
Happy Reading 🌹🌹
Kinan berlari mengejar Mikayla yang kini tengah menaiki tangga menuju lantai tiga, dia beberapa kali memanggil nama sahabatnya itu bahkan juga berusaha menghentikannya.
Tapi, semuanya sia-sia. Tenaga Mikayla seakan tengah meledak saat ini. Dengan wajah dingin Mikayla masuk ke dalam kelas Laura.
Di sana, segerombolan siswi yang baru saja melabraknya tengah menenangkan Laura yang menangis di bangku.
Teman-teman sekelas Laura menyingkir sat melihat Mikayla yang membawa aura berbeda, dengan langkah lebarnya dia dengan cepat mencapai di mana Laura berada.
"Kamu! Masih berani datang ke sini." Ucap ketua geng tersebut.
Laura lantas melihat siapa yang tengah di ajak bicara oleh teman kelasnya tersebut, terlihat Mikayla menatapnya dengan datar membuat Laura semakin menjadi.
"Pergi kamu dari sini." Ucap Laura yang semakin menangis.
Mikayla masih diam tidak merespon, dia tetap menatap dengan dingin kearah Laura. Membuat dalam diri Laura sebenarnya menciut.
Ketua geng itu maju untuk melindungi Laura, dia sedikit menyentuh bahu Mika hingga gadis muda itu mundur.
"Pergi kamu, aku sudah memperingatkanmu!" Ucap ketua geng tersebut.
Mikayla hanya menoleh sedikit kearah bahu yang baru saja di sentuh oleh orang lain, beberapa siswa yang melihat Mikayla bersikap dingin hanya menelan ludahnya dengan susah payah.
"Apa kau baru saja menyentuhku?" Tanya Mikayla dingin dengan tatapan tajam.
Kinan yang mengetahui situasi tidak akan terkendali menjadi bingung, "Mika, sudah ayo kita kembali ke kelas." Bujuk Kinan.
Mikayla mendorong tubuh Kinan hingga gadis itu tersungkur di lantai, siswa yang melihatnya tentu saja kaget karena kedua gadis itu kemanapun selalu berdua.
"Aku tanya padamu, apa kau baru saja menyentuhku!" Seru Mikayla tepat di depan wajah ketua geng itu.
"Mi-mika tenanglah, kami hanya tidak ingin kalian ribut." Susi mencoba menengahi keadaan dengan jantung berdebar.
Hal yang tidak di sangka dan di duga, Mikayla langsung memelintir tangan gadis yang sudah menyentuhnya dengan kencang.
"Berani kamu menyentuhku, akan aku patahkan kedua tanganmu." Ucap Mikayla dengan penuh intimidasi.
"A ... A... Aw! Lepaskan," Kata siswa itu.
__ADS_1
Mikayla melepaskan dengan sedikit mendorongnya hingga bernasib sama dengan Kinan.
Laura yang melihat sisi lain dari Mikayla menjadi gemetar karena gadis yang biasanya hanya diam saat dia tindas kini mulai bereaksi.
"Apa yang kamu lakukan! Apa kamu tidak cukup menggoda Nathan!" Teriak Laura yang kini sudah berdiri.
"Apa? Ulangi, menggoda?" Tanya Mika dengan sedikit melangkah maju.
Laura perlahan mundur namun tetap menaikkan dagunya, "Benar, apa kamu tidak cukup menggoda kekasihku! Apa kamu begitu berambisi dengan Nathan hingga kamu diam-diam menggodanya di belakangku!" Jawab Laura dengan sedikit berteriak.
Suara tamparan menggema di ruang kelas itu, siswa yang melihatnya berteriak kaget karena Mikayla menampar Laura hingga gadis itu tersungkur di atas meja rekannya yang lain.
"Menggoda?" Ulang Mikayla tersenyum miring kearah Laura.
Laura memegangi pipinya yang terasa sangat panas dan kebas, dia menatap Mikayla dengan wajah kaget begitu juga yang lain kecuali Kinanti.
Kinan segera memeluk tubuh Mikayla dari samping, "Cukup Mika, cukup." Ucap Kinan ketakutan.
Kinan takut jika sampai sang kakak melihatnya, tetapi apa yang dia takutkan sudah menjadi kenyataan.
Nathan berjalan kearahnya, karena terlampau kaget Kinan merenggangkan pelukannya hingga kedua tangan Mikayla bebas.
Dia menoleh kearah pemilik tangan ,terlihat Nathan sudah berdiri tidak jauh darinya dengan pandangan penuh amarah.
Laura yang melihat Nathan segera memanfaatkan sesuatu, "Hiks ... Lihat Nath apa yang dia lakukan kepadaku." Ucapnya dengan menangis.
"Mikayla Anderson!" Kata Nathan dengan penuh penekanan.
Mikayla ingin melepaskan diri tapi sia-sia, karena Nathan semakin mengeratkan cekalannya bahkan kini sudah menarik Mikayla hingga menabrak dada bidangnya.
Kedua mata saling beradu tatapan, Mikayla memandang dengan sejuta luka dan amarah sama halnya dengan Nathan.
Laura yang melihat Nathan tidak melakukan apapun menjadi geram, pasalnya dia melihat para siswa seakan mengangumi dua orang yang tengah saling memandang.
"Akh!"
Laura merintih Hinga terjatuh di atas lantai, para siswa segera menolong Laura berbeda dengan Nathan yang masih menatap lekat wajah istrinya.
"Lepaskan, atau kau akan menyesal." Ucap Mikayla rasa intimidasi.
__ADS_1
"Tidak akan, kamu harus meminta maaf kepada Laura dahulu." Jawab Nathan yang masih lekat menatapnya.
Mikayla tersenyum miring, "Aku? Haha ... Jangan bermimpi, jangankan meminta maaf. Menjabat tangannya saja aku tidak sudi," Kata Mikayla yang tidak pernah mau di tindas oleh keduanya.
"Apa begini didikan orang tuamu, sudah jelas-jelas salah tetapi tidak ingin mengaku salah! Bahkan kini Laura sampai kembali kambuh." Jawab Nathan yang sedang terbelenggu emosi.
"Benar, beginilah didikan orang tuaku. Aku tidak akan pernah dengan mudah di tindas oleh orang-orang bodo*h seperti kalian." Mikayla berkata dengan senyum semiriknya.
Nathan melepaskan cekalannya dengan kasar, "Aku kira kamu akan berubah, ternyata tidak sama sekali. Bahkan kamu semakin kasar dan liar."
Dia berkata dengan meninggalkan Mikayla di kelas bersama Kinan, tapi langkah Nathan terhenti saat Mikayla kembali menjawab ucapannya.
"Benar, sikap arogansiku tidak akan pernah berubah. Tetapi ...." Mikayla berbalik menatap Nathan yang kini juga berbalik menatapnya.
"Seluruh isi hatiku, seluruh cintaku, seluruh mimpiku tentangmu bukan tapi seluruh mimpi tentang kita sudah berubah. Dan itu semua akan aku bawa sampai mati hingga menyisakan sebuah penyesalan terbesar dalam hidupmu." Lanjut Mikayla kembali.
Deg
Nathan dan Kinanti merasakan hal yang sama, mereka menatap Mikayla yang berdiri dengan tegar di hadapan mereka.
Tidak ada mimik wajah yang berubah, datar tanpa emosi. Mikayla melangkah meninggalkan kelas Laura seorang diri.
Sedangkan kakak beradik itu masih terpaku di tempatnya, Kinan menoleh kearah sang kakak yang hanya menatap kosong kearahnya.
Mikayla berjalan tidak tentu arah, hatinya sangat sesak bagaikan semua beban di seluruh dunia tengah menimpanya.
Dia bahkan tidak sanggup untuk menangis, hanya dadanya yang naik turun dengan rasa sesak.
Tangan Mikayla memukul lembut dadanya agar semua beban hatinya hilang, hingga seseorang menariknya dalam pelukan hangatnya.
"Menangis lah." Ucap Dean dengan lembut.
Benar, Dean menyaksikan semuanya. Dia tidak ingin mencampuri urusan perasaan keduanya lebih jauh lagi.
Baginya sangat cukup dengan menjaga Mikayla secara diam-diam, Mikayla yang memang membutuhkan sandaran menangis dengan keras dan tersendat-sendat.
Dean mengeratkan pelukannya, keduanya berdiri di ujung lorong sekolah dekat taman belakang. Tidak ada ucapan motivasi dari Dean, dia memberikan Mikayla waktu untuk mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Susi yang berada di dalam UKS hanya berdiri menatap dalam diam, dia melihat bagaimana khawatirnya Nathan kepada Laura.
__ADS_1