Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
BAGAIMANA JIKA AKU MENYIKAINYA?


__ADS_3

Happy Reading


"Hey, Nath. Tidak perlu buru-buru kami tidak akan meminta bekalmu." Ucap Zaki dengan bercanda.


Nathan hanya diam meneguk air putih yang di bawakan oleh Mikayla juga, dia hanya menghirup udara dalam karena tenggorokannya terasa panas akibat tersedak. Nathan kembali melanjutkan memakan bekalnya.


Kepala Nathan menengadah karena melihat seseorang meletakkan makanan rinngan di atas mejanya, Dean memandangnya dengan tersenyum tipis "Kamu juga harus merasakannya." Ucapnya yang berjalan kembali ke mejanya.


"Makasih." Jawabnya.


Nathan kembali melanjutkan kegiatannya, tapi dia langsung teringat sesuatu sehingga kembali memanggil Dean. "Dean,"


Dean menoleh ke arah Nathan yang tengah menatapnya sembari memegang sendok, "Ada apa?" Tanyanya.


"Apa kamu pindah rumah?" Tanya Nathan dengan wajah datar.


Dean menaikkan sebelah alisnya, "Tidak, ada apa?" Jawab Dean jujur.


"Tadi pagi aku melihatmu keluar dari perumahan di mana Laura juga tinggal di sana, bukankah rumahmu berada di Jalan Pamungkas?" Tanya Nathan kembali dengan rasa penasaran.


Dean tersenyum mendengar ucapan Nathan, "Kamu ingin tahu saja apa tahu banget, Nath." Jawab Dean dengan bercanda.


Nathan hanya memutar bolanya malas karena dia sangat serius tetapi Dean selalu bercanda kecuali keinginannya sendiri.


"Memang nama orang tua Laura siapa? Mungkin dia tetanggaku." Dean kembali bersuara.


Nathan terdiam, diamnya Nathan membuat Dean tersenyum remeh di dalam hatinya. "Teruslah tersesat dalam kebohongan Laura, Nath." Gumamnya dalam hati.


"Hey! Nath, kenapa malah diam saja. Siapa nama orang tua Laura. Jangan bilang kamu tidak tahu?" Ucap Dean melempar kertas ke arah Nathan sehingga Nathan kembali tersadar.


"Hais, sudahlah lupakan!" Runtuk Nathan kesal kepada Dean.


"Astaga, aku heran denganmu Nath. Kamu dann Laura sudah berpacaran setahun lebih bukan, tetapi kenapa kamu tidak tahu apapun tentangnya. Coba aku tanya, apa kamu tahu makanan kesukaanya?" Tanya Dean yang kini sudah duduk di depann Nathan.


"Sayuran yang direbus." Jawab Nathan yang membuat Dean tersenyum saja.

__ADS_1


"Bukankah itu makanan kesukaan Mikayla, dia suka sayur yang direbus dengan sedikit garam terkesan hambar." Kata Dean membennarkann ucapann Nathan.


Nathan terkesikap, "Benarkah, tapi aku penasaran apa hubunganmu dengann Mikayla yang sesungguhnya. Aku sangat ingat kamu begitu tau soal dia seakan kalian hidup satu atap." Ucap Nathan dengan tersenyum getir.


"Bagaimana jika aku menyukainya, bagaimana menurutmu?" Jawab Dean yang membuat Nathan langsung menatap kedua mata Dean.


Keduanya terdiam, "Bercanda. Aku dan Mika hanya berteman, kami dekat karena Kinan juga. Kamu taulah Laura selalu menempel seperti prangko denganmu membuat aku menjadi obat nyamuk saja." Ucap Dean kembali dengan tertawa pelan.


Nathan masih diam, dia tidak mudah tertipu dengan Dean karena bagaimanapun mereka sudah berteman sejak kelas 2 SMP. Hingga guru masuk membuat para siswa termasuk Dean dan Nathan bersiap-siap kembali untuk menngikuti Try Out terakir hari ini.








Dia termenung menikmati manis dan dinginnya ice cream, hingga merasa jika ponselnya bergetar di dalam tas segera dia mengambil untuk melihat siapa yang menghubunnginnya. Ternyata ada pesan masuk dari Dean.


"Kamu di mana?"


"Mall."


"Dengan?"


"Sendiri."


"Fotokan."


"Tidak mau!"

__ADS_1


"Bocil, aku akan menyusulmu setelah ini."


Mikayla akhirnya selfi dan menngirimkan fotonya bersama ice cream, Dean yang menerimanya terasa bahagia dia senyum-senyum sendiri tanpa sadar. Membuat Nathan berfikir jika Dean tengah berbalas pesan dengan Mikayla, meskipun fikirannya memanglah benar.



Dean segera keluar kelas dengan cepat begitu selesai mengerjakan TO, dia berlari menuruni anak tangga dengan cepat karena sudah membuat Mikayla menunggu lama di mall.


Segera Dean masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, perlahan berjalan meinggalkan area sekolah. Tanpa sadar di belakangnya ada Nathan berlari mengikutiinya tetapi mobil Dean sudah lebih dahulu meninggalkan area sekolah.


"Sayang!" Pannggil Laura yang memeluk tubuh Nathan dari belakang.


Dengan cepat Nathan melepaskan tangan Laura yang melingkar di perutnya, dia menatap tajam gadis yang berdiri di depannya. "Jaga perilakumu, Laura!" Ucap Nathan dengan tegas.


"Maaf," Jawab Laura menundukkan kepalanya.


Nathan hanya menghela nafasnya kasar, "Ayo pulang." Ajak Nathan berjalan meninggalkan Laura terlebih dahulu.


Suasana hati Nathan sangatlah buruk hari ini, dia terus memikirkan ucapan Dean yang menyukai Mikayla. Nathan tidak rela jika ada pria lain yang mengharapkan istrinya ya Mika hanya istrinya dan akan tetap begitu.


Laura berlari mengikuti langkah lebar Natha, dia segera masuk saat Nathan sudah terlebih dahulu masuk. Mobil segera berjalan meninggalkan area sekolah.


"Nath." Panggil Laura.


"Hem." Nathan hanya berdehem.


"Bagaimanna jika kita main ke mall? Mumpung hari ini pulang sekolah lebih awal, tidak ada salahnya kita bermain sehari sebelum menghadapi ujian sekolah minggu depan." Ajak Laura dengan pennuh harap.


"Aku lelah," tolak Nathan tanpa basa-basi.


"Ayolah, sayang. Sekali saja setelah itu aku tidak akan mengajakmu kemanapun sampai kita berhasil lolos masuk universitas." Rengek Laura dengan mennggoyangkann lengan Nathan.


Nathan sejenak melihat ke arah Laura, "Baiklah, sebentar saja. Aku inngin segera pulang." Nathan akhinya mengikuti keinginnan Laura.


Laura bersorak riang di dalam mobil, "Kita beli baju ya nanti, tidak mungkin kita berjalan-jalan mengenakan seragam sekolah." Ucap Laura kembali.

__ADS_1


__ADS_2