
Happy Reading
Mentari tampak kembali tempat peraduannya, langit berganti senja. Waktu terus berjalan hingga langit benar-benar gelap hingga menampakkan kemerlip bintang yang bertaburan di atas langit.
Di sebuah mansion lebih tepatnya di meja makan, tengah berkumpul tiga orang dewasa yang sedang duduk tenang. Seperti biasa, mereka melakukan makan malam hanya bertiga sejak lima tahun terakir.
"Mika, kapan kuliahmu dimulai?" Tanya Daddy Jackson.
"Minggu depan, Dad." Jawab Mikayla singkat.
"Lalu, kapan kamu akan mulai magang di perusahaan Paman Sky?" Tanya Daddy Jackson lagi.
"Besok, Dad." Jawab Mikayla singkat kembali.
"Oh," Dady Jackson hanya beroh ria saja.
Mommy Bintang yang mendengar pembicaraan tersebut hanya menahan tawanya, dia melirik kearah sang suami yang tampak berharap di berikan pertanyaan oleh Mikayla. Terlebih sang suami yang lebih dekat dengan sang putri dibandingkan Luis.
"Kamu suka makanannya?" Tanya Daddy Jackson lagi.
"Suka, Dad." Jawab Mikayla yang lagi-lagi singkat.
Daddy Jackson terus memberikan pertanyaan kepada Mikayla, bahkan dia belum menyentuh makan malamnya sama seklai. Hingga Mika menghela nafas panjang, dia menoleh kearah Daddy Jackson yang menatapnya dengan wajah polos.
"Oh, sorry Dad. Mika hanya lelah, so sorry." Ucap Mikayla yang kini beranjak dari duduknya dan memeluk Daddy Jackson.
Daddy Jackson dan Mommy Bintang hanya tersenyum karena Mika masih menjadi anak yang peka, "No problem, baby." Jawab Daddy Jackson.
"Baiklah, Dad ... Mom. Mika ke atas dulu karena besok pagi Mika harus berangkat ke kantor." Ucap Mika kepada orang tuanya.
__ADS_1
"Oke, untuk hari pertama akan Daddy antar bekerja." Jawab Daddy Jackson dengan mencubit gemas hidung sang anak.
"Siap! Selamat malam semuanya." Kata Mika dengan mencium kedua pipi orang tuanya sebelum naik ke lantai dua.
Daddy Jackson dan Mommy Bintang hanya tersenyum melihat punggung anak gadisnya yang kini sudah beranjak dewasa, Daddy Jackson mengelus punggung tangan sang istri seakan keduanya mengharapkan yang terbaik untuk kebahagiaan kedua anak mereka.
"Ayo makan, sayang." Ajak Mommy Bintang kepada suaminya.
"Suapi." Jawab Daddy Jackson dengan manja.
Mommy Bintang hanya tertawa tetapi mengambil alih piring yang ada di hadapan suaminya, mereka hidup dengan bahagia meskipun perjalanan cinta keduanya juga tidak mudah berawal dari misi yang berakir jatuh cinta.
Sedangkan di dalam kamar, Mika segera mengunci pintu kamarnya dari dalam. Dia berjalan di salah satu sudut untuk mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur yang berada di kedua sisi tempat tidurnya, Mika perlahan berjalan dan naik ke tempat peraduannya.
Dia berbaring dengan memiringkan tubuhnya, menggapai gawai yang berada di atas nakas. Jemari lentiknya bermain di layar ponsel miliknya dia membuka galeri foto, kembali melihat foto Nathan yang diam-diam dia ambil dari samping.
Meskipun jaraknya cukup jauh, Mika masih sangat hafal bagaimana wajah sang suami. "Apa kakak masih menjadi suamiku atau aku sudah menjadi janda?" Ucap Mikayla pelan dengan menatap intens foto Nathan.
Perlahan kedua mata Mikayla terpejam dengan layar ponsel yang masih menyala, seulas senyum, dan perasaan lega mengiringi Mikayla menuju alam mimpinya. Di sisi lain, Nathan memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar dengan kencang.
"Kenapa dengan jantungku, kenapa aku menjadi berdebar tidak menentu seperti ini." Kata Nathan dengan wajah bingung.
Kinan yang melihat sang kakak hanya berdiri dengan bersandar di tembok segera meletakkan mangkuk yang dia bawa, segera dia berlari menuju kearah kakaknya.
"Kakak kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Kinanti dengan panik.
Nathan mengangkat pandangannya, dia menatap Kinan yang kini samar-samar berubah menjadi wajah Mikayla. "Mika," Panggil Nathan dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Kinan yang mendengar Nathan memanggilnya Mikayla menjadi bingung, "Kak, ini aku Kinan." Ucapnya dengan menggoyang kedua pundak Nathan.
__ADS_1
Segera Nathan kembali tersadar, dia mengusap kedua matanya yang mulai basah. "Ayo kita makan," Nathan segera berlalu dari hadapan Kinan dan berjalan menuju meja makan.
Kinan memutar tubuhnya dan menatap sang kakak yang kini sudah duduk di kursi makan, "Maafkan Kinan, kak." ucap Kinanti dari dalam hati.
"Ayo kesini, kenapa hanya berdiri saja!" Seru Nathan yang memanggil adiknya.
Kinan tersenyum dan mulai melangkah menyusul Nathan, "Iya, sabar loh." Ucapnya.
Nampak kedua kakak adik yang saling menyayangi satu sama lain, dengan telaten Kinan mengambilkan makan malam untuk sang kakak. Makanan yang di atas meja juga tampak sederhana, karena baik Kinan maupun Nathan tidak ada yang pandai memasak.
"Bagaimana kabar, Mama?" Tanya Nathan di sela makan malamnya.
"Baik, kakak pulanglah barang sehari saja." Jawab Kinan dengan wajah sedih.
Nathan hanya tersenyum getir, dia masih ingat bagaimana kedua orang tuanya begitu marah kepadanya. Bahkan semua orang yang mengetahui jika Mikayla adalah istrinyapun ikut menghakimi dan menyalahkan dirinya, karena dia Mikayla sampai meregang nyawa di sekolahan.
"Kapan-kapan saja." Ucap Nathan yang menyuapkan makanannya kembali.
"Apa kakak tidak kasihan dengan Mama, jika Ayah bisa setiap hari kalian bertemu." Kata Kinan dengan memainkan makanan yang berada di dalam piring.
"Kakak sudah selesai makan, taruh saja semuanya di atas meja. Besok akan kakak bersihkan." Nathan menyudahi makan malamnya, dia segera bangkir dari duduknya dan berjalan menuju kamar utama.
"Kakak!" Seru Kinan.
Nathan tidak menggubris panggilan Kinan tersebut, dia segera menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Nathan segera mematikan lampu utama dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, di dalam cahaya remang-remang dari lampu tidur sebulir air mata turun dari sudut mata Nathan.
Perlahan terdengar suara isak tangis dari pria tampan yang kini sudah merubah posisi tidurnya, Nathan tidur melingkar seperti kucing. Memeluk kedua lututnya dengan menangis, perasaan sesak di dalam dada tidak pernah bisa dia angkat seorang diri.
Kinan yang berada tepat di depan kamar Nathan hanya mampu menangis dalam diam, ingin sekali dia berteriak mengatakan jika Mikayla masih hidup dan kini kembali ke Indonesia. Tetapi Kinan ingat antara perjanjiannya dengan Luis, sehingga sampai detik ini dia hanya mampu menatap penderitaan sang kakak saja.
__ADS_1
Kinan pada akhirnya membiarkan Nathan mengeluarkan kesedihannya, dia berjalan kearah meja makan dan membereskan sisa makan malam mereka. Memasukkan sisa sayur kedalam kulkas setelah menyimpannya di dalam kotak makan yang kemudian dia lanjurkan untuk mencuci semua piring.
Hingga di dalam apartemen minimalis itu terdengar dua suara yang berbeda, suara isakan tangis yang bercampur dengan suara piring dan air yang mengalir dari kran menghiasi malam Nathan dan Kinan.