Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
DEJAVU


__ADS_3

Happy Reading


Nathan terbangun karena mendengar suara benda jatuh, dia langsung bangun dengan wajah bantal. Melihat sekeliling tidak ada siapapun bahkan Mika sudah tidak ada di tempatnya.


Segera Nathan menyibak selimutnya mengecek ke kamar mandi, tetapi kosong. "Di mana Mika, apa dia mandi di kamar sebelah." Ucap Nathan pelan.


Nathan lantas masuk ke dalam kamar mandi karena melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi, mereka harus berangkat pagi karena masih ujian semester.


Tanpan Nathan sadari, Mika tengah meringkuk di bawah dengan memegangi dadanya. Suara tadi adalah Mika yang bangun dari tidurnya tetapi jantungnya tiba-tiba berdenyut nyeri sehingga membuat Mika langsung ambruk di atas lantai menyampar vas kecil di atas nakas.


"Agh ... huh .. huh ..."


Mika meremat dengan kencang dadanya, rasanya sangat amat sakit, ingin memanggil Nathan tetapi tidak sanggup dadanya terlalu sakit, oksigen seakan kosong di dalam kamar sampai dia kembali tidak sadarkan diri.


Nathan keluar dari dalam kamar mandi setelah secepat kilat membersihkan diri, mengambil seragam dari dalam lemari, dan mengenakannya dengan cepat sebelum Mika kembali masuk ke dalam kamar utama.


Menyisir rambutnya dengan rapi seperti biasanya, "Tampan seperti biasanya." Ucapnya pelan. Lantas Nathan segera keluar, tetapi ruang tengah kosong dia melangkahkan kakinya menuju kamar sebelah.


Tok


Tok


Tok


"Mikayla!" Panggil Nathan setelah mengetuk pintu beberapa kali.


Tidak ada jawaban dari dalam, "Mika! Jika kamu lama akan aku tinggal." Seru Nathan kembali tetapi hening tidak ada jawaban.


Hingga Nathan memutar knop pintu kamar, tidak terkunci. Dengan cepat membuka pintu kamar selebar mungkin, kamar tampak rapi dan hening. Bahkan pintu kamar mandi terbuka dengan lebar ke mana istrinya.


Nathan berjalan keluar tetapi di dapur maupun ruang TV tidak ada Mika, dengan cepat merogoh saku celananya untuk menghubungi Mikayla. Panggilan tersambung tetapi tidak ada jawaban, ponsel Mika mode getar hanya berkedap-kedip di atas kasur yang tertutup selimut tebal.


"Astaga, gadis itu. Dia tidak membangunkanku dan meninggalkanku begitu saja." Ucap Nathan frustasi.

__ADS_1


Segera Nathan memakai kaos kaki dan sepatunya, bergegas keluar apartemen dengan berlari kecil menuju lift. Nathan berfikir jika Mika sudah berangkat terlebih dahulu ke sekolah meninggalkannya, tidak membutuhkan waktu lama Nathan telah sampai di ruang basement.


Perlahan mobil sedan bergerak meninggalkan parkiran basement dan membelah jalanan menuju sekolah, di saat Nathan berangkat sekolah. Luis tengah mengebut dijalan raya pagi ini karena dia mendapatkan telfon dari rumah sakit jika Mikayla sudah lama tidak pernah mengambil obat jantungnya dan kontrol rutin.


"Angkat, Mikayla!" Luis berteriak frustasi.


Sama halnya dengan panggilan Nathan, panggilan Luis juga tidak mendapatkan jawaban. Kaki Luis mnginjak pedal gas semakin dalam menuju apartemen Nathan yang beruntung tidak jauh dari mansion.


Secara serampangan, Luis memberhentikan mobilnya, dan berlari menuju lift. Dia masih berusaha menghubungi adiknya tetapi nihil masih tidak ada jawaban karena tidak sabar Luis memutuskan untuk berlari menaiki tangga darurat.


Melewati satu anak tangga karena langkah Luis yang lebar, meski peluh membasahi tubuhnya tidak dia hiraukan, dia memikirkan adiknya saat ini. Jika di logika seharusnya Luis mencari Mika di sekolah, tetapi dia yakin jika Mika berada di apartemen.


Dengan nafas memburu juga peluh yang membasahi wajah dan tubuhnya, Luis akhirnya telah sampai di depan apartemen. Dengan cepat dan keras dia menggedor pintu apartemen.


"Mika! Nathan!" Teriak Luis dari luar.


Dor


Dor


Dor


Pintu apartemen tetangga terbuka, "Bisakah kamu pelan, di sini tidak hanya kalian yang tinggal di apartemen." Ucapnya.


"Tuan, tolong! Adik saya sedang kesakitan di dalam. Saya tidak tahu pasword pintunya." Ucap Luis segera menghampiri tetangga apartemen.


"Sudah di hubungi belum? Mungkin sedang berangkat sekolah, karena anak sekolah yang tinggal di apartemen itu." Jawab sang tetangga.


"Sudah, tidak di jawab. Tolong batu saya." Kata Luis dengan air mata yang sudah luruh.


"Tenang anak muda, aku akan hubungi bagian keamanan dulu." Ucap tetangga apartemen.


Luis pikirannya buntu karena yang ada di dalam pikirannya hanya keadaan Mikayla, bahkan dia tidak ingat jika bisa menghubungi penjaga apartemen ataupun Nathan. Luis menguyar rambutnya frustasi ke belakang dan meraup wajahnya yang kusut.

__ADS_1


Hingga tidak lama seorang pria dengan seragam keamanan berjalan mendekatinya, "Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya kepada tetangga apartemen yang menghubunginya.


"Pak, tolonga adik saya sedang sakit di dalam." Jawab Luis dengan cepat.


"Boleh minta kartu identitasnya," Kata penjaga


Segera Luis mengeluarkan kartu tanda siswa, penjaga segera mengantonginya, dan membukakan pintu apartemen menggunakan kartu cadangan yang selalu di duplikat untuk keadaan mendesak seperti ini.


Luis segera menerobos masuk ke dalam apartemen dengan di ikuti tetangga apartemen dan penjaga, Luis berjalan masuk ke kamar yang kosong, dan sisa satu kamar lagi ternyata sudah di buka oleh penjaga apartemen.


"Ada orang pingsan!" Serunya.


Luis langsung berlari masuk kedalam kamar, terlihat Mika tergeletak di atas lantai dingin. Segera Luis menggendong Mikayla dengan cara bridal style ketiganya segera keluar dari apartemen Nathan.


Tetatangga tidak bisa mengikuti karena dia ada keperluan lain , sehingga Luis turun menggunakan lift bersama penjaga. "Mika, bertahanlah." Ucap Luis dengan suara parau.


"Tenang, anak muda. Pasti semua baik-baik saja, ayo saya antar." Jawab penjaga menenangkan Luis.


Luis hanya mengangguk, dia terlalu rapuh jika melihat Mikayla sedang sekarat seperti ini. Seakan dejavu saat dia dan Mikayla berlari-larian karena saat itu mereka tidak tahu apapun hanya mendapatkan larangan demi larangan tanpa orang tuanya menjelaskan.


Membuat Mikayla berakhir di rumah sakit hingga dia tahu jika jantung adiknya berbeda dari anak-anak lainnya, "Jangan menangis, Son. Mikayla sebentar lagi akan sembuh dan bisa bermain denganmu." Ucap Jackson memeluk tubuh Luis kecil.


"Hiks, Dad ini salah Luis karena tidak bisa menjaga Mikayla." Jawab Luis yang belum paham penyakit Mika.


"Tidak, sayang. Bukan salah Luis tetapi salah Daddy dan Mommy. Luis harus menjaga Mika dengan baik, Mika tidak memiliki jantung yang bagus seperti milikmu dan milik teman-temanmu." Jelas Bintang lembut.


Luis tersedu-sedu dengan memandang Bintang, "Tidak baik? Apa rusak? Jika begitu Daddy bisa membelikannya yang bagus untuk Mikayla." Ucap Luis polos.


Bintang menangis mendengar penuturan Luis, jika saja bisa semudah itu pastilah sejak lama mereka sudah menggantinya dengan yang baik. Bahkan jika jantungnya dapat menggantikan jantung sang putri pastilah juga sudah mereka tukarkan.


"Bukan seperti itu sayang, jantung Mikaylla sangat langka jadi tidak semudah itu menggantinya. Jantung Mikayla unik dari orang lain." Jawab Bintang pelan.


Begitulah cara Jackson dan Bintang memberi tahunya. Hingga semakin bertambahnya usia dia paham apa yang Mommynya katakan jika jantung Mikayla itu unik dan langka, karena memanglah jantung Mikayla tidak bisa diganti meskipun orang tuanya mampu membayar pendonor jantung utnuk Mikayla.

__ADS_1



__ADS_2