
Angin siang berhembus kencang, membawa terbang hawa panas dari teriknya matahari hari itu.
Bastian berlari tergesa-gesa saat mendapat laporan dari anak buahnya yang mengatakan bahwa gadis yang ia selamatkan pekan lalu menghilang lagi.
Rasa khawatir menyerang setiap sendiri dimana peredaran darah Bastian mengalir, apalagi ini, pikirnya.
Bastian tidak bisa membayangkan bahaya apalagi yang akan di hadapi Rania, gadis malang yang bahkan bernapas dengan tenang pun sangat sulit baginya.
Bastian pikir setelah membawanya pergi dari Bali, Bastian bisa menjamin keselamatan gadis itu karena sudah sangat jauh ia membawa dari tempat penyekapan.

Sambil berlari ke parkiran, laki-laki itu menghubungi temannya untuk meminta bantuan, dengan intonasi yang tidak bisa dikatakan baik, Bastian bagai kehilangan akal saat itu.
"Jangan banyak tanya, lakukan saja yang aku perintahkan!" Bentaknya, ada rasa khawatir dan marah yang besar pada kalimatnya.
__ADS_1
Setelah memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, Bastian masuk ke dalam mobilnya, dengan sigap ia melesatkan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Bastian memukul kemudinya berkali-kali untuk meluapkan rasa emosinya yang besar, emosi yang tercipta karena rasa sesal sudah meninggalkan gadis itu.
Sesampainya di apartemen, Bastian membanting apa pun yang ada disana, bahkan ia menendang salah satu anak buahnya.
"Dasar tidak bejus!" Sekali lagi sebuah meja tumbang karena tendangan maut bastian.
Sementara Bastian mengamuk meluapkan rasa sesal dihatinya, seorang yang sangat ia percaya sedang berbagi tugas untuk menemukan apa pun yang bisa menjadi petunjuk, dari memeriksa rekaman CCTV dan menggeledah apartemen Bastian sampai di sudut paling kecil pun.
Sebuah aksesoris yang sengaja di buat untuk menandakan sebuah identitas suatu kelompok organisasi bawah tanah yang sangat di takuti.

"Tuan, lebih baik Anda berhenti, mereka terlalu berbahaya," Joe menasehati Bastian yang masih termenung sambil memandang aksesoris itu.
"Benar, Bas. Berhentilah, lagian kau juga tidak tahu siapa gadis itu 'kan?" sambung Morgan teman Bastian, ia adalah seorang detektif swasta yang sudah berpengalaman.
__ADS_1
Bastian masih diam, ia menimbang segala konsekuensi jika ingin menyelamatkan Rania dari jeratan para mafia kelas kakap itu.
Jika hanya mengandalkan pasukan, jelas Bastian akan kalah, apa ia harus mengikuti saran dari kedua orang temannya itu saja. Sungguh dilema ini selalu datang sejak ia bertemu dengan Rania.
"Aku yang akan pergi sendiri kesana," ucap Bastian dingin.
"Hanya aku, tidak ada yang boleh ikut." timpalnya lagi, lalu ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan juga membawa beberapa amunisi untuk melindungi dirinya.
Rasa di hatinya begitu besar untuk menyelamatkan gadis itu, lagian ini sudah terlalu jauh untuk berhenti.
Tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan Joe dan Morgan hanya diam saat melihat Bastian memakai pakaian yang sudah lama tidak pernah ia pakai lagi.
"Aku tidak ingin kalian mengacaukan semuanya, ku harap kalian bisa menahan diri," ucapnya sebelum benar-benar keluar dari apartemennya.
Morgan hanya menggelengkan kepala, sedangkan Joe mengangkat bahu acuh. Joe sudah melihat sendiri bagaimana interaksi keduanya, begitu dekat dan akrab.
Joe juga sudah menduga bahwa tuannya tidak akan tinggal diam setelah tahu kemana arah tujuannya untuk menyelamatkan gadis kecil itu lagi.
__ADS_1