Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
SALING MENGUATKAN


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Pasti kamu sudah lupa, karena kita bertemu saat kamu masih kecil. Perkenalkan, aku Neni panggil saja Tante Neni. Tante sahabat dari saudari ibumu Putri." Jawab Neni dengan tersenyum hangat.


Mikayla hanya tersenyum dan mengangguk, "Salam kenal Tante Neni," ucap Mika sopan.


Neni yang melihat Mikayla berdiri tegap di hadapannya bahkan dalam keadaan sehat, sangat terharu. Dia tahu jika Mikayla masih hidup tentu saja dari Putri sang sahabat sehingga dia tidak pingsan saat melihat Mikayla.


"Kamu mau bertemu Tuan Sky atau Langit?" Tanya Neni yang kembali ke topik utama.


"Mika mau bertemu Paman Sky, apa Paman ada di kantor?" Jawab Mikayla lembut.


"Ada, langsung saja ke ruangannya. Atau Tante telfonkan terlebih dahulu dari sini?" Ucap Neni yang masih dalam suasana bahagia.


"Tidak perlu, Tante. Biar Mika beri kejutan untuk Paman Sky, jika begitu Mikayla naik dulu ke ruangan Paman. Sampai jumpa Tan." Jawab Mikayla yang melangkah pergi meninggalkan Neni dengan melambaikan tangannya.


Neni tentu membalas lambaikan tangan tersebut dengan wajah yang bahagia bercampur haru, "Coba jika anak nenek sihir itu belum menikah, bisa kali aku jodohkan dengan anakku." Ucap Neni yang terkekeh sendiri.


Mikayla menyapa dengan ramah pegawai di perusahaan Sky, dia berdiri dengan tegap menunggu lift terbuka. Hanya menunggu beberapa menit akhirnya pintu lift terbuka.


"Mika." Panggilnya.


Mikayla yang tengah sibuk bermain gawainya mengangkat pandangannya, tampak pria paruh baya yang masih tampan, mempesona, dan kini tengah berdiri di depannya dengan beberapa orang berpakaian rapi di belakangnya.


"Paman Sky!" Seru Mikayla yang langsung meloncat kearah Sky sehingga membuat semuanya kaget.


"Astaga, Mika! Kamu sudah berat dan tinggi, kenapa seperti anak kecil." Keluh Sky dengan memegang pinggangnya.


Mikayla hanya terkekeh saja mendengar keluhan sang Paman, "Paman mau pergi? Akan Mika tunggu di kantor." Tanya Mikayla.


"Paman ada rapat dengan klien di luar, kamu tunggu saja di dalam ruangan Paman. Jika lapar tinggal hubungi OB." Jawab Sky cept dengan melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Siap!" Ucap Mika dengan memberikan hormat di depan Sky.


Sky hanya mengacak rambut sang ponakan dan langsung meneruskan perjalanannya bersama beberapa kepala divisi di perusahaan miliknya. Mika memandang kepergian Sky yang kemudian masuk ke dalam lift untuk membawa keruangan CEO  Perusahaan Gandratama.

__ADS_1


Denting bunyi lift berbunyi, Mikayla segera keluar dari lift untuk menuju ruangan Sky. Tampak lorong yang begitu hening dan sepi, hanya suara keyboard dari sekertaris Sky yang terdengar memenuhi lorong tersebut.


Sekertaris yang menyadari kehadiran Mikayla segera menghentikan aktivitasnya, "Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang sekertaris.


Mikayla menatap sejenak sekertaris pria yang asing baginya, mungkin sang Paman mengganti sekertarisnya lagi. "Aku keponakan Paman Sky, tadi sudah bertemu di bawah. Aku akan menunggu Paman di dalam ruangannya." Jelas Mikayla.


"Oh, baik." Sekertaris Sky segera berjalan membukakan pintu ruangan dan kemudian undur diri untuk kembali bekerja.


Tampak ruangan yang besar dan maskulin, hanya beberapa pajangan yang ada di sana juga tanaman di sudut ruangan. Benar-benar ruangan yang membosankan menurut Mikayla, Mika menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa tengah dengan menyandarkan punggungnya yang lelah.


"Apa aku akan bertemu Kak Nathan dengan cepat, bagaimana reaksiku saat bertemu lagi dengannya, dan apakah aku benar-benar sudah bercerai dengannya?"


Mikayla termenung memikirkan hal yang belum pasti, hingga dia terlonjak kaget karena pintu ruangan Sky di buka dengan kasar. Tampak seorang pria yang begitu dingin tak tersentuh semenjak di tinggal pergi oleh kekasihnya, kini menatap datar kearahnya.


"Paman sedang bertemu klien." Ucap Mika yang sudah menoleh kearah Langit.


Langit tidak menjawab, dia hanya berjalan, dan duduk di samping Mikayla setelah menutup pintu ruangan. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Langit tanpa menoleh kearah Mika.


"Baik, kakak?" Jawab Mikayla dengan menoleh kearah Langit.


"Masih tidak ada kemajuan sampai detik ini?" Tanya Mikayla yang cukup prihatin dengan kisah cinta saudaranya.


"Hem,"  Ucap Langit berdehem.


"Kakak akan menghentikan pencarian?" Tanya Mikayla lagi.


Helaan nafas panjang terdengar sangat berat, Langit menengadahkan kepalanya dengan bersandar di sofa. "Apa menurutmu aku harus selesai melakukan pencarian?" Tanya Langit kembali.


"Sudah tiga tahun, Kak. Mikayla tidak yakin jika Kak Mega masih hidup." Jwab Mikayla dengan suara lirih.


Langit terdiam sejenak, "Benar, tapi aku tetap berdoa semoga dia terdampar di suatu tempat." Jawab Langit dengan sendu.


Mikayla memeluk tubuh saudaranya dengan erat, mereka seakan menguatkan satu sama lain dengan tindakan yang berbeda. "Aku harap juga begitu." Ucap Mikayla lirih.

__ADS_1


Cukup lama mereka berpelukan hingga pintu kembali terbuka, "Apa ada sesuatu yang perlu di rayakan?" Tanya Sky yang baru saja masuk.


Langit dan Mikayla segera melerai pelukannya, "Hihi, tidak Paman. Mika hanya rindu Kak Langit saja." Jawab Mikayla berbohong.


Sky hanya mengangguk, "Bagaimana keadaanmu Mika?" Tanya Sky yang duduk di depan keduanya.


"Baik, Paman. Mika sudah sehat." Jawab Mikayla tersenyum.


"Bagus, kamu memang harus selalu sehat. Lalu kapan kamu akan masuk untuk bekerja?" Ucap Sky to the point.


"Apa paman tidak bisa berbasa-basi terlebih dahulu." Kata Mikayla dengan mengerucutkan bibirnya beberapa centi kedepan.


"Ayolah, Mika. Kamu sudah dewasa dan harus dengan cepat menentukan sesuatu tetapi harus dengan teliti dan penuh pertimbangan." Jawab Sky kepada sang ponakan.


"Minggu depan saja, Paman. Mikayla harus mempersiapkan semua hal untuk melanjutkan kuliah di sini." Ucap Mikayla dengan tersenyum tipis.


"Baiklah, sebelum kamu pergi. Kamu beberapa file yang sudah Paman sediakan agar kamu dapat mempelajarinya terlebih dahulu di rumah." Kata Sky dengan menunjuk sebuah kota kardus berwarna coklat di samping meja kerjanya.


"Sekarang? Harus banget, Mikayla bawa pulang?" Tanya Mika dengan heras.


Sky hanya mengangguk, tetapi pandangannya terarah pada anak laki-lakinya yaitu Langit. "Minggu depan, kamu dapat masuk dengan Langit dan mulai magang di perusahaan." Jawab Sky yang membuat Mikayla menoleh kearah Langit.


"Tidak bisa, Ayah. Ini sudah kita bicarakan dari jauh hari." Tolak Langit dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Ayah tidak menerima penolakan." Jawab Sky yang langsung bangkit dari duduknya menuju kursi kebesaran.


Langit juga beranjak dari duduknya, dia berjalan keluar ruangan dengan ekspresi tidak terbaca. Mikayla yang tidak paham dengan situasi di dalam merasa sungkan, akhirnya dia juga memutuskan untuk pulang.


"Paman, Mika ambil berkasnya. Mika pulang dulu ya," pamit Mika kepada Sky.


"Paman sudah menyuruh sopir perusahaan mengantarkanmu, maaf paman tidak bisa mengantarkanmu." Jawab Sky dengan melihat tumpukan dokumen di atas mejanya.


"Mika mengerti," Ucap Mikayla.


Mikayla lantas keluar dari lift setelah dari ruangan Sky, di depan sudah tersedia mobil perusahaan yang siap untuk mengantarnya. "Pak, saya naik bis karena ingin mampir ke suatu tempat." Kata Mikayla kepada sopir perusahaan.

__ADS_1


"Tapi, Nona." Sopir tampak keberatan.


"Tenang saja, Pak. Terima kasih sudah merepotkan." Jawab Mikayla yang langsung berjalan menuju halte bis tidak jauh dari Perusahaan Gandratama.


__ADS_2