
Happy Reading
Kini, Mikayla dan Nathan sudah duduk di sebuah taman depan kampus. Tampak mahasiswa berlalu lalang di taman itu, entah sekedar berkumpul untuk mengobrol maupun mengerjakan tugas.
Suasana yang sejuk dengan pepohonan yang rindang membuat siapa saja betah berlama-lama di taman tersebut, selain pepohonan terdapat juga patung-patung kecil dan air mancur kecil yang di kelilingi bunga berwarna kuning dan merah.
Suara kicauan burung bersahutan dengan suara kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya depan kampus, suara tawa para mahasiswa ikut melebur menjadi satu. Semuanya kini menjadi saksi bagaimana sepasang suami istri yang terpisah selama lima tahun tengah saling memperhatikan satu sama lain.
Mikayla dengan telaten membersihan sisa darah yang keluar dari hidung suaminya, "Ayo kita kerumah sakit, Kak. Mana kunci mobil kakak?" Ucap Mika yang masih melihat darah keluar dari hidung Nathan meski hanya sedikit.
"Sejak kapan kamu bisa menyetir?" Tanya Nathan yang kini menatap tajam kearah Mikayla.
"Eh? Sejak lama, memangnya istri kakak yang mirip aku tidak bisa menyetir?" Jawab Mika pelan.
Nathan terus menatap intes gadis yang berada di depannya, "Aku tanya, sejak kapan kamu bisa menyetir?" Ulang Nathan yang tidak bisa menerima jawaban dari Mika.
"Kenapa sih, kepo banget!" Ucap Mikayla dengan kesal.
Nathan menghela nafas dengan panjang, "Sabar Nath, istrimu sedang amnesia." Ucapnya dalam hati.
"Maaf, aku selalu ingat istriku jadi terbawa suasana." Jawab Nathan pelan.
Mika hanya menggigit bibir dalamnya saja, selama ini Mika tidak bisa menyetir mobil tetapi Luis yang mengajarinya karena Mikayla selalu merengek tidak ada kegiatan lain selain berdiam diri di rumah menunggu kakaknya bekerja.
"Pasti kakak sangat cinta dengan dia." Ucap Mika dengan tersenyum tipis.
"Sangat, aku bahkan tidak sadar jika aku sudah mencintainya sejak pertama kali bertemu. Dia dulu siswi pindahan, aku sempat melupakannya tetapi tetap memperhatikannya meski tidak intes." Jawab Nathan dengan menatap kedua mata Mikayla yang tampak berkaca-kaca.
"Wah pasti beruntung banget wanita itu, bisa di cintai pria bahkan sejak pertama kali bertemu." Kata Mika yang dia saja juga kaget ternyata Nathan sudah mencintainya sejak awal hanya saja pria itu tidak menyadarinya.
Nathan tertawa sumbang, dia mengusap air matanya yang keluar dengan cepat. "Tidak, dia bukan wanita yang beruntung tetapi aku pria menyedihkan yang sangat beruntung di cintai olehnya bahkan wampai hembusan nafas terakirnya. Dia gadis yang sangat kuat memperjuangkanku hingga akhir hayatnya." Jelas Nathan yang kini membuang pandangannya kesembarang arah.
Mikayla meremat tas jinjing yang ada di tangannya, hingga Nathan kembali berkata. "Aku selama ini sendirian, menunggunya datang meski di dalam mimpi. Tetapi, ternyata takdir berkata lain kini wanita yang selalu aku rindukan sudah berada di hadapanku. Mika maafkan aku, aku benar-benar meminta maaf dengan tulus. Apakah hukumanku selama lima tahun terakir ini belum mampu untuk menutup luka di hatimu? Apakah aku tidak bisa menebusnya dengan cara lain misalkan kita memperbaiki hubungan ini?"
Deg!
Jantung Mikayla terasa mencelos mendengar ucapan Nathan, "Kak, ta-tapi aku bukan Mika istri kakak." Jawab Mika dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari kedua mata indahnya.
Nathan mengusap air mata sang istri dengan pelan, "Sampai kapan kamu akan bersandiwara sayang. Aku sudah tahu semuanya, satu jam yang lalu sebelum aku datang ke kampus untuk menemuimu. Aku sudah di hubungi oleh Mom Bintang dan bertemu dengannya, dia menceritakan semuanya kepadaku. Bagaimana perjuanganmu agar bisa sembuh dan kembali, maafkan aku karena terpuruk begitu saja tanpa mencari tahu semuanya. Aku hanya pria bod*oh dan pecundang untukmu, tetapi aku berusaha untuk berubah menjadi pelindungmu, rumahmu, dan tempat bersandarmu. Aku harus bagaimana Mika agar kamu memaafkan kesalahanku di masa lalu?"
Pandangan Mika tampak bergetar, dia semakin deras menangis tanpa suara. Sama halnya dengan Nathan yang menangis karena isi hatinya meledak saat ini.
"Kak...." Lirih Mika.
__ADS_1
Nathan menggenggam tangan istrinya dengan erat, "Beri aku kesempatan Mika, tidak masalah kamu melupakanku saat ini. Aku akan membuat kamu mengingatku bagaimanapun caranya, akan aku buat cerita indah di dalam hidupmu untuk menggantikan cerita kelam di masa lalu." Ucap Nathan kembali.
Mika membuang pandangannya, Nathan menangkup wajah cantik sang istri dengan penuh kelembutan. Kedua mata saling memandang, mendalami perasaan masing-masing.
"Plis, Mika. Beri aku kesempatan," Kata Nathan kembali dengan suara sendu.
"Tapi aku tidak ingat siapa kakak, aku takut akan melukai kakak." Jawab Mikayla dengan menatap kedua mata Nathan.
"Tidak apa-apa, aku akan membuatmu ingat tentangku. Tentang kita." Ucap Nathan dengan tulus.
Nathan yang tengah menuju kampus Mikayla harus menepikan mobilnya di bahu jalan karena tiba-tiba dia mendapatkan panggilan dari Mom Bintang.
Nathan tampak heran karena sudah lima tahun mereka tidak pernah saling bertegur sapa, tetapi kini tiba-tiba ibu mertuanya menghubungi dirinya. Panggilan kedua masuk, segera Nathan mengangkatnya karena dia juga sudah memiliki rencana untuk menemui orang tuanya dan mertuanya.
"Halo, Mom." Sapa Nathan sopan.
"Halo, Nath. Apa kamu sibuk?" Tanya Mom Bintang.
"Tidak, Mom. Ada apa?" Tanya Nathan dengan cepat.
"Apa kita bisa bertemu?" Tanya Mom Bintang di ujung telfon.
"Mom di mana?" Tanya Nathan kembali.
"Mom, berada di cafe depan Perusahaan Gandratama. Apa kamu bisa datang?" Jawab Mom Bintang cepat.
"Lima menit, Mom."
__ADS_1
Nathan langsung mematikan smabungan telfonnya, dia segera menancap gas mobil dan berputar arah. Beruntung Nathan belum jauh meninggalkan perusahaan gandratama. Hanya ada satu cafe di depan perusahaan, Nathan segera memarkirkan mobilnya dan keluar menuju cafe.
Tampak Nathan mengedarkan pandangannya kesegala arah, hingga seorang wanita paruh baya melambaikan tangannya dari kejauhan.
Dengan cepat Nathan berlari menuju meja di mana Mom Bintang sudah berdiri untuk menyambutnya, Nathan langsung memeluk ibu mertuanya dengan perasaan bahagia dan haru begitu juga Mom Bintang yang tampak menepuk pungggung menantunya seakan mengatakan semua baik-baik saja.
Asap kopi mengepul di cangkir berwarna putih, saat ini Nathan dan Mom Bintang sudah duduk daling berhadapan. Suasana hening meliputi mereka meski alunan musik dari cafe terus menggema.
"Dia kembali." Ucap Mom Bintang pelan.
Nathan yang sedari tadi menunduk akhirnya mengangkat pandangannya begitu juga Mom Bintang, "Mikayla sudah kembali, Nathan." Ulang Mom Bintang dengan kedua mata yang sudah mengembun..
Air mata Nathan menetes begitu saja, dia benar. Dia tidak salah orang, gadis yang dia temui beberapa waktu lalu benar Mikaylanya.
"Nathan sudah tahu, Mom." Jawab Nathan yang membuat Mom Bintang kaget tetapi dia ingiat jika Nathan sempat membongkar makam Mikayla palsu.
Mom Bintang tersenyum lembut, "Syukurlah, mungkin memang benar kata pepatah, mau seperti apapun kondisinya, mau sejauh apapun jaraknya, kalau memang jodoh pasti akan bertemu." Ucap Mom Bintang dengan suara lembut.
"Tapi, Mom. Mikayla tidak ingat tentang Nathan kenapa bisa seperti itu, apa penyakit jantung dapat menyebabkan amnesia?" Tanya Nathan dengan wajah sedihnya.
"Tidak, ini semua salah kami. Kami menyetujui agar Mikayla mengikuti terapi hipnotis agar dapat melupakan kehidupannya di masa lalu tetapi tidak berhasil 100% karena Mika tetap ingat orang-orang di masa lalu kecuali kamu Nathan, hanya kamu yang di block dalam ingatan Mikayla." Jawab Mom Bintang menjelaskan kepada Nathan.
"Terapi hipnotis?" Beo Nathan yang merasa tidak percaya.
"Benar, Luis menginginkan kehidupan Mikayla agar tenang oleh karena itu kami menyetujuinya." Ucap Mom Bintang kembali.
Nathan tidak bisa menyalahkan Luis meskipun dia marah karena ide gila itu berasal dari kakak iparnya sendiri, "Mom, apa masih ada kemungkinan agar Mikayla ingat denganku? Apa ada cara lain untuk menyembuhkannya?" Tanya Nathan dengan beruntun.
"Mom kurang tahu untuk itu, mungkin bisa jika kalian melakukan hal-hal yang sama di masa lalu untuk memancing memorinya." Jawab Mom Bintang sedikit ragu.
Nathan tampak termenung sesaat, "Lalu bagaimana kesehatan jantung Mikayla Mom?" Tanya Nathan kembali.
"Mikayla semakin sehat, meskipun ruang geraknya memang terbatas sejak dulu. Dia sudah menjalankan semua prosedur yang di minta oleh dokter selama berada di Amerika, selama lima tahun kami juga tidak bisa berjumpa dengan Mika karena Luis melarang kami agar Mika dapat fokus dengan pengobatannya, kami anya melakukan video call selama ini." Jelas Mom Bintang jujur.
"Jadi, Mika di bawah pengawasan Luis." Ucap Nathan yang di angguki oleh Mom Bintang.
"Kamu jangan menyalahkan Luis, kami di sini yang bersalah karena kami juga tidak ingin kehilangan Mikayla dalam kehidupan kami, dia putri kami satu-satunya yang sudah jatuh cinta dengan pria muda saat pertama kali bertemu." Kata Mom Bintang dengan tersenyum tipis kearah Nathan.
Nathan hanya tersenyum membalas senyuman Mom Bintang, dia meneguk kopi yang sudah mulai dingin. "Mika sudah jatuh cinta dengan Nathan saat pertama kali pindah sekolah, mungkin kamu lupa siswi yang kamu tolong saat pertama kali masuk sekolah. Mom hanya mengingatkan saja," lanjut Mom Bintang yang kini sudah tertawa pelan hampir tidak habis pikir dengan cinta monyet itu.
Bagaikan film rusak di memori Nathan, dia mengingat saat ada gadis yang bingung karena tidak tahu letak kelasnya. "Anak itik." Gumam Nathan yang masih di dengar Mom Bintang.
"Apa?" Tanya Mom Bintang.
__ADS_1
"Mom, Nathan harus segera pergi. Terima kasih untuk kopi dan informasinya, Nathan akan berjuang untuk Mikayla. Terima kasih Mom." Ucap Nathan yang langsung berlari dengan wajah gembira.