
Happy Reading 🌹🌹
Lima tahun kemudian.
Sebuah mobil melaju kencang menembus jalan raya, tampak sebuah foto pernikahan menjadi gantungan di tengah spion tengah.
Buket bunga Krisan putih juga tampak duduk manis di kursi depan penumpang.
Beruntung cuaca hari ini sangat cerah secerah perasaan seorang pria yang akan datang menemui kekasih hatinya.
Menempuh perjalanan 45 menit, kini seorang pria dengan stelan jas hitam dan sepatu pantofel yang mengkilat tengah turun dari mobil sport merahnya.
Sejenak dia berdiri di depan rumah terakhir sang pujaan hati, helaan nafas panjang dia lakukan sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam dengan membawa buket bunga.
Sepatu yang saling beradu dengan lantai terdengar menggema karena cukup sepi, sengaja pria itu datang di hari kerja bukan weekend.
Hingga langkah kaki lebarnya berhenti tetap di depan semua makam yang tampak sangat cantik dan terawat.
Di batu nisan tertulis nama sang istri yaitu Mikayla Wijayakusuma.
Sudah lima tahun lamanya Nathan sering berkunjung ke makan istrinya untuk memohon pengampunan, jika dulu dia memberontak untuk pulang kini berbeda.
Nathan akan pulang setelah selesai menceritakan kegiatan apa saja yang dia lakukan selama satu Minggu penuh.
Sebagai seorang yang akan menggantikan posisi Kenan membuat Nathan sibuk, terlebih lagi mengubur cita-citanya sedalam mungkin.
"Jika kamu jadi dokter maka akan banyak Mikayla yang lainnya."
Perkataan Luis terus terngiang di dalam benak Nathan, benar apa yang dikatakan kakak iparnya tersebut. Nathan tidak becus menjaga Mikayla bagaimana dengan yang lainnya.
Buket bunga dia taruh di depan batu nisan yang terdapat foto Mikayla. Nathan terdiam dengan mencabut beberapa rumput liar yang mulai tumbuh.
"Bagaimana kabarmu, sayang? Maaf aku baru dapat berkunjung karena sibuk menggantikan ayah." Ucap Nathan dengan mata yang mulai memanas.
__ADS_1
Nathan kembali terdiam, dia membersihkan makam istrinya dalam diam.
"Sudah lima tahun. Sudah lima tahun kamu meninggalkanku dan juga menghukum ku, apa kamu tidak ingin muncul di depanku meskipun di dalam mimpi?" Tanya Nathan kembali dengan mengigit bibirnya yang bergetar.
Lagi dan lagi, Nathan kembali terdiam setiap mengeluarkan sepatah dua patah kata di hadapan makam Mikayla.
"Apa kamu bahagia di sana hingga tidak ingin melihatku? Pasti kamu bahagia ditemani orang-orang baik, aku ... Aku juga ingin merasakan bahagia saat tahu ternyata aku sudah jatuh cinta kepadamu sejak lama." Ucap Nathan kembali dengan tersenyum tetapi kedua matanya menitipkan air mata.
Dengan cepat Nathan mengusap air matanya, "Oh, maafkan aku sayang. Padahal aku sudah berjanji tidak akan menangis di depanmu, pasti kamu di sana tertawa melihatku lemah seperti ini. Aku akan duduk dan menemanimu hari ini hingga senja menyapa." Kata Nathan kembali.
Nathan kini duduk di samping makam Mikayla dengan menekuk kedua kakinya, dia mulai bercerita aktivitasnya, juga sesekali cerita tentang Kinan sang adik yang kini sudah lulus kuliah dan menjadi pemilik cafe.
Raut wajah Nathan berubah ubah, tampak dia tersenyum dan kembali datar. Namun, air mata tidak dapat membohongi siapapun yang melihatnya.
Dia menjadi pria terapuh saat ini meski di luar tampak dingin dan tidak tersentuh setelah di tinggalkan oleh Mikayla selamanya.
Langit yang terang kini berganti senja, Nathan segera bangkit dari tempat dia duduk dengan menepuk-nepuk pelan celana kainnya.
"Sayang, aku pulang dulu. Besok aku akan datang lagi. Datanglah ke mimpiku meski hanya sedetik saja, Hem. Aku sangat merindukanmu Mika." Ucap Nathan kembali sebelum dia benar-benar meninggalkan area pemakaman.
Dengan langkah gontai, Nathan berjalan keluar menuju parkiran. Pikirannya kosong, tenaga yang dia miliki seakan hilang saat akan pulang setelah menemui istrinya.
Tampak dia duduk di dalam mobil dengan waktu yang cukup lama, bagaikan film rusak. Semua kenangan dan ucapan diantara keduanya terekam dengan sangat jelas di otaknya.
Hingga perlahan mobil sport berwarna merah itu bergerak meninggalkan area pemakaman. Nathan kembali mengendarai mobil dalam diam menuju apartemen.
Jalan raya sangat padat karena waktu pulang bekerja, anggap saja Nathan menghabiskan waktunya di jalan raya untuk mengusir rasa sepi dalam hidupnya.
Hingga saat dia tengah fokus menyetir, kedua matanya melihat Mikayla yang tengah berjalan di trotoar jalan sendirian.
Nathan mengucek kedua matanya seakan memastikan apa yang dia lihat, tapi setelah bus datang bayangan itu menghilang.
"Tidak mungkin, pasti kamu mendengarkan ku karena terus memohonkan sayang. Terima kasih sudah muncul di depanku meski hanya sedetik." Ucap Natha yang kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
Nathan kembali melanjutkan mobilnya, hingga waktu satu jam dia baru sampai di apartemen.
Segera Nathan memarkirkan mobilnya di basement, dan melangkah keluar menuju lift di mana unit apartemennya berada.
Ting
Bunyi denting lift terdengar, Nathan segera keluar dan berjalan menuju unitnya. Terlihat sandi apartemen yang tidak pernah dia rubah setelah kepergian istrinya.
Perlahan pintu apartemen terbuka, terlihat sofa dan semua tata letak masih sama saat Mikayla pergi.
Bahkan meja rias yang sempat mereka pindahkan juga tidak bergeser seincipun dari tempatnya.
Nathan masuk dengan melepas jasnya, dia sandarkan jas kerjanya di sofa dan kembali berjalan menuju dapur dengan membuka kancing lengannya.
Tampak semua perabotan dapur juga masih di tempatnya, tidak ada yang berkarat ataupun rusak karena setiap Minggu ada pelayan yang datang untuk membersihkan tempat tinggalnya kecuali kamar utama.
Benar, setelah Mikayla pergi. Kamar utama terlarang bagi siapa saja termasuk Kinan sang adik. Di dalam kamar utama adalah kenangan terindah dan tersakit yang dia miliki bersama Mikayla.
Di dalam kamar itu awal mula terciptanya semua cerita rumah tangga mereka, ingin sekali Nathan mengganti sofa di ruang tengah.
Di sana dia selalu melihat bayangan saat dirinya duduk bersama Laura, melihat bagaimana terluka dan marahnya Mikayla, di mana awal mula dia mengucapkan perkataan yang seumur hidup dia sesali.
Benar, perkataan di mana dia akan menceraikan Mikayla hanya demi seorang wanita yang dia anggap baik.
Senyum getir hanya mampu Nathan tunjukkan, dia mulai masuk ke dalam kamar utama dan berjalan ke kamar mandi.
Suara gemericik air terdengar memenuhi apartemen yang sepi tersebut, benar-benar sepi karena hanya ada Nathan dan kenangan.
Sedangkan di dalam bus, seorang wanita cantik tengah duduk di kursi dekat jendela. Kedua tangannya penuh dengan barang-barang kantor.
Gadis berambut panjang dengan gelombang itu membuang pandangannya keluar jendela, menikmati pemandangan kota yang tidak asing baginya.
Hingga ponselnya berdering membuat gadis itu segera mengangkat panggilannya.
"Halo, Kak Dean?" Sapanya.
__ADS_1