
Happy Reading
"Tidak mungkin Zaki, aku tidak percaya apa yang kamu katakan. Luis saja sampai saat ini tidak ada kabarnya, kamu juga tahu bagaimana keadaanku selama ini," Ucap Nathan yang mulai muram.
"Aku tidak berbohong Nath, coba kamu tanyakan kepada orang tua Mikayla." Jawab Zaki yang mencoba meyakinkan Nathan.
Nathan terdiam merenung, "Mungkin kita semua hanya merasa bersalah dan kehilangan Mika," kata Nathan lirih.
Zaki yang ada di sebrang telfon hanya menghela nafasnya panjang, "Aku akan mengirimimu nomor, kamu hubungi saja setelah ini dan pastikan sendiri apakah itu benar istrimu atau bukan." Kata Zaki yang langsung menutup sambungan telfonnya.
Tidak berselang lama, ponsel Nathan menerima satu kontak baru dari Zaki. Dia termenung menatap nama kontak, karena tidak ingin memikirkan hal yang tidak mungkin. Akhirnya Nathan memberanikan diri menghubungi nomor tersebut.
Panggilan tersambung tetapi belum di angkat, kembali Nathan mencoba menghubungi lagi tetapi saat mau di angkat Nathan segera mematikan sambungan telfon tersebut "Tidak, dia bukan Mikaylaku." Ucapnya.
Nathan segera bergegas untuk mandi dan bersiap-siap berangkat bekerja, Nathan tidak bekerja sebagai CEO karena Kenan masih belum mempercayainya, Nathan kini bekerja sebagai asisten Kenan agar lebih cepat tanggap dalam keadaan apapun.
Suara gemericik air terdengar, dengan cepat Nathan membersihkan tubuhnya karena dia sudah sangat terlambat untuk masuk bekerja. Segera dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di pingganya, tubuh, dan rambutnya bahkan masih tampak tidak sempat dia keringkan.
Nathan mengambil satu stel pakaian kerjanya dan mulai menyisir rambutnya agar terlihat rapi. Tidak lupa juga parfum agar selalu segar dan wangi. Segera Nathan keluar dari apartemen untuk menuju basement untuk mengambil mobil pribadinya.
Perlahan mobil Nathan berjalan keluar meninggalkan gedung apartemen. Sedangkan di mansion Anderson, Mikayla yang baru saja keluar dari kamar mandi segera berjalan untuk mengambil ponselnya yang berdering.
Baru akan di angkat panggilan tersebut sudah terputus, "Siapa ya? Apa Kak Zaki." Ucap Mikayla pelan.
Mikayla akhirnya memberi nama Zaki pada nomor Nathan karena seingat Mikayla, orang pertama yang meminta nomornya setelah di Indonesia adalah Zaki kakak kelas di SMA.
Ponsel Mikayla di letakkan begitu saja di atas nakas setelah selesai menyimpan nomor asing tersebut, dia berjalan memasuki walk in closed untuk berganti pakaian. Hari ini Mikayla memiliki janji dengan Dean untuk pergi ke butik membeli stelan jas kerja juga pakaian kerja untuk Mika.
Mikayla mengambil pakaian santai, Mika mengenakan kaos over size berwarna pink dan juga celana jeans dengan warna biru. Segera Mika berjalan menuju meja riasnya, dia memoles tipis wajahnya yang sudah cantik, dan tidak lupa juga liptint untuk bibir cerrinya. Rambut Mika di gerai begitu saja tanpa di curly seperti biasanya, di biarkan lurus tanpa jepitan rambut.
__ADS_1
Ponsel Mika berdering, dengan cepat Mika berjalan menuju nakas di mana ponselnya berada. Tertera nama Dean di sana.
"Halo, Kak." Ucap Mika di sebrang telfon.
"Mika, kakak tidak bisa menjemputmu karena ada urusan mendadak, bisakah kamu datang terlebih dahulu di butik. Akan kakak bagikan lokasinya untukmu." Jawab Dean.
"Baiklah," ucap Mika
"Hati-hati jika berangkat, paling lama satu jam kakak akan sampai." Kata Dean kepada Mikayla.
"Baik kak." Jawab Mikayla yang memutuskan sambungan telfonnya.
Tidak lama kemudian, Mikayla menerima satu pesan baru dari Dean berisi lokasi butik.Dengan santai Mika mengambil tas kecil yang cukup berisi ponselnya. Mikayla berjalan keluar kamar dan menurunni setiap anak tangga, tampak mansion Anderson sepi membuat Mika mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Mommy di mana, Bi?" Tanya Mika kepada salah satu maid mansion.
"Tuan dan Nyonya pergi sejak pagi tadi, Non. Saya tidak tahu di mana." Jawab Maid jujur.
Mikayla segera keluar mansion setelah memakan sedikit sarapan untuk minum obat jantungnya, tampak sopir pribadi dari Luis sudah membuka pintu penumpang untuk Mikayla tempati.
"Pak, kebutik ya." Ucap Mikayla yang di angguki sang sopir.
Beruntung Luis memberi nomor sopir pribadinya, sehingga Mikayla tinggal meneruskan pesan dari Dean kepada sang sopir, kini Mikayla telah masuk di dalam mobil. Perlahan mobil yang di tumpangi Mikayla berjalan keluar dari area mansion menuju butik yang sudah menjadi tujuannya.
*
*
*
Tidak membutuhkan waktu lama, kini Mikayla telah sampai di butik yang dituju. Segera Mikayla keluar dan masuk ke dalam butik.
Tampak bangunan yang luas di deretan butik terkenal di kota tersebut, ini sangat tidak asing untuk Mikayla. Dia ingat jika di deretan butik-butik terkenal ini ada salah satu butik di mana dia dan Nathan pernah melakukan fiting gaun pernikahan.
__ADS_1
Mika menatap sendu sejenak di tempat yang menjadi salah satu kenangan di masa lalunya hingga sapaan dari pegawai butik membuyarkan lamunannya.
"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang pegawai butik.
"Oh, aku ingin melihat koleksi pakaian kerja." Jawab Mikayla sedikit terbata.
"Silahkan duduk dan tunggu, kami akan mengeluarkan seluruh koleksi terbaru di butik kami." Ucap pegawai yang menunjuk ke salah satu sofa di tengah butik.
Mikayla mengangguk dia segera duduk dan menunggu koleksi pakaiannya datang, sembari menunggu Mikayla mengirim pesan singkat kepada Dean.
"Kak, Mika sudah sampai di butik."
Mikayla segera memasukkan kembali gawainya setelah selesai mengirimkan pesan singkat kepada Dean, sedangkan Dean kini tengah melakukan pertemuan di Perusahaan Wijayakusuma.
Perusahaan Wijayakusuma kini tengah melakukan kerjasama dengan Perusahaan Danuarta, perusahaan sang kakek yang kini tengah di pimpin oleh sang ayah Dave Danuarta. (hihiw, udah pada lupa sama second lead ya)
Dean datang bersama ayahnya karena Dean kini tengah belajar untuk menggantikan posisi Dave. Dean menyusul sang ayah yang telah lebih dahulu berangkat dengan sopir pribadi, karena Dean memiliki janji dengan Mikayla sehingga Dean tidak berangkat bersama sang ayah.
Kini mobil Dean sudah berhenti tepat di depan perusahaan Wijayakusuma, dia segera keluar dengan di sambut oleh pegawai yang tentu saja memiliki jabatan di perusahaan tersebut karena mengenal Dean.
"Mari ikuti saya, Tuan." Ucapnya.
Dean berjalan beriringan dengan pegawai tersebut, dengan aura dingin dan karismatik Dean berjalan menuju lift yang tampak berbeda dari lift lainnya. Pintulift terbuka dengan cepat, pegawai mempersilahkan Dean untuk masuk terlebih dahulu barulah dirinya.
Pegawai menekan angka paling tinggi, di mana ruangan rapat bersama CEO berbeda dengan ruangan lainnya, di dalam lift hanya hening yang ada. Dean terlihat melihat jam di tangannya, yang kemudian teralik kepada gawai yang berbunyi.
Seulas senyum Dean terbit ketika membaca pesan singkat dari Mikayla, pegawai perusahaan yang sejak awal merasa terintimidasi dengan hawa Dean kini semakin takut karena melihat pria yang tanpa ekspresi itu tersenyum.
"Tuan, kita sudah sampai. Semua sudah menunggu," Ucap pegawai perusahaan yang membuat wajah Dean kembali dingin.
Keduanya melangkah lebar menuju ruang rapat, sedangkan di dalam ruang rapat tengah berkumpul jajaran atas dari kedua perusahaan. Suasana hangat di dalam rapat kini menjadi hening saat pintu ruang rapat terbuka.
Nathan yang sejak tadi tidak tertarik dengan pembicaraan orang-orang kantor mengangkat kepalanya, pandangan keduanya terkunci. "Dean / Nathan." Gumamnya mereka berdua dari dalam hati.
__ADS_1