
Happy Reading 🌹🌹
Setelah selesai melakukan fiting baju pengantin, kini Nathan dan Mikayla tengah duduk saling berhadapan di sebuah cafe yang tidak jauh jaraknya dari butik. Keadaan tampak hening dan canggung, hanya ada suara musik dan beberapa pelanggan yang berbincang.
Dua cangkir kopi yang masih tampak panas mengepul lembut, "Apa yang ingin Kakak bicarakan denganku?" Tanya Mikayla memecah keheningan.
"Aku ingin pernikahan kita ini menjadi rahasia." Jawab Nathan yang pada akhirnya mengutarakan isi pemikirannya.
Jantung Mikayla berdenyut nyeri tetapi dia tetap berusaha tenang, "Apa karena kekasihmu?" Tanya Mikayla menatap kedua mata Nathan dengan lekat.
"Hem, aku tidak ingin menyakitinya dengan pernikahan yang tidak aku inginkan ini. Lagipula aku juga sebentar lagi lulus dan kamu masih harus menyelesaikan pendidikanmu di bangku SMA." Jawab Nathan apa adanya.
Mikayla hanya mampu mengetatkan rahangnya saja, tidak menunjukkan respon apapun dari gerakan tubuhnya. Helaan nafas panjang terdengar, "Seharusnya kakak jujur saja kepadanya jika kakak akan menikah denganku, aku tidak masalah meski menikah di usia 17 tahun." Ucap Mikayla mencoba bernegosiasi dengan Nathan.
"Aku tidak bisa, sudah aku katakan aku tidak ingin menyakitinya. Bagaimanapun hubungan kami selalu baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun selama satu tahun belakangan ini." Tolak Nathan dengan tegas.
"Tapi, ada yang kakak lupa. Kakak juga akan menyakitiku jika masih menjalin hubungan dengan wanita lain setelah menikahiku." Kata Mikayla yang masih menatap lekat Nathan.
"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Nathan kembali.
"Jika iya, kakak mau apa?" Jawab Mikayla dengan menantang.
"Jangan pernah mencintaiku, karena cintaku sudah untuk Laura. Bagaimanapun, aku tidak akan meninggalkannya Mika, jika kamu ingin mundur dari pernikahan ini lebih baik dari sekarang karena aku tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain meskipun itu kamu." Ucap Nathan panjang lebar yang membuat jantung Mikayla terasa nyeri.
"Benarkah, apa kakak tidak ingin mencobanya terlebih dahulu. Bukankan kakak juga di tolak saat melamarnya di lapangan basket tempo hari? Jika dia mencintai kakak, bukankah seharusnya dia menerima lamaran kakak." Cecar Mikayla yang membuat pembicaraan semakin panas.
Nathan membelalakkan kedua matanya hingga membulat sempurna, "Dari mana ka- , ah tempo hari kalian menguping pembicaraanku dengan Laura?" Jawab Nathan dengan senyum kesal.
"Untuk apa, lagipulan itu lapangan basket adalah lapangan umum. Kalian saja yang tidak tahu tempat, di sekolah tetapi membuat acara lamaran. Sayangnya lamaran itu di tolak." Ucap Mikayla yang tidak ingin kalah.
"Laura memikirkan masa depannya, makanya dia berkata seperti itu." Elak Nathan dengan menghela nafas panjang.
"Memikirkan masa dengan kakak? Sudahlah, lebih baik kakak berkata jujur kepada wanita itu atau aku sendiri yang akan mengatakannya. Apa kakak pikir dia tidak akan tau pernikahan kita, ingatlah peribahasa sebaik-baiknya kita menyimpan bangkai pada akhirnya akan tercium juga." Jawab Mikayla dengan mengambil tas dan beranjak dari kursi.
__ADS_1
Mikayla pergi dan tidak ingin mendengar lebih jauh lagi bagaimana Nathan sangat dengan jelas memilih Laura dibandingkan dirinya, memikirkan perasaan Laura daripada hatinya. Nathan hanya menatap kepergian Mika dari balik jendela cafe.
Hingga Mikayla masuk ke sebuah taxi dan berjalan menjauh dari pandangannya, helaan nafas panjang terdengar. Nathan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Terdiam sejenak, memikirkan pembicaraan hari ini hingga getaran ponsel membuyarkan lamunannya.
Terlihat nama Laura muncul di layar ponselnya, Nathan mengangkat dan langsung mendapatkan brondongan pertanyaan dari wanita yang saat ini masih berstatus sebagai kekasihnya.
"Sayang! Kamu di mana? Kenapa tidak masuk sekolah? Apa kamu sakit, cepat jawab. Kamu baik-baik saja bukan?"
Nathan hanya diam hingga suara Laura melemah, "Aku tidak apa-apa hanya sedang ada urusan sebentar." Jawabnya.
"Urusan apa?" Tanya Laura yang ingin tahu segala hal tentang Nathan.
"Tidak penting, kenapa kamu menelfonku. Kembalilah ke kelas, aku akan menjemputmu nanti." Jawab Nathan yang membuat Laura bersorak siang.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Love you." Kata Laura yang tidak di balas oleh Nathan.
Panggilan telfon terputus, Nathan segera beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk kembali ke mansion. Sedangkan Mikayla, hanya mampu menangis tanpa suara di dalam taxi membuang pandangannya keluar jendela menatap apa saja yang di laluinya..
"Non, kita mau ke mana?" Tanya sang sopir taxi.
"Taman kota." Jawab Mikayla dengan suara serak.
Mobil taxi yang sejak tadi hanya berjalan tanpa arah kini menuju taman kota, hanya menempuh waktu sepuluh menit mobil taxi berhenti. Segera Mikayla membayar taxi dan berjalan keluar menuju salah satu bangku taman yang masih kosong.
Matahari semakin siang semakin membumbung tinggi hingga tepat berada di atas kepala manusia, Mikayla terbangun dari tidurnya, setelah berada di taman beberapa saat dia memutuskan untuk pulang beristirahat. Akibat menangis membuat Mikayla terasa mengantuk dan kini baru bangun tidur.
Sedangkan Nathan, kini tengah mengendarai mobil menuju sekolahannya. Dia sudah berjanji akan menjemput Laura dan mereka akan pergi ke suatu tempat, menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh lima menit. Mobil sedan berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah.
Terlihat gadis dengan ramput yang tergerai indah berlari ke arahnya, pintu mobil terbuka dan tertutup dengan cepat. Terdengar deru nafas akibat berlari. Nathan segera mengambil sebotol air dari samping pintu dan di berikan kepada Laura.
"Kenapa harus berlari." Ucapnya.
"Karena aku menunggumu lama, lihatlah sampai wajahku memerah karena terkena panas matahari." Jawab Laura dengan masam.
__ADS_1
Nathan hanya menghela nafas pelan, "Lagipula aku menjemputmu pulang sekolah, kenapa meminta siang hari seperti ini. Apa kamu tidak ikut kelas tambahan?" Tanya Nathan yang menoleh ke arah Laura.
"Aku malas, aku kepikiran kamu terus. Kamu tidak berangkat ada urusan apa sih." Kata Laura yang masih ingin tahu.
"Lebih baik kita makan siang dulu."
Nathan tidak menjawab pertanyaan Laura, dia menyalakan mesin mobil, dan berjalan menjauh dari area sekolahan. Dari kejauhan seorang pria hanya menatap mobil yang dikendarai oleh Nathan dengan wajah datar dan berjalan menjauh dari tempatnya berdiri.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" Tanya Laura yang frustasi karena sering diabaikan oleh Nathan.
"Yang mana?" Tanya Nathan kembali.
"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu." Ucap Laura dengan bersedekap dada.
Nathan tahu jika Laura tengah marah dan kesal kepadanya tetapi Nathan juga tidak ingin membicarakan hal ini kepada Laura, "Apa kamu mau ice cream?" Tanya Nathan lembut.
"Apa kita akan berbelanja juga?" Laura membalas pertanyaan dengan pertanyaan.
"Tentu saja." Jawab Nathan tersenyum tipis.
Laura lantas tersenyum lebar, "Mau, aku ingin membeli pakaian dan sepatu baru. Uang jajanku sudah habis bulan ini dan tidak ada sisa lagi." Keluh Laura kepada kekasihnya.
"Bukankah ini baru satu minggu sejak pergantian bulan, sebenarnya untuk apa uangmu?" Tanya Nathan heran.
"Kamu taulah sayang, kebutuhanku itu banyak. Selain iuran kelas aku juga perlu jalan-jalan dengan teman-temanku." Jawab Laura.
"Berhentilah bersenang-senang, kita sudah kelas 3 dan sebentar lagi ujian. Aku akan membayar iuran kelasmu mulai besok jadi simpan uangmu baik-baik jangan terlalu boros." Ucap Nathan yang hanya mendapatkan respon malas dari Laura.
"Baiklah sayang."
...🐾🐾...
__ADS_1