
Happy Reading
Bel istirahat sekolah berbunyi, para siswa segera berhamburan keluar termasuk Nathan yang berjalan keluar seorang diri. Sedangkan Dean entah sudah pergi ke mana, kejadian kemarin membuat hubungan keduanya merenggang.
Nathan dan Dean sama-sama pria yang keras kepala hanya pembawaan dari luar berbeda. Kini Nathan duduk di salah satu meja kantin dengan membawa kotak bekal makan siang yang Mika berikan, "Bang, es jeruk satu ya!" Seru Nathan kepada salah satu penjual.
"Saya juga, Bang. Satunya tidak terlalu manis ya karena yang manis-manis sudah disamping saya." Saut Dean dengan guyonannya.
"Widih, hati-hati diabetes." Jawab penjual minuman menimpali guyonan Dean.
Mika yang berdiri di samping Dean sontak saja memukul lengan kakak kelasnya tersebut, dengan wajah cemberut tetapi malu-malu kucing Mikayla duduk disebrang meja Nathan.
Nathan dan Mikayla saling melihat tetapi pandangan mereka terputus karena kedatangan nenek lampir Laura, "Sayang! Kenapa tidak menjemputku di kelas?" Tanya Laura dengan wajah cemberut.
"Yaelah, dijemput segala apa perlu dibantu untuk berjalan juga?" Ucap Mikayla dengan senyum remehnya.
Laura menatap sengit kearah Mika, tetapi dengan cepat dia mengalihkan pandangannya karena tatapannya bertemu dengan Dean. Mikayla yang merasa aneh hanya menyerengitkan dahinya dalam, biasanya gadis itu tidak akan terima dengan apa yang dia ucapkan.
"Ini minumannya!" Ucap penjual es yang datanng menyuguhkan pesanan ketiganya.
"Neng, mau pesan gak?" Tanya penjual.
"Tidak," Jawab Laura lembut.
Pandangan Laura tertuju pada kotak bekal makan siang yang kinni sudah di buka oleh Nathan, tampak nasi yang berwarna coklat dengan beberapa telur orak-asik, dan satu telur mata sapi.
"Ini kamu yang masak?" Tanya Laura menatap heran kearah Nathan.
"Bukan," Jawab Nathan jujur.
__ADS_1
Laura melirik kearah Mika, "Astaga, makanan macam apa itu sayang! Sudah buang saja, nanti perutmu sakit, lihat warnanaya seperti minyal jelantah warna pekat." Ucap Laura dengan nada jijik.
Mikayla yang mendengarnya hanya mampu mengigit gemas bibi bawah, jika dia menjawab maka semua siswa akan tahu status pernikahan mereka. Dean hanya memandang keadaan, meskipun ada rasa cemburu tapi Dean berusaha berfikir dengan waras.
"Tidak apa-apa, kamu jika tidak mau makan siang kembalilah kekelas." Kata Nathan yang mulai menyedok nasi goreng buatan Mika.
Laura mendengus kesa, dia merebut sendok yang berada di tangan Nathan dengan cepat, dan memasukkan nasi yang akan Nathan makan.
Segera saja Laura memutahkan kembali nasi goreng tersebut dan memin air es jesruk milik kekasihya, "Astaga! Apa pembantumu tidak becus memasak, bagaimana ini di sebut nasi goreng. Rasanya saja seperti kecap satu liter dituang dalam masakan, dan juga sangat asin." Laura kembali menghina masakan milik Mikayla.
"Siapa yang menyuruhmu memakan masakan ini!" Seru Nathan kesal karenna dia tidak suka dengan sikap Laura yang terlewat batas.
Segera Nathann meninggalkan uang lima ribu di meja untuk membayar minnumannya dan segera berlalu dari hadapan laura dengan membawa kotak bekal makan siang, Mikayla yang melihatnya tertegun sesaat karena Nathan tidak membuang makanannya padahal Mika memang sengaja memasukkan banyak garam dan micin di dalamnya.
Senyum kemenangan dia tunjukkan kepada Laura, Laura hanya mengepalkan tangannya, dan berlalu dari kantinn sekolah. Dean yang penasaran rasa masakan Mika sontak saja bertanya, "Memang itu benerann asinn?" Tanya Dean berbisik.
Mikayla mengangguk, "Sengaja aku masukkan banyak garam dan micin." Jawab Mikayla membuat Dean menahan tawanya.
Kini, Nathan tengah berada di taman belakang sekolah. Dia duduk di salah satu bangku taman dan kembali membuka bekal makan siang miliknya, memang penampakannya sangat mengkilat coklat kecap. Baru saja dia akan memakannya sudah di kagetkan dengan kedatangan orang yang menjengkelkan sejak bayi.
"Kak!" Seru Kinan dengan mengagetkannya.
Nathan menghela nafas panjang, dia menatap tajam adik satu-satunya tersebut. Seolah Kinan tidak tahu dia langsung duduk di sebelah kakanya.
"Wah, masakann siapa ini? Kenapa jelek sekali, ini masakan kakak oh bukan sepertinnya Mikayla." Kinann bertanya dan menjawab pertanyaannnya sendiri.
Tanpa permisi, Kinan memasukkan satu sendok nasi goreng buatan Mika. Yang awalnya wajahnya cerah kini tampak menahan sesuatu, tetapi dengan sekuat tenaga Kinan tetap menelannya.
"Sangat enak! Kakak harus menghabiskannya, cepat makan akan Kinan tunggu." Ucap Kinan yang membuat Nathan menatap curiga.
__ADS_1
Kinan hanya tersenyum manis dengan meminum air mineral yang dia bawa, Nathan dengan setengah hati mulai menyuapkan nasi goreng buatan Mika pagi ini, rasanya seperti bom atom yang meledak di dalam mulut. Gerakannya terhenti dengan cepat Kinan memegang rahang sang kakak agar tidak memuntahkan masakan Mika.
"Telan kak, telan!" Serunya dengan tertawa riang.
Nathan melotot kearah Kinan, tetapi gadis itu tidak peduli. Pokoknya sahabatnya itu harus bahagia bersama sang kakak, "Telan, kak. Ingat ini masakan istrimu." Ucap Kinan lagi.
Dengan kasar Nathan menelan masakan sang istri, Kinan segera memberi air putih yang dia bawa kepada sang kakak. Akhinya Nathan menghabiskan masakan Mika sekaligus air putih satu botol penuh, Kinan yang melihatnya tersenyum puas.
"Puas kamu." Ucap Nathan dingin bercampur kesal.
Kinan hanya tertawa, "Sudah aku mau ke toilet. Tidak kuat lagi aku menahan kencing." Kinan segera berlari menuju kamar mandi perempuan. Nathan hanya menatap dengan menggelengkan kepalanya karena tingkah Kinan yang berbeda dengan dirinya apalagi Mika.
"Kenapa bisa gadis kaku itu bersahabat dengan Kinan." Ucapnya pelan.
Kinan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi, dia segera menuntaskan sesuatu yang hampir meledakkan kantung kemihnya. Tidak berselang lama, dia keluar dari salah satu bilik kamar mandi bertepatan dengan Mika yang baru saja masuk.
Keduanya hanya saling melihat, Mika enggan untuk menegur Kinan yang tengah marah kepadanya. Kinan yang merasa Mikayla tidak merasakan apa yang tengah dia rasakan tentu saja marah.
"Apa kamu akan terus seperti itu." Ucap Kinan dengan dingin tetapi kedua matanya berkaca-kaca memandang Mika dengan intens.
Mika hanya memasang wajah datar, "Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menanngis agar kamu mengasihaniku, agak Kak Nat- ekhm agar dia berada di sisiku karena hal sepele itu?" Jawab Mikayla tegas.
Kinan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat-kuat, "Apa kamu akan terus bersandiwara seperti ini, apa kamu tidak kasihan kepada Kak Nathan!" Seru Kinan dengan air mata yang sudah meleleh.
Sontak saja ucapan Kinan yang keras membuat Mika reflek menutup mulut sahabat sekaligus adik iparnya tersebut, dia melihat sekeliling beruntung kamar mandi perempuan kosong.
"Jaga ucapanmu, Kinan." Tegas Mikayla.
Kinan melepaskan bekapan tangan Mikayla, "Tidak! Aku akan mengatakan sejujurnya kepada Kak Natha, dia berhak tau kondisimu Mikayla." Jawab Kinan dingin seperti Alice ketika marah.
__ADS_1
Tanpa keduaya sadari, di luar kamar mandi ada seseorang yang mendengar semuannya. Senyum licik muncul di wajah cantiknya dengan penuh percaya diri dia melenggang pergi meninggalkan dua gadis yang tengah menangis di dalam kamar mandi.