Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
SATU MEJA DUA WANITA


__ADS_3

Happy Reading


Dean berlari menuju mobilnya, karena sudah mulai gerimis. Segera dia melemparkan tas punggung ke bangku sebelah dan menyalakan mobil.


Perlahan mobil sport tersebut bergerak meninggalkan area sekolah, dia memelankan laju mobilnya karena akan menyebrang. Tampak hujan semakin deras turun membasahi bumi, tetapi ekor matanya menangkap sorang gadis yang duduk di halte bis kota.


Tin!


Dean membunyikan klakson mobilnya sehingga membuat gadis yang sejak tadi menunduk menoleh kearahnya, "Mikayla." Ucap Dean pelan.


Segera Dean keluar dari dalam mobil dengan menenakan jaket jeans biru dongker miliknya, Mikayla lantas berdiri karena melihat Dean yang berlari kearahnya.


"Kak Dean, di mana Kak Nathan?" Tanya Mikayla dengan menoleh kearah gerbang sekolah.


Dean hanya mampu tersenyum getir di dalam hatinya, "Tidak tahu, dia tadi bersama Laura." Jawab Dean jujur.


Mikayla hanya ber oh ria, hawa dingin semakin terasa karenna hujan yang mulai di iringi angin. Terlebih hari semakin petang tambahlah hawa dingin dapat menembus tulanng.


"Kamu bisa sakit jika seperti ini, ayo aku antar pulang." Ucap Dean yang melepaskan jaket jeansnya dan di kenakan kepada Mikayaa.


Keduannya tidak sadar jika mobil Nathan juga keluar dari gerbang sekolah, Mikayla yang melihatnya memiringkan kepalanya agar Nathan tahu jika dirinya menunggu dia pulang.


"Lihat, sudah aku bilang jika Dean menyukai Mikayla. Tidak mungkin seorang pria rela melepas jaket untuk seorang gadis bahkan kamu saja belum pernah melakukan itu kepadaku." Kata Laura menyiram bengsin dalam kobaran api yang menyala dalam hati Nathan.


Nathan hanya menatap datar nan tajam dari dalam mobil, bahkan kedua tangannya sudah mencengkram kuat stir mobil miliknya.


"Sudahlah sayang, lebih baik kita tinggalkan mereka saja. Lagipula Mikayla menunggu Dean pulang bukan kamu," Lanjut Laura yang semakin menambah kadar kemarahan Nathan.


Nathan langsung menancap gas meninggalkan area sekolah tanpa menyapa keduanya, Mikayla yang melihat hanya dapat menatap sedih dengan hati sakit. Ternayta benar apa yang ada di dalam benaknya setelah mendengar ucapan para siswa kelas dua belas.

__ADS_1


Jika Nathan begitu mencintai Laura, bahkan saat tahu Laura sakit dia tetap setia berada di sampingnya. Apa mungkin Nathan bisa mencintainya saat tahu jika dia juga sakit bahkan bisa sewaktu-waktu meninggal  dunia?


Memandang wajah sedih Mikayla, secara implusif Dean menarik gadis yang akan menangis ke dalam pelukannya. Mikayla yang berusaha tegar akhirnya tetap lemah, dia menangis dengan diam dalam pelukan Dean. Dengan penuh kasih sayang Dean memberikan dadanya sebagai tempat bersandar.


"Jangan menangis, perjuangannmu baru di mulai Mika." Ucap Dean berbisik di telinga Mikayla.


Mikanya hanya mengangguk tetapi tetap mengeluarkan air matanya, "Ayo aku antar pulang, hari sudah malam." Ajak Dean kembali.


Dean dan Mikayla berlari cepat kearah mobil sport merah, beruntung jaraknnya hanya dekat sehingga tidak begitu membuat jantung Mika bekerja dengan keras.


Segera Dean mengambil beberapa tisu yang terletak di dasbor mobilnya dan meyeka air yang terkena di rambut Mikayla, Mika sedikit kaget dengan gerakan reflek Dean yang sudah di luar tindakan tersebut.


"Mika bisa sendiri, Kak." Ucap Mika dengan mengambil tisu di tangan Dean.


"O-oh, baiklah." Jawab Dean gugup.


Mika menyeka air yang membasahi rambutnya, beruntung Dean mengenakan dia jacket sehingga air hujan tidak mengenai langsung seragam sekolahnya.


Pandangannya turun menuju bibir cherry Mika yang berisi dan merah itu membuat Dean segera menggeleng dengan cepat, "Ingat, Dean. Mika istri orang!" Ucapnya dalam hati dengan gerakan kepala mengangguk.


Mikayla yang melihatnya menatap heran, "Kakak baik-baik saja?" Tanyanya.


"Eh, kamu tanya apa." Jawab Dean kaget.


"Kakak jangan melamun di jalan, aku masih ingin hidup loh." Omel Mikayla degan bibir mengerucut beberapa inci kedepan.


"Hhaha, bercanda ... bercanda, oh iya kita mampir makan dulu ya di dekat-dekat sini. Sepertinnya ada cafe sih, tapi aku tidak yakin." Jawab Dean dengan kepala yang melihat kearah kiri dan kanan.


Mikayla tampak familiar dengan jalan terssebut, ini bukanlah jalan yang biasa dia lewati saat pulang. "Kak, kita mau ke mana? Inni bukan jalan ke apartemen mauoun mansion." Tanya Mikayla melihat Dean dari samping.

__ADS_1


"Aku sengaja ingin berjalan-jalan, bukankah kamu ingin ice cream. Aku akan mentraktirmu hari ini." Jawab Dean dengan membelokkan ke arah parkiran sebuah cafe.


Dean dengan cepat keluar dari dalam mobil setelah melepas seat beltnya, dan membukakan pintu untuk Mika. Beruntung hujan mulai reda menyisakan rintik air hujan yang lembut. Mikayla juga segera keluar setelah Dean membuka pintu mobil.


Keduanya berjalan masuk ke dalam cafe setelah di sapa oleh dua pelayan cafe yang berjaga di depan pintu masuk, "Untuk berapa orang?" Tanya pelayan dengann sopan.


"Dua orang." Jawab Dean cepat.


"Mari ikuti saya," Kata pelayan yang berjalan di depann dan di ikuti keduanya.


Langkah Dean terhenti saat melihat di salah satu meja ada Nathan dan Laura, dengan sengaja Dean menggenggam tangan Mikayla sehingga membuat Mika kaget dan ingin melepaskan tangan Dean.


"Sttt ... ada Nathan dan Laura, ayo kita mulai permainan ini lagi." Ucap Dean berbisik di telinga Mikayla membuat gadis itu meremang di buatnya.


Dean berjalann bergandengan tangan dengan Mikayla ke arah meja Nathan, "Hai, bro ketemu lagi kita." Sapa Dean dengan senyum cerahnya.


Mikayla menoleh kearah Dean dengan pandangan bingunng, baru satu menit yang lalu dia tampak dingin dan penuh ambisi tapi sekarang dia berbalik seratus delapan puluh drajat menjadi Dean yang ceria dan slengekan.


Laura yang melihat keduanya sontak saja langsung merangkul lengan Nathan dengan mesra, "Hay, Dean ... Mika, kalian juga ingin makan di tempat ini?" Tanya Laura dengan ramah.


"Iya, so. Kami pergi dulu karena meja kita sudah selesai dibereskan. Ayo Mika." Jawab Dean dengan menoleh kearah Mika tersenyum hangat.


Laura dan Mika sama-sama terpesona dengan senyum Dean kali ini, berbeda dengan Nathan yang sudah mengepalkan tangannya di bawah meja dengan pandangan tajam penuh amarah yang siap untuk dia ledakkan saat ini juga.


Mikayla mengangguk kaku tetapi pandangannya masih menatap lekat pada wajah tampan kakak kelasnya tersebut, tapi gerakan mereka terhenti saat Nathan bersuara.


"Kenapa tidak di sini saja, masih ada dua kursi kosong di depanku." Ucap Nathan menatap tajam kepada keduanya.


Laura tampak tidak berkenan, bahkan dia ingin memprotes tetapi kalah cepat oleh Dean. "Baiklah, kita makan bersama di sini saja ya Mika. Tidak enak juga jika hanya makan berdua di cafe, lain waktu aku akan mengajakmu ke restoran bersama keluargaku." Kata Dean yang membuat Mikayla melebarkan kedua matanya bahkan Nathan hampir berlari menghajar wajah sahabatnya tersebut tetapi di tahan oleh Laura.

__ADS_1


Laura merasa sangat sakit dan sedih, karena mendapati respon Nathan yang berbeda pada wanita yang tengah berjalan menuju kursi di depan Nathan. "Apa Nathan sudah mencintai Mikayla?" Ucapnya dalam hati.


__ADS_2