
Happy Reading
Sudah dua hari Mikayla mendapatkan perawatan di rumah sakit, selama dua hari pula Nathan tidak mencarinya karena dia sibuk dengan Laura. Mengetahui jika Laura memiliki sakit jantung membuat Nathan selalu ada di sisinya.
Beruntung Mikayla didampingi oleh Luis dan Dean, meskipun Mikayla sedih karena Nathan tidak mencarinya tidak masalah untuknya. Setelah kembali putih dia dapat bertemu lagi dengan suaminya.
“Mika, hari ini kamu boleh pulang. Mau aku antar atau dijemput oleh Luis?” Tanya Dean yang sejak tadi diam melihat Mikayla melamun.
“Aku bisa pulang sendiri.” Jawab Mika tanpa melihat kearah Dean.
“Tidak bisa, ayo aku antar ke mansion.” Tolak Dean dengan tegas.
Mikayla menoleh kearah Dean, “Mika ingin pergi jalan-jalan.” Ucap Mika yang di angguki oleh Dean.
“Baiklah kita ke taman saja, ada taman yang baru saja di buka.” Jawab Dean yang sudah bangkit dari duduknya.
“Ayo, Mika akan menghubungi Kak Luis dulu agar dia tidak khawatir.”
Mikayla segera mengirim pesan singkat kepada Luis dan juga Kinan agar sahabatnya tersebut tidak khawatir, saat Kinan bertanya di mana keberadaannya Mika hanya menjawab sedang berlibur di tempat yang sejuk.
Dean dan Mika keluar dari ruang rawat inap beriringan, dengan pelan Dean menyamakan langkah kakinya. Seulas senyum tipis muncul di bibir Dean, dia menoleh kearah Mikayla yang tampak wajahnya selalu datar dan dingin.
“Mika,” Panggil Dean saat menunggu lift.
“Apa?” Tanya Mika yang menoleh kearah Dean.
“Apa bibirmu terasa kaku?” Tanya Dean yang membuat kening Mikayla berkerut dalam.
“Makhsudnya? Stroke?” Ucap Mikayla bingung.
__ADS_1
“Bukan, makhsudku apa kamu tidak bisa tersenyum. Karena sejak awal mengenalmu kamu hanya sesekali tersenyum dan itu sangat jelek.” Jelas Dean dengan wajah mengejek tetapi lucu dimata Mika.
“Memangnya orang senyum harus selebar apa?” Tanya Mika dengan wajah malas.
“Lihat … lihat … wajah ini yang sangat menyebalkan, kenapa bisa kalian berdua memiliki wajah yang kaku. Apakah saat kecil mandi air formalin atau bagaimana?” Oceh Dean kepada Mikayla di dalam lift.
Mika hanya bersedekap dada memandang wajah Dean yang memandangi wajahnya dengan bergerak kekiri dan kekanan, hingga pintu lift terbuka segera Mikayla berjalan keluar terlebih dahulu dan Dean menyusul.
“Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil mobil.” Ucap Dean yang segera berlari menuju parkiran mobil.
Mikayla hanya menengadahkan kepala dan menyipitkan kedua matanya, langit hari ini sangat cerah nan terik tetapi warna birunya begitu indah dan menenangkan.
“Piknik di taman pasti menyenangkan, apa aku pulang saja ke apartemen mengajak Kak Nathan piknik bersama hari ini,” Ucap Mikayla pelan kepada dirinya sendiri.
Suara klakson membuyarkan lamunan Mikayla, segera Mikayla masuk ke dalam mobil Dean dan perlahan meninggalkan area rumah sakit.
Dean menoleh, “Kenapa kamu masih ingin kembali kesana, dia saja tidak ingat denganmu dua hari ini. Dia sibuk dengan kekasihnya dan kamu masih ingin kembali kepadanya?” Cecar Dean kesal.
“Kakak sudah tau semunyanya, bisakah kakak tidak marah kepadaku tentang hal berkaitan pernikahanku dengan Kak Nathan?” Ucap Mikayla tidak kalah kesal seperti Dean.
Dean hanya mendengus kesal, dia menjalakan mobilnya menuju apartemen sesuai permintaan Mikayla tanpa banyak tertanya lagi. Hingga lima belas menit akhirnya mobil telah sampai disalah satu gedung apartemen.
Mikayla segera membuka seat belt miliknya dan berjalan keluar dari dalam mobil, “Terima kasih, kak.” Ucap Mikayla tulus.
Dean hanya mengangguk, dia segera menjalankan kembali mobil setelah pintu ditutup oleh Mikayla. Mika hanya dapat menatap nanar mobil yang semakin menjauh dari pandangannya, dia kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam apartemen.
“Ah, sebaiknya aku pergi berbelanja buah dulu sebentar di supermarket itu.” Ucap Mikayla yang mengingat ada supermarket di lantai basement apartemen.
Mengambil satu buah trolly berukuran sedang dan mulai berjalan menyusuri setiap rak, memang Mika tidak diberi uang oleh Nathan. Tetapi orang tua Nathan secara rutin mengirimkan uang ke dalam rekening Mika dan Nathan setiap bulannya.
__ADS_1
Mikayla mengambil berbagai buah tropis seperti, semangka, melon, pisang, rambutan, kelengkeng, dan tidak lupa juga beberapa sayuran serta lauk untuk makan malam hari ini. Mikayla mengingat janjinya kepada Luis, jadi mulai sekarang dia harus belajar memasak.
Setelah dirasa cukup, Mikayla segera mendorong troli menuju kasir. Dia mengantri dengan tertib hingga tiba gilirannya. Mika segera meletakkan barang belanjaannya di atas meja yang bergerak kearah kasir secara otomatis.
“Totalnya, delapan ratus ribu.” Ucap kasir.
Mikayla mengeluarkan black card miliknya sendiri, dia tidak menyentuh uang pemberian dari mertuanya yang berada di kartu debit lainnya. Setelah selesai membayar segera Mikayla berjalan naik lift menuju lantai di mana unit apartemennya berada.
Dengan langkah ringan dan wajah bahagia, dia menanti dengan rasa tidak sabar di dalam lift. "Kak Nathan di apartemen tidak ya, atau dia pergi keluar menemui wanita gatal itu... ck menyebalkan." Ucapnya pada diri sendiri.
Tidak membutuhkan waktu lama pintu lift terbuka, Mikayla segera berjalan keluar dengan dua kantong kresek hasil belanjaannya di suprmarket bawah. Keningnya berkerut dalam karena pintu masuk apartemen terbuka sedikit tidak terkunci.
"Bagaimana bisa terbuka, jangan-jangan ada pencuri di dalam, astaga bagaimana ini. Aku harus menghubungi polisi? Tidak-tidak pasti menuggu lama pencuri keburu pergi."
Mikayla menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu, dia melihat payung yang disenderkan didekat apartemen tetangga, "Maaf, Mika pinjam dulu." Ucapnya.
Mika mendorong pintu apartemen pelan agar tidak menimbulkan suara, dia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru isi apartemen. Hingga pandangannya terkunci pada dua sosok yang tengah berada diruang televisi, hatinya begitu sakit melihatnya.
Dia meletakkan payung milik tetangga di luar apartemen, gerakannya terhenti mendengar obrolan kedua orang yang tampak serius. Dengan tangan gemetar, Mika berusaha tegar menerima semuanya.
Tetapi bagaikan disambar petir saat siang hari, mendengarkan perkataan yang tidak pernah dia sangka akan keluar begitu mudahnya. Membuat Mikayla begitu jijik dengan kilatan amarah yang sudah berada di ubun-ubun.
Bruk!
Mikayla menjatuhkan barang belanjaannya di atas lantai sehingga membuat atensi kedua orang yang tengah duduk berhadapan terperanjat kaget.
"Mika." panggillnya pelan.
__ADS_1