
Happy Reading πΉπΉ
Dua hari berlalu sesudah Laura melabrak Mikayla, tetapi rencana pernikahannya dengan Nathan tetap berlanjut. Saat ini Mikayla tengah menunggu kedatangan Nathan di kediamannya, malam tadi dia di hubungi oleh Alice yang akan menjadi mertuanya.
Mengatakan jika ada jadwal fiting baju pengantin, sedangkan kedua keluarga sibuk mempersiapkan pernikahan mereka di negara Jepang. Nathan akan menikahi Mikayla asalkan pernikahan mereka dirahasiakan karena mereka masih SMA.
"Nathan, besok kamu menjemput Mika untuk melakukan fiting baju." Ucap Alice kepada putranya.
"Nathan ingin membicaran sesuatu kepada Mama dan Ayah." Ucap Nathan berjalan menuju ruang keluarga.
Kenan yang mendengar ucapan Nathan segera mengecilkan volume tellevisinya, terlihat Nathan baru saja kembali dari latihan basket karena masih mengenakan celana basket sedangkan atasnanya sudah ganti kaos tipis.
"Ada apa, Nath?" Tanya Alice lembut.
"Nathan ... Nathan ingin mundur dari pernikahan bisnis ini." Jawab Nathan sedikit ragu.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingat bagaimana pembicaraan kita tempo lalu?" Tanya Kenan dengan dingin dan wajah datar.
"Nathan tidak bisa Ayah, Nathan memiliki kekasih, dan bagaimana jika dia tahun pernikahan ini." Ucap Nathan memelas.
"Ayah sudah memberikanmu kesempatan, jika kekasihmu mau menerima lamaramu tentu saja dengan senang hati Ayah akan datang melamarkannya. Tetapi, lihat sendiri bukan. Terlebih lagi sekarang pernikahanmu dengan Mikayla sudah hampir 100% tinggal kita terbang ke Jepang saja. Segera putuskan hubunganmu dengan gadis tersebut karena kamu akan menikah." Jawab Kenan panjang lebar kepada Nathan.
Nathan hanya menghela nafas panjang, "Tapi, cinta tidak dapat di paksakan." Kata Nathan kembali.
"Benar, tidak bisa di paksakan. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu." Jawab Kenan dengan tegas.
"Nathan, dengarkan Ayahmu. Kami dulu juga menikah karena perjodohan, perjodohan bukan hal buruk. Bukalah hatimu untuk Mikayla dia gadis yang baik meskipun tampak dingin sepertimu." Timpal Alice yangsetuju dengan sang suami
Nathan hanya termenung, bagaimana bisa dia semudah itu meninggalkan Laura. Apalagi Mikayla gadis yang baru dia kenal beberapa bulan belakangan ini dari orang tuanya.
"Baiklah, Nathan akan tetap menikahi Mikayla sesuai permintaan kalian. Tetapi, Nathan ingin pernikahan ini di rahasiakan karena Nathan ingin menyelesaikan sekolah dengan tenang begitu juga Mikayla pasti sama." Nathan mengajukan permintaan kepada kedua orang tuanya.
Alice dan Kenan saling menatap, "Akan Ayah tanyakan kepada orang tua Mikayla." Jawab Kenan yang beranjak pergi dari hadapan sang puta.
Kinanti yang mendengarkan perdebatan di ruang tamu akhirnya mendekat setelah melihat kedua orang tuanya pergi. "Sudah putusin aja red flag itu, lebih baik sahabatku." Ucap Kinan yang bersandar di tembok dengan bersedekap dada.
__ADS_1
Nathan hanya memandang datar dan bangkit dari duduknya, "Anak kecil tidak perlu ikut campur." Jawab Nathan dengan mencubit pipi sang adik dengan gemas.
Saat ini, Nathan bersiap untuk menjemput Mika ke mansion. Mereka memutuskan untuk izin dari sekolah karena pernikahan mereka hanya hitungan hari sebelum berangkat ke Jepang.
"Nathan, nanti Mama langsung menyusulmu ya. Mama akan mengantarkan Kinanti ke sekolah terlebih dahulu karena sopir kita tengah izin." Ucap Alice yang memberikan satu potong roti bakar di piring Nathan.
"Apa Kinan boleh ikut? Kinan juga ingin membolos seperti Kakak." Rengek Kinan kepada Mamanya.
"Tidak bisa, sayang. Kamu harus tetap sekolah biarkan Kakakmu mengurus pernikahannya." Jawab Alice menolak permintaan Kinan.
Kinan hanya mengerucutkan bibirnya beberapa centi kedepan, wajah ditekuk dengan masam. Nathan yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja sembari berkata "Bocil, kalau perempuan dan laki-laki di satu tempat hanya berdua berarti yang ketiga setan. Kamu mau menjadi setan di antara kami?"
"Setan ... setan ... wajahmu yang seperti setan." Umpat Kinan dengan berdiri kasar dari bangkunya.
Nathan tercengang dengan ucapan sang adik, "Dasar adik setan!" Seru Nathan yang tidak terima.
Kinan hanya berbalik dengan menjulurkan lidahnya saja dan berlari terbirit-birit karena Nathan melempar garpu ke arahnya.
...ππ...
Mobil sedan yang dikendarai oleh Nathan kini tengah memasuki gerbang utaman mansion Anderson. Penjaga yang memang sudah dipesan oleh tuan rumah membuka gerbang tanpa menanyakan apapun.
Seulas senyum terbit karena melihat Nathan dengan tampilan casual, wajah Mikayla langsung berubah datar saat Nathan masuk ke dalam mansion dengan di sambut oleh Mommy Bintang.
"Nak, Nathan. Masuk dulu, tante panggilkan Mika sebentar." Ucap Bintang ramah.
"Mika di sini, mom." Ucapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Bintang tersenyum, "Mom kira kamu masih di dalam kamar," ucapnya.
Nathan hanya menatap Mika sama datarnya, "Jika begitu, kami langsung berangkat ke butik saja Tante." Ucap Nathan kepada Bintang dengan sopan.
"Tidak ingin sarapan dulu?" Tawar Bintang.
"Terima kasih, Tante. Nathan sudah sarapan di rumah." Jawab Nathan jujur.
__ADS_1
Nathan dan Mikayla kini tengah menuju butik yang disarankan oleh Alice, hanya ada keheningan selama di perjalanan. Tampak Nathan yang konsentrasi dengan jalan raya sedangkan Mikayla sibuk dengan gawainya.
Menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, keduanya telah sampai di salah satu butik terkenal yang biasa menjadi langganan para artis dan orang kaya di kota tersebut untuk membeli gaun pernikahan. Bangunan bergaya modern yang tampak megah dan luas di pandang dari luar.
Nathan melepaskan seat belt begitu juga Mikayla, keduanya berjalan keluar menuju butik. Mendorong pintu bercat putih yang membunyikan sebuah lonceng membuat para pekerja butik menyadari kehadiran pelanggan toko.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" Tanya pelayan.
"Kami sudah membuat janji dengan pemilik butik." Jawab Nathan cepat.
"Silahkan duduk, mohon tunggu sebentar." Ucap pelayan toko yang langsung undur diri untuk memanggil pemilik butik.
Mikayla dan Nathan duduk di sebuah sofa besar dengan jarak yang cukup jauh, Mikayla mengedarkan pandangannya kesegala arah sama yang dilakukan oleh Nathan.
"Ekhm, setelah ini aku ingin berbicara denganmu secara empat mata." Ucap Nathan tampa melihat ke arah lawan bicara.
"Denganku?" Tanya Mikayla menuding dirinya sendiri dengan menatap Nathan.
"Tentu saja, yang ada di sini hanya kamu." Jawab Nathan dengan malas.
"Aku pikir kamu mengajak berbicara dengan manekin." Ucap Mikayla yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Nathan.
"Benar, manekin yang bernafas." Timpal Nathan dengan tersenyum miring.
"Tidak ada bedanya dengan kulkas yang dapat berjalan." Balas Mikayla dengan wajah mengejek.
"Kau-"
Ucapan Nathan terputus saat mendengar suara wanita yang menghampiri mereka, "Nathan, sudah sampai?" Tanya Tante Sisi dengan ramah.
"Baru saja, Tan." Jawab Nathan dengan sopan.
Mikayla menyalami Tante Sisi yang membuat Nathan tertegun, berbeda dengan pemilik butik yang tambah ramah kepada Mikayla.
"Calon istrinya, Nathan ya. Cantik dan imut sekali," puji Tante Sisi.
__ADS_1
...πΎπΎ...