Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
AKU TIDAK AKAN TERBAKAR SEORANG DIRI


__ADS_3

Happy Reading


Nathan mengendarai mobilnya kembali pulang ke apartemen, lampu merah menyala segera dia memberhentikan mobilnya bersama para penngendara yang lainnya. Atensinya teralihkan karena ada seseorang mengetuk kaca mobilnya.


Terlihat seorang anak kecil membawa beberapa batang bunga segar yang tampak belum laku satupun, segera Nathan membuka kaca mobilnya hingga rendah.


“Kakak, mau beli bunga. Murah saja satu haya lima ribu rupiah.” Ucapnya dengan sauar lucu.


“Ada berapa bunga yang masih kamu bawa?” Tanya Nathan dengan melihat kearah tangan kecil yang tampak kesusahan menggenggam batang bunga mawar merah.


“Masih ada dua puluh lima batang, Kak.” Jawabnya jujur.


“Aku beli semuanya,” Kata Nathan dengan tersenyum manis.


“Benarkah! Wah terima kasih.” Ucap anak penjual bunga dengan girang.


Segera anak tersebut memasukkan semua bunga yang dia miliki ke dalam kantong plastik dan menyerahkannya kepada Nathan melalui jendela, Nathan menyodorkan beberapa lembar uang merah kepada bocah penjual bunga dengan cara di lipat-lipat.


Dengan senang hati bocah tersebut menerimanya, “Kakak ini sangat banyak, totalnya saja hanya seratus dua puluh lima ribu rupiah.” Kata bocah penjual bunga tersebut.


“Tidak apa-apa, sisanya untukmu.” Jawab Nathan yang kemudian menjalankan mobilnya perlahan karena lampu sudah berwarna hijau.


Terlihat dari spion kaca bocah penjual bunga itu melambaikan tangannya dengan wajah gembira, Nathan yang melihatnya tersenyum senang. Dia teringat tentang Mikayla, dia sangat menyesal karena sudah berkata kasar kepada istrinya.


Nathan menjalankan mobilnya dengan sesekali menoleh kearah bunga yang berada di kursi sebelah terbungkus plastic berwarna putih, “Aku akan meminta maaf kepadanya.” Ucap Nathan yang terus tersenyum senang.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai Nathan telah sampai di basement apartemennya, dia segera mematikan mesinn mobil, dan berjalan keluar tidak lupa bunga mawar yang sudah dia beli.


Sebelum masuk ke dalam lift, Nathan menata bunga yang masing-masing terbungkus plastik tersebut agar terlihat rapi. Pintu lift terbuka segera dia berjalan masuk dan menekan tombol lantai di mana unit apartemennya berada.


Di dalam apartemen, Mikayla tengah merencanakan sesuatu. Bukan hal yang jahat berupa kekerasan fisik melainkan verbal. Dia tidak akan membalas kelicikan Laura dengan kelicikan pula, tetapi membuat suatu kebiasaan yang akan menjadi kenangan.


Kenangan adalah salah satu hal yang paling menyakitkan di dunia ini, tidak dapat di hapus dalam memory pikiran, dan hati. Tersiksa akan kenangan membuat manusia terdorong melakukan bunuh diri ataupun terpuruk dalam kehidupannya. Mikayla tidak ingin terluka dan menderita sendirian, jika dia harus terbakar maka mereka juga ikut terbakar.


Suara kunci terdengar terbuka yang tidak lama kemudian Nathan masuk dengan satu tangan berada di belakang tubuhnya, Mikayla hanya diam dengan sibuk merapikan buah-buahan dan sayuran yang ada di dalam kulkas.


Gerakannya terhenti saat Nathan mengulurkan bunga war di depannya, Mika menoleh kearah Nathan dengan wajah datar. Nathan berdehem untuk menetrakkan detak jantungya “I-ini aku tadi dapat dari penjual asongan.” Ucap Nathan yang langsung mengambil tangan kanan Mikayla untuk menerimanya.

__ADS_1


Mikayla baru akan berkata tapi Nathan sudah berlari masuk ke dalam kamar utama dan menutup pintunya dengan cepat.


“Padahal tinggan bilang maaf, Mikayla.” Ucap Mika menggerutu dengan menatap kesal pintu kamar utama.


Tapi, Mika tetap bergerak mengambil wadah yang ada di apartemen. Membonngkar satu persatu plastik pembungkus bunga mawar merah dan mulai mengisi wadah dengan air mulai menata bunga satu persatu.


“Kak!” Seru Mika dari luar kamar.


Nathan yang tengah berjalan mondar-mandir tampak panik, dia mengacak rambutnya kasar. “Apa yang akan aku katakana jika dia bertanya soal bunga itu, apa aku meminta maaf saja kepadanya. Tidak … tidak … aku tidak terlihat gantle di matanya.” Ucap Nathan frustasi.


“Kak! Kakak baik-baik saja, jawab aku!” Seru Mikayla yang mengetuk pintu kamar utama.


“Apa?” Tanya Nathan yang akhirnya membuka pintu sedikit.


“Kakak kenapa, apa yang kakak sembunyikan dari Mika?” Cecar Mikayla dengan mendorong pintu kamar utama.


Nathan menahanya dari dalam, “Tidak ada apa-apa, aku hanya inginn tidur. Capek.” Jawab Nathan yang masih menahan pintu.


Mika terus mendorong hingga Nathan dengan usil tidak menahan pintu kamar sehingga terdorong. Mika kaget karena akan terjerembab di atas lanntai, tapi semua tidak terjadi karena Mika menarik kerah Nathan sehingga tubuh mereka berputar satu kali.


Keduanya terjatuh dengan intim, Mikayla menindih tubuh Nathan. Dengan jarak yang sangat dekat bahkan kedua bibir kembali menyatu, keduaya terdiam menikmati debaran di dalam dada.


Segera Mikayla banngkit dengan panik, Nathan berkedip cepat dengan posisi yang masih tertidur diatas lantai. "Mi-Mika ke toilet dulu." Ucapnya gelagapan.


Nathan segera mendudukkan dirinya dan menatap intes kearah Mika, "Tunggu." Ucapnya.


"A-apa?" Tanya Mika dengan membuanng arah pandangannya.


"Aku lapar." Jawab Nathan dengan cepat.


Mikayla menoleh dengan wajah tidak percaya, Nathan lantas bangkit dari duduknya. "Cepatlah masak, aku sudah lapar. Ck kamu sebagai wanita harus bisa memasak." Oceh Nathan yang langsung berjalan ke dalam kamar mandi.


Kedipann cepat adalah respon Mikayla hinngga beberapa saat dia baru sadar jika Nathan menyuruhnya memasak dan marah-marah tidak jelas. "Bisa-bisanya aku jatuh cinnta denga pria seperti itu." Gerutu Mikayla.


Nathan yang berada di dalam kamar mandi menempelkan telinganya, karena sayup-sayup mendengar suara dari dalam kamar mandi.


"Dia bicara apa." Ucap Nathan pelan degan menggeser-geser posisinya agar dapat menguping.

__ADS_1










Natha dan Mikayla kini tengah duduk di meja makan saling berhadapan, Nathan melihat dua piring dengan masakann yang berbeda.


Dipiring Mika hanya sedikit asi putih dan sayur brokoli dan beberapa sayur lainnya tanpa bumbu, sedangkan di piringnya penuh dengan daging serta sayur yang sangat menggiurkan serta nasi yang cukup bannyak.


"Kenapa makanan kita berbeda?" Tanya Nathan menatap Mika herann.


"Mika diet," Jawab Mika berbohong.


Nathan menatap Mika dari atas ke bawah dan kembali tetapi sudah mendapatkan tatapan tajam dari istrinya, "Ekhm, tidak perlu diet nanti semuanya kurus dan tidak berisi." Ucap Nathan dengan memberi beberapa potong daging di pirinng Mika.


Mika hanya diam dan keduanya mulai memakan makan malamnya, Nathan sesekali melirik kearah Mika. "Kenapa dia tidak memakan dagingnya, apa dia masih marah padaku?" Gumamnya dalam hati.


Sedangkan Mika tidak perduli dengan tatapan Nathan, dia hanya fokus makan dan sesekali mencolekkan sayuran yang terasa hambar di bumbu daging yang Nathan berikan.


"Ekhm, apa kamu suka bunganya?" Tanya Nathan tiba-tiba.


"Suka. Di mana kakak membelinya, kenapa agak layu." Jawab Mikayla dengan menatap vas bunga yang berada di atas meja ruang TV.


"Sudah aku katakan dari penjual asogan." Ucap Nathan sedikit nada tinggi.


"Ck, biasa aja kali. Lagipula memang Mika percaya dengan ucapan Kakak." Kata Mika ketus dan bangit dari kursinya menuju wastafel untuk mencuci piring.

__ADS_1


__ADS_2