
Happy Reading
Mikayla kini telah tiba di apartemen, dia melepas sepatunya, dan menaruhnya di dalam rak sepatu. Langkahnya begitu berat seperti beban di dalam hatinya. Dia menjatuhkan bobot tubuhnya di ruang televisi, pikirannya melayang atas kejadian di cafe hari ini.
"Aku tidak keterlaluan kepada mereka kan?" Ucap Mikayla lirih bersamaan dengan air mata yang kembali keluar.
Dengan cepat Mika menghapus air matanya dan bangkit dari sofa, hembusan nafas panjang terdengar kasar. "Tidak, itu belum seberapa." Ucapnnya lagi kemudian.
Mikayla segera berjalan menuju kamar utama, dia menaruh tas, dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia ingin tidur karena dia merasa sangat lelah dan menguras tenaga, dia harus menyiapkan tenaga ekstra untuk hari yang akan datang.
Sedangkan Nathan kini telah sampai di depan rumah sakit, Laura menahan lengan Nathan sehingga pria itu mengurungkan niatannya untuk keluar dari dalam mobil.
"Antar saja aku pulang, aku sudah baik-baik saja." Ucap Laura.
"Tidak, kita harus periksa. Aku tidak ingin terjadi apa-apa kepadamu." Jawab Nathan menolak permintaan Laura.
__ADS_1
Laura menggeleng, "Aku hanya sedih karena kamu mulai mencintai Mikayla, Nath. Jika memang kamu mencintainya aku akan rela melepaskanmu lagipula aku hanya gadis penyakitan dan umurku juga tidak akan panjang." Ucap Laura dengan membuang pandangannya ke sembarang arah.
Nathan menggenggam tangan kekasihnya, "Janngan bicara seperti itu, aku tidak akan meninggalkanmu." Kata Nathan lembut.
Laura menitikan air matanya, "Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu, Nath. Hatimu saja sudah tergerak kearah Mika dan perlahan posisiku di hatimu akan tergeser." Laura berkata dengan menyingkirkan tangan Nathan.
"Tidak, aku akan selalu ada bersamamu hingga sembuh." Ucap Nathan meyakinkan Laura.
Laura menoleh hingga tatapan keduanya bertemu, "Apa kamu yakin?" Tanya Laura sekali lagi.
Anggukan kepala yang hanya mampu Nathan berikan tetapi di dalam hatinya terasa gamang, "Jangan tinggalkan aku, Nath. Aku sangat mencintaimu." Ucap Laura kembali dengan wajah sedih.
Lampu mobil mati bersamaan dengan mesinn mobil, "Terima kasih sudah mengantarku, maaf untuk hari ini." Ucap Laura lembut,
Nathan mengangguk, "Aku juga minta maaf," jawab Nathan.
__ADS_1
Laura keluar dari dalam mobil dan berdiri di depan gerbang. Nathan membunyikan klakson sebelum mobil bergerak meninggalkan rumah mewah tersebut, Laura menatap hingga mobil kekasihnya menghilang di tikungan, dan segera dia berjalann meninggalkan rumah mewah yang entah milik siapa.
"Apa kamu tidak lelah bersandiwara?" Ucap seorang pria yang membuat langkah laura terhenti.
Laura menoleh dengan ragu-ragu tetapi dia penasaran, "Ka-kamu, kamu kenapa ada di sini?" Tanya Laura tergagap.
"Aku? pertanyaan yang konyol, seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu selalu di antar oleh Nathan di depan rumahku." Jawabnya yang membuat Laura membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Ru-rumahmu?" Beo Laura tergagap.
"Jawab saja pertanyaanku, drama apa yang sedang kamu mainkan?" Tanyanya dengan suara dingin.
"Oh, a-aku hanya berjalan-jalan saja." Elak Laura gugup
"Apa kamu pikir aku percaya?" Katanya dengan senyum miring dan pandangan tajam.
__ADS_1
Laura lantas segera berjalan cepat dengan menggenggam erat tas ranselnya, dia berhenti sejenak saat pemilik rumah mewah kembali berteriak.
"Akhiri semuanya sebelum kamu menyesal!"