Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
JANGAN SAKIT


__ADS_3

Happy Reading


"Mi-mika." Nathan tergagap setelah mendengar ucapan istrinya.


Mika hanya memandang Nathan datar, dia sendiri bingung harus bereaksi seperti apa saat tahu jika Nathan memberli susu ibu hamil.


"Ah, Mika lupa. Kakak mau mmenceraikan Mika setelah satu tahun pernikahan," ucap Mikayla dengan tersenyum tapi percayalah di dalam hati Mikayla sangat sakit.


"Mika." Kata Nathan lirih.


Mika segera berdiri dengan mengambil piringnya dan piring Nathan, segera dia membawanya ke wastafel. Suara gemericik air terdengar, Nathan hanya menatap punggung Mikayla dengan sedih.


Mendengar ucapan Mikayla soal perceraian mencubit sudut hati Nathan paling dalam, ada rasa ketidaksukaan. Padahal itu kejadian sudah lama tetapi kenapa Mikayla sangat ingat.


Sedangkan Mikayla menahan mati-matian agar tidak menangis, tetapi mengingat ucapan Nathan satu itu tetaplan menyakitkan saat mengingatnya. Dia mencuci piring dengan air mata yang menetes bercampur menjadi satu dengan air yang mengalir dari wastafel.


Terasa sebuah tangan melingkar di tubuhnya membuat Mikayla kaget hingga menjatuhkan piring yang tengah dia cuci, "Maaf." suara lirih terdengar di telinganya.


Hembusan nafas menerba leher dan pipi kanan Mikayla, keduanya terdiam sejenak menikmati debaran hati masing-masing. Hingga Mikayla merasakan dadanya serasa diremas dengan hebat, kedua kakinya seakan lumpuh layu karena sakit itu.


"Mika!" Seru Nathan yang panik karena tiba-tiba Mikayla langsung luruh di atas lantai.


Dengan cepat Nathan menggendong Mikayla ala bridal style, berlari keluar apartemen dengan tergesa dan panik. Di dalam gendongan Nathan Mikayla hanya mampu diam dengan menahan rasa sakit yang terus mendera jantungnya.


"Mika!" Panggil Nathan panik.


Lift yang sering biasa dia gunakan untuk naik dan turun unit apartemen terasa begitu lama, dia terus memencet tombol turun dengan cepat karena melihat Mikayla yang semakin lemas. Setelah sampai basement segera Nathan berlari menuju mobilnya dengan cepat.


Dia mendudukkan Mikayla di kursi depan, segera Nathan berlari memutari mobil, dan segera masuk. Sungguh sial, karena panik membuat Nathan lupa tidak membawa kunci mobil.

__ADS_1


"Arg! Sia*l." Umpat Nathan dengan memukul stir mobil.


Dia melihat Mikayla yang hanya menatapnya dengan tatapan sayu, "Mika, tetaplah sadar!" Kata Nathan yang kembali keluar mobil.


Nathan berlari keluar basement dengan menggendong Mikayla di punggungnya, sebuah taxi berhenti dengan cepat di depannya. Nathan berasa bersyukur karena ada taxi yang tepat pada waktunya, segere mereka masuk ke dalam taxi.


"Pak, kerumah sakit cepat!" Seru Nathan panik dengan nafas terengah bahkan keringat bercucuran di wajahnya.


Tanpa berkata apapun, sopir taxi segera menjalankan taxinya dengan cepat. Beruntung jalan raya senggang karena orang-orang kantor dan pekerja lainnya sudah selesai istirahat jam makan siang. Tidak membutuhkan waktu lama kini taxi telah sampai di depan rumah sakit.


"Pak, saya bayar nanti." Teriak Nathan dengan menggendong Mikayla.


Sopir hanya memberikan acungan jempol saja, tetapi taxi tersebut segera pergi dari area rumah sakit. Sedangkan Nathan memanggil petugas kesehatan dengan suara yang keras, "Tolong! Tolong, istri saya!" Terikanya.


Tentu saja suara Nathan menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit. Segera perawat mengarahkan Nathan ke ruang UGD. Dengan cepat Nathan membaringkan tubuh Mika yang sudah lemas.


Segera Dokter Joy berlari kearah brangkar Mika, dia mengecek detak jantung Mika yang tidak beraturan.


Perawat segera menggunting pakaian bagian atas Mikayla dan memasang Holter monitoring. Nathan yang memandangnya hanya mampu menatap bingung. Meskipun cita-citanya ingin menjadi dokter tetapi dia benar-benar belum paham apapun karena mendapatkan pertentangan dari Ayahnya Kenan.


Hollter merupakan suatu pemeriksaan untuk mengukur dan merekam aktivitas jantung selama 24-48 jam atau lebih menggunakan perangkat portabel. Elektrokardiogram (EKG) berguna untuk melihat aktivitas jantung pada satu waktu saat pasien melakukan pemeriksaan. Alat rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG) adalah sebuah tes yang digunakan untuk menilai kesehatan jantung secara menyeluruh, termasuk mengukur detak jantung seseorang. Tes ini biasanya dilakukan dengan menggunakan alat pendeteksi impuls listrik yang diberi nama elektrokardiograf.



Dokter Joy tampak berbicara sesuatu kepada beberapa perawat, perawat mengangguk, dan segera memindahkan brangkar Mikayla menuju ruang intensif untuk mendapatkan perawatan yang lebih.


Nathan yang masih terpaku di tempatnya kaget karena tepukan pelan dari Dokter Joy, "Kamu suaminya, Mika?" Tanya sang dokter lembut.


Nathan mengangguk kaku dengan mulut yang masih senantiasa dikunci, Dokter Joy yang mengetahuinya tersenyum hangat. "Tenang saja, dia baik-baik saja." Ucap kembali sang dokter.

__ADS_1


"Sakit apa, Mika?" Tanya Nathan yang masih linglung.


"Dia hanya kelelahan saja. Kamu boleh menunggunya," jawab Dokter Joy berbohong.


Keduanya berjalan menuju ruangan intensif dengan pakaian yang steril. Perawat memberikan laporan kepada Dokter Joy. Keduanya masuk ke dalam ruangan di mana Mikyala terpadang beberapa alat tambahan untuk memantau detak jantungnya.


Mikayla yang melihat kedatangan Nathan dan dokter pribadinya hanya mampu terdiam, dia menatap sang dokter dengan tatapan memohon.  Dokter Joy hanya membalas dengan senyumannya, Nathan tidak melihat Mikayla melainkan berbagai alat yang berada hingga tatapannya tertuju pada Mikayla yang menatapanya dalam diam.


"Sebenarnya, istriku sakit apa dokter? Kenapa ... kenapa dengan semua alat ini? Tanya Nathan yang hampir kehilangan kata-katanya.


Dokter Joy membaca hasil pemeriksaan Mikayla, yang menunjukkan jika pola makan juga pikiran yang stress. "Di sini pola makan pasien harus di jaga, untuk sementara waktu hanya boleh makan makanan yang di sarankan oleh ahli gizi rumah sakit." Jawab Dokter Joy dengan jelas.


"Apa Mikayla keracunan masakanku?" Gumam Nathan yang teringat sejak pagi Mika memakan masakannya.


Dokter Joy yang mendengar ucapan Nathan hanya dapat tersenyum saja, "Anda bisa menunggunya, biarkan pasien beristirahat. Jika ada sesuatu bisa segera tanyakan kepadaku, jika begitu saya permisi dulu karena masih ada pasien yang harus saya periksa." Ucap kembali Dokter Joy kepada Nathan.


"O-oh, baik. Terima kasih dok." Jawab Nathan sopan.


Dokter Joy meninggalkan ruangan Mikayla, hingga menyisakan Nathan dan Mikayla saja. Nathan berjalan duduk di samping kursi brangkar istrinya, "Maaf, sudah membuatmu keracunan." Ucap Nathan pelan yang membuat Mikayla menaikkan kedua alisnya.


"Makhsud kakak apa?" Tanya Mikayla dengan suara yang sangat pelan.


"Kamu sakit pasti karena memakan masakanku sejak pagikan? Dokter bilang jika kamu harus menjaga pola makanmu, maaf jika selama ini aku tidak memperhatikanmu. Bahkan Dean lebih tahu apa yang kamu butuhkan daripada aku, a-aku minta maaf." Jawab Nathan dengan menundukkan kepalanya dalam sambil memainkan kedua tangannya karena merasa sangat gagal menjadi suaminya.


Seulas senyum hanya mampu Mikayla berikan, dia menggerakkan tangan memegang lengan Nathan dengan lembut. "Bukan salah kaka, ini salah Mika karena tidak meyayangi tubuh Mika sendiri, jadi sekarang boleh Mika tidur sebentar?" Ucap Mikayla yang membuat Nathan menatap kedua matanya.


Nathan mengangguk, "Istirahatlah, aku akan menjagamu di sini." Kata Nathan dengan menggenggam tangan istrinya.


Mikayla akhirnya memejamkan kedua matanya, hingga Nathan hanya mampu menyingkirkan anakan rambut yang mengganggu wajah cantik Mikayla. Dia menatap sendu kearah wajah yang cukup pucat tersebut, "Jangan sakit." Ucap Nathan pelan yang masih dapat di dengar oleh Mikayla karena belum sepenuhnya tidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2