Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
PERTENGKARAN DI KANTIN


__ADS_3

Happy Reading


Mikayla, Kinanti, dan Dean berjalan bersama menuju kantin. Mereka duduk di salah satu meja dengan kursi panjang yang khas dengan kantin sekolah di Indonesia pada umumnya.


"Kalian ingin pesan apa?" Tanya Dean kepada dua gadis yang duduk di hadapannya.


"Aku gado-gado dan es teh." Jawab Mika cepat.


"Aku juga sama." Jawab Kinanti.


"Ck, setiap hati gado-gado. Sekali bakso, mie ayam, ayam geprek. Atau jangan-jangan kalian aslinya miskin ya." Cecar Dean dengan wajah mengejek.


Kinan melempar tempat tisu berbentuk bulat ke arah Dean dan dengan sigap di tangkap oleh pria tampan tersebut, "Aku bisa membeli celana dalammu, kak." Ucap Kinan bersungut-sungut.


"Oh, mesum! Aku lebih baik mengantri daripada kalian menelanjangiku di sini." Jawab Dean dengan berjalan cepat meninggalkan keduanya.


Kinan hanya berdesis kesal sedangkan Mika diam seribu bahasa, kedua gadis tersebut sibuk bermain ponselnya masing-masing. Mika tersenyum-senyum tidak jelas dengan memandangi gawainya sedangkan Kinan menyandarkan kepalanya di pundak kakak iparnya manja.


"Mika."


"Hem."


"Bagaimana malam pertamamu?" Tanya Kinan tiba-tiba.


"Biasa saja." Jawab Mika jujur.


Kinan bangun dan segera duduk tegap, dia memandang wajah sahabatnya dengan intens. "Yakin?" Tanyanya kepo.


Mika hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban, dari kejauhan Nathan dan Laura berjalan mendekat ke arah kantin dengan Laura bergelayut manja menggandeng lengan Nathan. Jika biasanya Nathan akan melarang Laura kali ini tidak.

__ADS_1


Nathan merasa bersalah karena membuat Laura menangis, jadi sebagai penebusan dosa dia membiarkan Laura menggendeng lengan kirinya.


"Sepertinya semua meja sudah penuh, sayang." Ucap Laura kepada Nathan.


Nathan mengunci pandangannya kearah dua gadis yang tampak satunya tengah berbicara sedangkan satunya tampak acuh dan fokus dengan gawainya, "Kita duduk di sana." Ucap Nathan.


Nathan langsung terlebih dahulu membuat pegangan Laura terlepas, "Eh, mau ke mana?" Tanya Laura.


Nathan tidak menggubris ucapan Laura, dia tetap fokus dengan satu gadis yang membuat pikirannya berkecamuk bahkan perasaannya kini cukup berantakan karena ciuman singkat siang ini. Mika dan Kinan yang merasakan kehadiran orang lain lantas mengalihkan pandangannya.


"Kak Nathan, ada apa?"  Tanya Kinan kepada kakaknya.


"Makan." Jawabnya singkat dan langsung duduk di depan Mika yang tampak menatapnya datar tanpa ekspresi.


Sedangkan Laura ikut duduk dan langsung bergelayut manja kepada Nathan seakan memproklamairkan jika Nathan hanya miliknya kepada Mikayla. Kinan hanya menatapnya malas, dia menyenggol kaki Mika yang berada di bawah meja.


Mika meletakkan ponselnya, "Apa kalian tidak bisa membuat polusi mata di depanku?" Tanya Mika dengan datar.


"Kau! Bilang saja jika kamu cemburu melihat kami bukan? Jadi gadis jangan mura*han, menggoda kekasih orang tanpa tau malu bahkan menciumnya di depan umum." Cecar Laura dengan nada dan wajah merendahkan Mikayla.


Mikayla tersenyum miring dengan bersedekap dada, "Aku? Mura*han? Astaga, cicak saja langsung tersedak lidahnya sendiri. Bagaimana bisa seorang istri sah menjadi wanita murahan untuk suaminya sendiri, terserah aku ingin mencium suamiku di depan umum maupun di dalam kamar. Ingatlah statusmu yang tidak lebih wanita simpanan emm selingkuhan?"


"Lebih tepatnya mura*han, ups!" Timpal Kinanti dengan satu tangan menutup bibirnya dan wajah terkejut.


Mikayla terkekeh pelan, "Percaya diri itu harus dan sadar diri sangat penting." Lanjut Mikayla.


Laura mengepalkan kedua tangannya, dia merasa sangat tertampar dengan ucapan Mikayla. Memang benar jika dirinya hanya kekasih Nathan berbeda dengan gadis yang usianya lebih muda darinya satu tahun adalah istri sah.


Dia langsung bangkit dari duduknya dan menyambar satu gelas es teh, di tumpahkannya es teh tersebut di atas kepala Mikayla yang masih tetawa mengejek. Membuat Nathan membelalakkan kedua matanya lebar begitu juga Dean dan para siswa yang sedang berada di kantin.

__ADS_1


Brak!


"Dasar gadis tidak tahu malu, aku sudah berkata baik-baik untuk menjauhi Nathan tetapi kamu masih menggoda tanpa tahu malu!" Seru Laura berbohong tetapi dapat mengambil rasa simpati dari siswa lain.


Gunjingan terdengar dari mulut para siswa terlebih perempuan sedangkan para siswa laki-laki hanya menatapnya sedih dan juga ada yang jijik. Nathan yang ingin menyentuh Mika dengan kasar di tepis oleh Mikayla kasar.


Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kursi menuju Laura, "Apa perlu aku mengumumkan pernikahanku dengan Nathan saat ini juga, ingatlah pelakor selalu di pandang jijik oleh masyarakat." Bisik Mikayla dengan tangan kiri yang memeluk pundak Laura.


Jantung Laura berdegup kencang, tanggannya gemetar bahkan meremat rok span yang cukup pendek. Mika sedikit menjauh dari Laura menatap wajah pias gadis di depannya dengan kepala sedikit miring.


Mikayla mengambil gado-gado yang masih berada di atas nampan yang saat ini masih di pegang oleh Dean dan tanpa aba-aba dia menumpahkan tepat di depan wajah Laura. Membuat para siswa semakin riuh karena Mikayla sangatlah kasar seperti rumor yang beredar.


Nathan sangat kaget karena Mikayla begitu kasar, "Mikayla! Apa yang kau lakukan!" Seru Nathan menyampar piring gadi-gado yang isinya sudah banyak yang tumpah.


Suara piring pecah membuat suasana langsung hening, tampak Nathan begitu marah dengan nafas yang memburu. Sedangkan Laura menangis dan tidak berani membuka kedua matanya, "Ah , pedas ... Nathan ini sangat pedas!" Jerik Laura dengan menghentakkan kedua kakinya kecil sedangkan tangannya bergerak seakan mengipasi.


"Ayo kita ketoilet, dan kau. Urusan kita belum selesai." Ucap Nathan yang merangkul Laura untuk pergi ke kamar mandi terdekat.


Mika juga langsung berlalu dari kantin di ikuti oleh Dean, "Bayar dulu, Kin!" Serunya, Dean berlari mengikuti Mikayla karena gadis tersebut berjalan dengan cepat.


Kinan hanya mengangguk cepat, segera dia berjalan ke arah kasih untuk membayar makanan, minuman, dan beberapa barang yang rusak akibat pertengkaran hari ini.


"Mika!" Seru Dean.


Mika tidak menggubrisnya, dia berjalan dengan cepat tanpa arah tujuan. Mengusap air mata dengan kasar yang lolos begitu saja dari kedua mata indahnya. Hingga langkahnya terhenti di sebuah taman belakang sekolah, dia berjongkok dan menutup kedua matanya.


Tubuhnya terguncang pelan, suara isakan tangis terdengar. Sedangkan Dean berhenti dengan jarak yang tidak begitu jauh dari Mikayla. Dia menyandarkan tubuhnya di salah satu pohon mangga, berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Dengan setia menunggu Mika yang tengah menangis, mendengar suara isakan tangis yang lirih. Dean hanya mampu menatap punggung gadis rapuh tersebut tanpa bisa menyentuhnya.

__ADS_1


Hembusan angin siang ini mengiringi kesedihan Mika, angin yang menggerakakkan dedaunan hijau dan mengugurkan daun berwarna kuning. Perlahan Mikayla mengangkat kepalanya dan menengadah, "Angin berbisik dengan aksen yang menenangkan, dan alam membuatku tidak menangis lagi." - Mary Wollstonecraft Shelley



__ADS_2