
Happy Reading 🌹🌹
"Kinan." Lirih keduanya.
"Aku terangkan sekali lagi, kakak sudah jatuh cinta dengan Mikayla lalu sekarang kenapa kakak harus bingung?" Tanya Kinan dengan bersedekap dada menatap Nathan.
"Sekarang kalian segera putus dan kamu Kak Laura, apa kamu tidak lelah bermain dengan drama konyolmu. Mungkin kamu dapat membodohi kakak tampanku ini, tetapi tidak dengan keluargaku." Lanjut Kinan yang kini bergilir menatap Laura.
Shock! Tentu saja, Laura padahal sudah serapi mungkin memainkan drama yang dia buat. Dia ingat satu orang yang mengetahui kebohongannya, yaitu Dean.
Laura menatap jendela kaca di mana ruang Mika berada, meskipun tidak terlihat Dean berdiri di sana. Tetapi, pancaran mata Laura seakan penuh kebencian.
"Drama? Jangan mengada-ngada, aku tahu karena kamu sahabat Mikayla maka kamu selalu membelanya." Sanggah Laura dengan cepat.
"Nathan, kamu tidak mungkin mudah terhasut oleh adikmukan! Kamu tau sendiri, adikmu sejak dulu tidak menyukaiku makanya dia ingin menghasutmu." Ucap Laura yang kini di tujukan kepada Nathan.
Nathan semakin bimbang dibuatnya, antara Mikayla dan Laura kini di tambah antara Kinanti dan Laura. Dua wanita yang selalu berseteru dengan Laura.
"Hey! Untuk apa aku menghasut kakakku, kurang kerjaan. Kamu yang selalu menghasutnya." Seru Kinan tidak terima.
"Aku tidak pernah menghasut Nathan, kamu saling mencintai, dan tidak mungkin aku berbuat sekeji itu." Jawab Laura tidak mau kalah.
"CUKUP!"
Nathan berseru sehingga dua wanita yang tengah berada di hadapannya terdiam dan membuang pandangannya kesembarang arah.
"Kinan kamu kembali jaga Mika, aku akan mengantar Laura pulang." Ucap Nathan kepada Kinan.
Kinan hanya mendelik kesal, dia segera beranjak pergi meninggalkan kedua orang itu.
Nathan segera menyeret Laura agar masuk ke dalam mobil dan segera Nathan menyalakan mesin mobil hingga bergerak meninggalkan area rumah sakit.
Selama di perjalanan hanya ada suara Isak tangis dari Laura, Nathan sendiri hanya diam seribu bahasa.
"Nath, kamu tidak akan meninggalkanku kan? Kita sudah lama berpacaran dan aku yakin itu hanya perasaanmu sesaat kepada Mikayla karena kalian satu atap." Ucap Laura tiba-tiba kepada Nathan.
__ADS_1
"Laura, aku ...."
"Stop! Aku tidak ingin mendengar ucapan yang menyakiti hatiku Nath. Sampai kapanpun aku tidak akan pergi meninggalkanmu, aku yakin cintamu hanya sesaat kepada Mikayla. Hanya aku wanita yang kamu cintai Nath tidak ada yang lain. Ingat Nath aku tengah berjuang untuk hidup jika kamu meninggalkanku aku tidak ada alasan untuk bertahan hidup." Laura memotong ucapan kekasihnya.
Segera Laura keluar dari dalam mobil saat lampu merah, Nathan hanya terdiam menatap punggung Laura yang terlihat tangannya menyeka air mata.
Nathan dengan kesal memukul stir mobilnya, dia semakin bingung dan kesal kepada keadaan dan juga dirinya.
*
*
*
Waktu berlalu, hari demi hari Nathan dan Mikayla lewati seperti biasanya. Nathan selalu di bawakan bekal oleh Mika.
"Mika."
"Kak."
"Kamu dulu." Ucap Nathan.
"Kaka saja dulu tidak apa-apa." Tolak Mikayla.
Nathan memainkan cangkir teh dengan di putar perlahan, "Ini mengenai Laura." Nathan akhirnya yang memulai pembicaraan.
"Ada apa?" Tanya Mika yang sudah berubah jadi dingin.
Nathan menatap wajah Mikayla yang berada di depannya dengan pandangan memohon, "Aku tidak dapat meninggalkan Laura, dia juga tengah berjuang untuk hidup sepertimu. Aku tidak mungkin menjadi orang jahat dalam hidupnya." Jawab Nathan pelan.
Mikayla hanya tersenyum miring, dia sudah tahu jika Laura hanya berbohong tentang penyakitnya. Berbohong tentang semua yang dia ucapkan kepada Nathan.
Bukan dari Dean, melainkan Mikayla menggunakan kekayaan keluarganya. Dia menyewa detektif swasta untuk mengorek informasi tentang Laura dan kehidupan orang-orang terdekatnya.
Bagaimana Laura mengancam Susu untuk bersekongkol dengannya, bahkan keberadaan orang tua Laura membuat Mikayla kaget karena orang tua Laura berada di sekitar mereka.
__ADS_1
"Lalu kakak rela menjadi orang jahat dalam hidupku?" Tanya Mikayla dengan menatap inten kedua mata Nathan.
"Tentu saja tidak, Mika. Aku tidak ingin menjadi orang jahat untuk kalian berdua." Jawab Nathan yang tampak mulai frustasi.
"Nyatanya kakak sudah menjadi orang jahat untuk kami, kakak tidak bisa menggenggam dua wanita sekaligus. Jika Kakak ingin bersama Laura kita bercerai saat ini juga, kakak tidak perlu mengantarku pulang karena aku masih hafal jalan pulang." Cecar Mikayla dengan gemuruh dalam hatinya.
"Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu Mikayla! Tolong beri aku waktu sampai Laura sembuh," tolak Nathan dengan tegas.
"Kakak ingin terus menyiksaku! Setelah pulang dari rumah sakit, kakak lebih perhatian denganku, selalu ada untukku. Tetapi, itu semua tidak mengubah kenyataan jika Laura masih berada di antara kita!" Sentak Mikayla dengan menggebrak meja makan.
"Mika! Jaga sikapmu, aku perhatian dengan kalian berdua dan bersikap adil. Kalian sama-sama memiliki sakit jantung, kamu seharusnya lebih paham bagaimana perjuanganmu yang sama di lakukan oleh Laura. Aku hanya meminta sedikit waktu Mika, setidaknya sampai Laura tidak suka kambuh-kambuhan lagi." Ucap Nathan dengan nada dan wajah memohon.
Mikayla tersenyum miring bahkan air matanya sudah luruh begitu saja, melihat pria yang dia cintai memohon di depannya demi wanita lain yang jelas-jelas sudah membohongi dirinya habis-habisan.
"Kakak memohon padaku hanya untuk Laura, wanita yang tidak berhak apapun atas kakak! Kenapa? Kenapa kakak tidak memohon kepadanya untuk merelakan kakak denganku!" Teriak Mikayla yang membuat Nathan terdiam.
"Aku sudah melakukannya Mika, aku sudah memohon kepada Laura berulang kali." Jawab Nathan jujur.
"Kakak jika tegas semua ini tidak akan terjadi, jika Kakak memutuskan hubungan sejak awal dengan Laura rumah tangga kita tidak akan serumit ini, kak! Aku lelah kak." Kata Mikayla dengan menangis.
"Maaf, ini semua salahku." Ucap Nathan yang kini bersimpuh di lantai dekat Mikayla duduk.
"Maaf? hanya maaf yang dapat kakak ucapkan? Sekarang Kakak pilih aku atau Laura," Mikayla memberi pilihan kepada suaminya
Nathan lantas menatap Mikayla dengan menggelengkan kepalanya cepat,
"Kenapa? Tidak bisa memilih? Maka lepaskan Mikayla, semakin kita menjalani rumah tangga ini maka akan semakin dalam luka yang kakak torehkan untukku. Begitu juga, kakak akan terus terluka dengan perbuatan kakak sendiri." Ucap Mikayla kembali kepada Nathan.
"Tidak Mika, aku mohon. Kita bisa perbaiki rumah tangga ini, beri waktu aku untuk memutuskan semuanya Mika." Jawab Nathan dengan gemetar.
"Waktu? Sampai kapan kak? Sampai Mika mati dan kakak menyesali semuanya?" Tanya Mikayla lagi.
Air mata Nathan sudah tidak dapat di bendung lagi, mendengar Mikayla yang ingin berpisah sudah membuatnya sakit dan sekarang membicarakan tentang kematian.
"Kak, jawab dengan jujur. Apa kakak sudah mencintai Mika?" Tanya Mika dengan intens.
__ADS_1