
Happy Reading
Nathan melajukan mobilnya menuju mansion utama, tidak membutuhkan waktu lama. Nathan telah sampai dan memarkirkan mobilnya di garansi mansion, tempat dulu dia biasanya menaruh mobil koleksi miliknya.
Dengan langkah lebarnya, dia berjalan measuki mansion, pelayan yang melihat kedatangan Tuan Mudanya memberikan salam seperti biasa.
“Selamat datang Tuan, anda sudah di tunggu Tuan Kenan di ruang kerjanya.” Ucap kepala pelayan mansion.
Nathan mengangguk dan berjalan menuju ruang kerja sang ayah, dia mengetuk pintu perlahan sebagai rasa sopan santun kepada orang tuanya.
Tok
Tok
Tok
“Ayah.” Panggil Nathan yang masih berdiri di ambang pintu.
Kenan yang tengah duduk mengerjakan pekerjaannya menoleh kearah sumber suara, melihat kedatangan anak laki-lakinya membuat Kenan menyudahi pekerjaannya.
“Duduklah dulu, tunggu Ayah membereskan berkas ini.” Ucap Kenan kepada Nathan.
Nathan berjalan masuk dan menutup pintu ruangan kerja Kenan, dia menjatuhkan bobot tubuhnya di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan itu.
Nathan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah, ruangan kerja sang ayah yang lebih dominan dengan warna coklat tua dan beberapa perabotan terbuat dari kayu sehingga bau kayu sangat kental dalam ruangan tersebut.
Terdapat banyak fotonya dengan Kinan juga foto kedua orang tuanya di berbagai penjuru dunia, pandangannya tertuju pada salah satu foto wanita paruh baya. Yaitu sang nenek yang sudah meninggal dunia di saat usianya sepuluh tahun.
Terlihat foto sang nenek yang sangat menyayangi mamanya, dia teringat dengan Mikayla. Mikayla adalah wanita pilihan sang mama yang di jodohkan dengannya hingga mereka sudah resmi menikah.
“Apa mama juga begitu menyayangi Mika seperti nenek menyayangi mama.” Ucap Nathan pelan.
“Tentu saja,” timpal Kenan yang ternyata sudah berada di dekatnya.
Nathan menoleh kearah sang ayah, Kenan duduk di sofa sebrang Nathan hingga keduanya berhadapan. “Apa yang ingin ayah bicarakan sampai memanggilku tanpa Mika?” Tanya Nathan dengan wajah datar.
Kenan hanya tersenyum tipis, “Bagaimana kabar menantuku?” Tanya Kenan sebelum masuk ke inti pembicaraan.
“Baik.” Jawab Nathan berbohong.
__ADS_1
Kenan menganggukkan kepalanya saja, “Bagaimana sekolah kalian terutama kamu, sebentar lagi akan lulus SMA. Mau sampai kapan hubunganmu dengan Laura terus berlanjut?” Tanya Kenan yang membuat Nathan tidak kaget.
Pastikah orang-orang kepercayaan Kenan sudah mengetahui jika Mikayla sakit dan juga hubungannya dengan Laura yang masih berlanjut, tetapi Nathan hanya mampu terdiam karena dia juga bingung dengan dua pilihan wanita yang tengah berjuang untuk hidupnya.
“Kenapa diam, apa kamu masih terus melanjutkan bermain api? Apa kamu tidak takut terbakar?” Tanya Kenan kembali karena hanya melihat Nathan diam seribu bahasa.
“Nathan bingung, ayah.” Nathan akhirnya berkata menyeruakan isi hatinya.
“Bingung kenapa?” Tanya Kenan kembali.
Nathan bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju jendela yang berada di dalam ruang kerja sang ayah, dia memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana panjangnya. Membuang pandangannya lurus jauh ke depan dengan sejuta pikiran dan isi hatinya.
“Nathan tidak tahu harus memilih siapa? Laura yang sudah lama menjalin hubungan dengan Nathan atau Mikayla wanita yang kalian hadirkan dalam kehidupan dan hubungan Nathan.” Jawab Nathan yang berbalik menatap Kenan.
Kenan hanya menatap wajah Nathan datar, dia menyandarkan punggungnya di sofa dengan satu kaki bertopang di kaki lainnya.
“Nath, sebelum kamu lahir. Ayah sudah melakukan kesalahan terbesar saat itu kepada Mamamu, Ayah lebih memilih wanita di masa lalu Ayah dan mengacuhkan Mama. Bahkan, Nenek yang kamu tahu bagaimana dia menyayangi Mama dulu juga berbuat kesalahan yang fatal. Kami berdua hampir bercerai, Ayah hampir kehilangan Mama untuk selamanya karena kakek dan nenekmu bersiap mengirim Mama pergi ke luar negeri.” Kenan menerawang jauh bagaimana kisah percintaannya dengan Alice waktu itu.
Nathan yang mendengarkannya tentu saja tidak begitu percaya karena yang dia lihat, baik ayah maupun neneknya sangat menyayangi mamanya.
Kenan berdiri dan melangkah mendekat kearah Nathan, “Kami tidak ingin apa yang sudah kami alami, apa yang sudah ayah lakukan kepada mamamu agar tidak terulang dalam rumah tangga kalian. Percayalah, Nath apa yang sudah kamu miliki saat ini sudah jauh lebih berharga dari wanita manapun.” Ucap Kenan kembali kepada Nathan.
“Baik, ayah.” Jawab Nathan pelan.
“Kita makan siang dulu sembari menunggu Mama pulang,” Ajak Kenan merangkul putranya.
“Mama kemana?” Tanya Nathan yang berjalan beriringan dengan sang ayah.
“Mama baru ke perusahaan kakek,” jawab Kenan.
Nathan hanya mengangguk, tetapi langkahnya terhenti saat ponselnya bordering. Dia mengambil ponsel dari dalam sakunya tertera nama Laura di layar.
“Ayah, Nathan harus segera pergi. Lain kali kita makan bersama,” Ucap Nathan yang merejeck panggilan Laura.
“Baiklah, lain kali ajaklah Mikayla pulang.” Jawab Kenan dengan tersenyum hangat.
“Baik ayah, Nathan pergi dulu.” Pamitnya yang langsung melangkah keluar mansion.
Kenan hanya menatap kepergian Nathan dengan pandangan datar, “Ayah harap kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti Ayah dulu.” Ucap Kenan dalam hati.
__ADS_1
Nathan berjalan cepat dan segera masuk ke dalam mobil, segera dia menyalakan mesin mobil dan keluar dari mansion utama. Nathan segera melajukan mobilnya dengan cepat saat sudah memasuki jalan raya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Nathan sudah berhenti di depan sekolah. Laura yang melihat mobil kekasihnya segera berlari mendekat, dia segera masuk dengan wajah cemberut.
“Ih, lama banget sih sayang. Kamu tahu sampai tidak ada siswa lagi di sekolah.” Ucap Laura yang langsung marah kepada Nathan.
Nathan hanya menghela nafasnya dengan kasar, padahal dia juga sudah secepat mungkin untuk menjemput Laura. Tanpa berkata apapun Nathan segera menjalankan mobilnya menjauh dari sekolah.
“Aku ingin menjenguk, Mika.” Kata Laura tiba-tiba.
Nathan sontak saja menoleh kearah kekasihnya, “Tidak perlu, Mika besok sudah boleh pulang.” Jawab Nathan menolak.
“Tidak! Kamu sudah lebih dari 24 jam bersamanya, sedangkan denganku baru hari ini. Aku ingin datang ke rumah sakit atau aku datang sendiri.” Ucap Laura dengan mengancam Nathan.
Nathan terdiam memikirkan sejenak, dia belum meminta izin kepada Mika tetapi di sana juga ada Kinan adiknya. Tidak akan jadi masalah, “Baiklah.” Jawab Nathan yang membuat Laura senang.
Nathan akhirnya berbelok menuju rumah sakit, “Kita mampir dulu untuk beli makan siang.” Kata Nathan kepada Laura.
“Bagaimana kita makan siang dengan spaghetti atau ayam gororeng saja, juga beberapa buah untuk Mikayla.” Ucap Laura dengan wajah riang.
“Kamu tidak boleh makan seperti itu, lebih baik kita beli salad saja, dan beberapa makanan sehat lainnya. Kamu harus berhenti memakan makanan seperti itu, ingat kamu memiliki penyakit jantung.” Tolak Nathan yang membuat Laura tidak dapat berkata-kata.
Nathan akhirnya berbelok ke sebuah café yang hanya menyediakan menu sehat, dari salad, roti, buah, dan minumannya. Segera Nathan keluar dengan di ikuti Laura yang berjalan di belakangnya.
Mendorong pintu hingga lonceng bel berbunyi, “Ada yang bisa kami bantu?” Tanya pelayan café begitu Nathan berhenti di depannya.
“Saya mau pesan salad empat, jus buah empat, dan juga kue tanpa gula.” Jawab Nathan menyebutkan semua pesananya.
“Baik, mau di bungkus atau makan di tempat?” Tanya kembali pelayan.
“Bungkus,” jawab Nathan cepat.
“Baik, bisa anda melakukan pembayaran kami akan memanggil jika pesanan sudah siap.” Kata penjaga café
Segera Nathan membayar semua pesananya ke kasir café tersebut dan menunggu beberapa saat saja. Hingga namanya di panggil dan pelayan menyerahkan dua kantung paper bag kepada Nathan.
“Terima kasih, selamat datang kembali.” Ucap pelayan dengan sopan.
Nathan dan Laura keluar, segera mobil melaju meninggalkan café yang tidak jauh dari rumah sakit. Laura hanya memangku dua paper bag dengan wajah kesal, padahal dia sudah membayangkan makan yang enak sambil memanasi Mikayla tapi kini semuanya sedikit melenceng.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, masih bisa memanasi Mika meskipun makan rumput.” Gerutu Laura dalam hati.