas yang berada di depannya "Si*al," umpatnya jangankan nomor satu, menulis namanya saja Nathan belum melakukannya.


Selama sembilan puluh menit semua siswa mengerjakan soal ujian hingga guru pengawas mengambil lembar jawaban para siswa satu persatu, "Nathan, kamu belum selesai?" Tanya guru pengawas.


"Belum, Bu. Tapi akan saya kumpulkan." Jawab Nathan menyerahkan lembar jawaban dengan wajah kusut.


Guru tersebut menepuk pundak Nathan dua kali, "Jangan membuat masalah yang mudah menjadi rumit, Nat." Kata guru tersebut.


"Baik, terima kasih." Jawab Nathan sopan.


Melihat guru pengawas pergi dari meja Nathan membuat Dean mendekat, "Kenapa, kamu bro. Kusut amat wajahnya." Ucap Dean dengan tertawa pelan.


Nathan hanya diam dengan memasukkan alat tulisnya, "Kenapa kamu bisa bersama Mikayla dan Kinan?" Tanya Nathan terselubung.

__ADS_1


Dean menaikkan sebelah alisnya, "Aku tadi mencarimu ke ruang kepala sekolah, tetapi kamu sudah tidak ada." Jawab Dean apa adanya.


"Benarkan?" Tanya Nathan penuh selidik.


"Tentu saja, bahkan aku melihat bagaimana kamu di cium oleh Mika. Cie ... apakah kamu dan Laura sudah putus?" Ucap Dean dengan mengolok sahabatnya.


Nathan berdehem karena Dean mengungkit kejadian tadi, tanpa sadar kedua pipi Nathan memerah, bahkan telinganya jauh lebih merah lagi. "Kepi, sudah ayo balik." Jawab Nathan yang langsung bangkit dari kursi.


"Hey! Tunggu, jawab pertanyaanku dulu, Nat." Seru Dean mengejar Nathan.


"Apa?" Tanya Nathan kembali.


"Apa kamu ada hubungan dengan, Mika?" Tanya Dean dengan serius.


"Jika iya ada apa?" Jawab Nathan tidak kalah serius.


"Wah, kita saingan. Aku juga menyukai Mika." Kata Dean.


Langkah Nathan terhenti begitu juga Dean, Nathan menatap Dean dengan sangat serius. Dean langsung memecahkan tawanya "Jangn serius, aku hanya bercanda." Lanjut Dean yang masih tertawa.


Nathan hanya ber oh ria, keduanya berjalan menuruni anak tangga menuju lantai dua. Terlihat Laura tengah bersitegang dengan Mikayla kembali di depan kelas Mika. Di sana juga ada Kinan yang pasang badan untuk sahabatnya.


"Apa kakak tidak malu, ribut-ribut masalah laki-laki yang belum tentu menjadi jodoh kakak!" Seru Kinan dengan kesal.


"Menyingkir kamu Kinan, urusanku dengan Mikayla bukan denganmu!" Sentak Laura kepada adik sang kekasih.


"Urusannya adalah urusanku, mau apa kamu?" Tantang Kinan dengan menaikkan dagunya.


"Kau-"


"Sudah Kinan, kita pergi saja daripada menanggapi orang gila sepertinya. Jangan sampai kita di anggap gila juga karena meladeni ocehannya yang tidak penting." Mikayla memotong ucapan Laura yang akan siap memaki Kinanti.


Mikayla menggandeng tangan Kinan dan menariknya pergi dari hadapan Laura, berpapasan dengan Nathan tidak menghentikan langkahnya. Dia melalui sang suami begitu saja tanpa menatap maupun bertegur sapa.


"Sayang!" Seru Laura dengan manja.


__ADS_1


__ADS_2