Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
PEMBONGKARAN MAKAM


__ADS_3

Happy Reading


"Nath, kamu yakin?" Tanya Zaki dengan wajah paniknya.


"Tentu saja, aku tidak pernah bercanda menyangkut rumah tanggaku." Jawab Nathan yang mulai berjalan meninggalkan Zaki.


Lantas, Zaki berlari menyusul Nathan. Dia segera masuk kedalam mobil sebelum Nathan benar-benar meninggalkannya. Mobil Nathan mulai bergerak perlahan meninggalkan tempat keduanya berbicara, laju mobil Nathan begitu kencang menembus jalanan yang sudah mulai gelap.


"Nath, aku harap kamu hanya bercanda. Jika kita membongkar makam Mikayla, bagaimana keluargamu dan keluarganya. Terlebih ini akan melibatkan kepolisian," Ucap Zaki mengingatkan.


"Akan aku hadapi sendiri, tapi jika memang benar Mikayla masih hidup. Aku akan menuntut pertanggung jawaban mereka semua." Jawab Nathan dengan tegas.


Zaki hanya diam tidak menjawab, tetapi jika dia berada di posisi Nathan pasti akan melakukan segala cara untuk membuktikan apakah benar Mikayla masih hidup. Kini mobil Nathan sudah berhenti di salah satu kantor kepolisian, segera Nathan dan Zaki keluar dan berjalan masuk ke dalam kantor polisi.


Di sana, terjadi perdebatan yang alot karena Nathan meminta untuk mendampingi pembongkaran makam. Tetapi pihak kepolisian tidak mengizinkan karena kematian dari Mikayla wajar akibat penyakit bukan pembunuhan.


"Kami tidak bisa melakukannya, karena jenazah bukan korban pembunuhan." Jawab kepala polisi.


"Aku hanya ingin memastikan jika orang yang meninggal itu bukan istriku melainkan orang lain, bukankah itu juga salah satu tindakan kriminal? Memalsukan kematian seseorang dan menggantikannya dengan orang lain." Jawab Nathan dengan cepat tanpa bantahan.


Hingga akhirnya Nathan menggunakan kekuasaan keluarga Wijayakusuma yang membuat kepolisian berfikir kembali.


"Beri kami waktu." Ucap kepala kepolisian.


"Tidak, aku ingin secepatnya di tangani." Tolak Nathan dengan tegas.


Kepala kepolisian memberikan kode agar Nathan dan Zaki keluar dari dalam kantornya, tidak ada perlawanan dari keduanya karena mereka tidak ingin gagal. Melihat keduanya keluar, kepala kepolisian segera menghubungi keluarga Wijayakusuma dan Anderson karena dia tahu betul makam siapa yang akan di bongkar.


Cukup lama kepala kepolisian menghubungi dua keluarga besar tersebut, hingga dia beranjak dari kursi kebesarannya. Dia berjalan keluar, ternyata Nathan dan Zaki masih dengan kukuh menunggunya.


"Baiklah, ayo!" Ucap polisi.


Segera beberapa polisi dan kepala polisi berjalan keluar menuju mobil polisi, sedangkan Nathan dan Zaki masuk di mobil sendiri. Tampak mobil pribadi dan dua mobil polisi berjalan beriringan seperti konvoi menuju pemakaman di mana Mikayla di kurkan,

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan waktu malam, tetapi tidak membuat Nathan menyerah dengan waktu, Cukup sudah waktu lima tahun meratapi kepergian sang istri dan penebusan dosa, jika memang benar Mikayla masih hidup dengan senang hati Nathan memperjuangkan kembali istrinya.


Cukup lama menempuh perjalanan, hingga kini mereka telah sampai di tempat pemakaman. Tampak di sana sudah ada beberapa para medis dan ahli forensik yang sudah lebih dulu sampai, Nathan dan Zaki tidak memikirkan apapun mungkin kepala polisi yang menghubungi mereka tetapi percayalah kembali pada kekuasaan dua keluarga besar.


Nathan melangkahkan kakinya dengan lebar di ikuti oleh Zaki, kini semua orang mengerumini satu titik makan dengan marmer putih tersebut, tampak foto gadis cantik yang tengah tersenyum.


"Bongkar." Ucap Nathan dengan suara datar nan dingin.


Penggali kubur membongkar makan tersebut dengan cepat dan hati-hati, Nathan menyaksikan semuanya dengan berdiri tegak tanpa bergeser sedikitpun. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, sedangkan pandangannya terus tertuju pada pusaran Mikayla.


Sudah hampir dua jam, kini penggali makam mulai naik karena usia jasad di dalam tanah berusia lima tahun. Hingga tim ahli forensik masuk untuk mengambil sisa tulang dari jenazah yang di kuburkan di dalam makam. Nathan tetap menyaksikan semuanya bahkan saat sudah di pastikan tidak ada yang tertinggal di dalam makam, kini tulang-tulang yang di yakini bukan Mikayla sudah di masukkan dalam sebuah plastik klip untuk di periksa kembali.


"Kapan aku mendapatkan hasilnya?" Tanya Nathan dengan wajah datar.


"Cukup lama, karena kami harus menyocokkan dengan benar." Jawab petugas.


"Aku ingin secepatnya, aku akan membayar lima kali lipat dari gaji kalian. Segera kirimkan hasilnya kepadaku," Ucap Nathan tanpa ragu.


Para petugas yang mendengarnya tentu saja senang tetapi mau sebanyak apapun bayarannya tetap harus mengikuti prosedur. "Kami tidak bisa menjanjikannya, Tuan. Tetapi kami akan berusaha semaksimal mungkin." Jawab petugas yang kemudian beranjak dari hadapan Nathan.


Nathan hanya menghela nafas, sekali lagi dia melihat pusaran makan Mikayla yang masih terbuka. "Aku pastikan kamu masih hidup sayang, bagaimanapun kita akan kembali bersatu." Ucap Nathan dari dalam hati.


"Ayo!" Zaki menarik Nathan agar segera pergi dari makam karena hanya melamun dengan menatap pusaran Mikayla.


Nathan dan Zaki kini masuk ke dalam mobil, Zaki yang mengambil alih untuk menyetir mobil karena dia takut Nathan tidak konsentrasi akibat kejadian hari ini.


"Kamu ingin pulang ke mana?" Tanya Zaki tanpa melihat kearah Nathan.


"Apartemen." Jawab Nathan singkat dengan memejamkan kedua matanya.


"Baiklah, aku akan menginap sekalian. Besok pagi antarkan aku pulang." Ucap Zaki yang hanya mendapatkan gumaman dari Nathan.


Zaki mulai melajukan mobil Nathan hingga bergerak meninggalkan area pemakaman, dia menyetir dengan kecepatan sedang mengingat jika waktu sudah menunjukkan tengah malam. Zaki orang yang begitu pemikir, benar jalan raya sepi saat tengah malam tapi bagaimana jika ada sesuatu yang lewat dan membuat keduanya celaka.

__ADS_1


Dengan tenang Zaki menyetir mobil milik Nathan, hingga tanpa terasa sudah sampai di gedung apartemen milik temannya. Dia melajukan mobilnya perlahan memasuki basement apartemen dan memarkirkannya dengan benar, hingga Zaki mematikan mesin mobil.


Suara seat belt terbuka, Zaki yang sudah membuka pintu mobil menoleh kesamping. Terlihat Nathan sudah tertidur di kursinya. Helaan nafas panjang hanya mampu Zaki hembuskan, dia mulai masuk kembali untuk membangunkan temannya.


"Nath, kita sudah sampai." Ucap Zaki dengan menggoyangkan lengan Nathan.


Beberapa kali Zaki melakukannya hingga Nathan membuka kedua matanya, "Oh, sudah sampai?" Tanya Nathan dengan menguap.


"Sudah, ayo cepat turu. Aku benar-benar ingin merebahkan tubuhku." Jawab Zaki yang kini sudah benar-benar keluar dari dalam mobil Nathan.


Keduanya berjalan kearah lift, Nathan memencet tombol menuju unit apartemennya sedangkan Zaki hanya bersandar dengan menahan kantuk.


"Memang kamu bertemu Mikayla di mana, Nath?" Tanya Zaki.


"Tadi aku tidak sengaja melihatnya di sebuah halte bis." Jawab Nathan jujur.


"Lalu, kamu mengejarnya dan dia tidak mengenalimu?" Ucap Zaki yang di angguki oleh Nathan.


"Aku takut, Za." Kata Nathan sendu.


"Takutt kenapa?" Tanya Zaki heran.


"Takut jika benar dia Mikayla, dia akan pergi jauh dariku." Jawab Nathan lirih.


"Tenang saja, Mikayla minggu depan sudah masuk kuliah. Dia satu universitas denganku." Kata Zaki yang membuat Nathan langsung menoleh kearahnya.


"Ke-kenapa?" Kata Zaki kembali dengan terbata.


"Kamu harus membantuku," ucap Nathan dengan kedua mata yang berkobar.


Zaki mengangguk dengan cepat, beruntung lift sudah terbuka segera Zaki keluar dan diikuti Nathan. Nathan sudah membuka pintu apartemen dan keduanya berjalan masuk, "Kamu tidurlah di kamar itu, besok aku akan mengantarkanmu." Ucap Nathan dengan menujuk kamar yang dulu di siapkan untuk Mikayla.


"Baiklah,"Jawab Zaki.

__ADS_1


Nathan tidak langsung masuk kedalam kamar utama, dia membuka lemari pendingin untuk mengambil air minum. Saat Nathan tengah meneguk air minum, dia menoleh karah ruang televisi ternyata Zaki sudah tertidur di atas sofa dengan telentang.


Hal itu hanya membuat Nathan menggelengkan kepalanya pelan, segera Nathan masuk ke dalam kamar utama dan merencanakan langkah selanjutnya. Karena Nathan sadar, ini tidak akan mudah untuk menerjang hati Mikayla kembali terutama Luis. Nathan masih sangat ingat tatapan penuh kebencian itu.


__ADS_2