
Happy Reading 🌹🌹
Suara desah*an Mikayla bagaikan alunan simfoni indah di telinga Nathan.
Nathan pria normal, sudah lama dia menahan diri untuk tidak menerima Mika sejak pertama tidur dalam satu ranjang.
Dia ingat jika perjalanan Mika dan dirinya masih panjang, masih ada cita-cita yang harus mereka gapai.
Tapi, kini semua sudah di depan oleh Nathan. Karir meskipun bukan pemimpin perusahaan gaji dari seorang asisten Kenan juga sangat cukup untuk menghidupi Mika dan anaknya kelak.
Tangan Nathan mulai liar, tangannya menelusup masuk kedalam kaos over size yang dikenakan oleh Mikayla.
Terasa sangat halus dan mulus kulit sang istri, pinggang yang ramping, dan da*da yang tidak begitu besar maupun kecil terasa sangat pas di tangan Nathan.
"Ah, kak!"
Suara jeritan Mika yang tersentak kaget karena area sensitifnya di rema*t lembut oleh tangan Nathan.
Jemari lentik Mika menelusup dan mere*mas rambut hitam milik Nathan karena menahan getaran yang belum pernah dia rasakan.
"Bolehlah aku melakukannya?" Tanya Nathan yang masih memainkan sesuatu di balik kaos Mika.
Mika yang sudah pusing dan menginginkan lebih sentuhan dari suaminya mengangguk dengan mantap.
"Kamu yakin?" Tanya Nathan dengan suara serak.
"Yakin, sentulah aku sepuasmu jika benar kamu suamiku." Jawab Mika memberikan lampu hijau.
"Tentu saja, aku akan melakukannya dengan lembut. Hingga membuat Nathan junior agar kamu tidak dapat lari dari sisiku lagi sayang." Ucap Nathan yang mengecup sekilas bibir sexy milik Mikayla.
Perlahan Nathan merebahkan tubuh Mika di atas ranjang, Nathan merangkak naik di atas tubuh Mika dengan di topang dua tangannya.
Kembali benda kenyal saling bertemu dan daging tak bertulang saling membelit.
Suasa semakin memanas, udara dingin dari AC sudah tidak mampu mendinginkan tubuh kedua insan yang kini sudah lepas dari tubuh entah sejak kapan.
Mika membuang pandangannya dengan tangan yang menyilang di depan, dia sungguh malu melihat suaminya yang bertelanjang dada meskipun dulu pernah melihatnya sekilas.
"Tidak perlu malu, kita sudah sah suami istri. Sudah lama aku menahannya selama enam tahun agar tidak menyentuhmu." Kata Nathan yang membuat Mikayla semakin malu bukan kepalang.
Pertahan kacamata berenda putih Nathan lepas dan buang kesembarang arah, membuat sesuatu yang tersimpan rapat kini terpampang nyata.
Nathan tidak sungkan langsung melahapnya bagaikan sebuah permen yupi.
__ADS_1
Mika semakin blingsatan dia merema*at apa saja yang dapat dia jangkau.
Daging tak bertulang Nathan tampak lihai memainkan kedua benda milik Mikayla secara bergantian.
Suara jeritan manja dan desa*han memenuhi kamar utama, Nathan tidak seinci tubuh istrinya terlewati.
Bagian inti bawah Mika terasa berdenyut-denyut sama halnya dengan Nathan.
Karena Mika mengenakan celana kolor milik Nathan sehingga tidak membuat pria tampan itu susah melepaskannya, salam sekali tarik celana itu sudah teronggok di atas lantai.
Nathan berdiri tegap dengan memandangi gadis yang hampir telan*Jang bulat di depannya.
Dada Mika naik turun bersamaan dengan degup jantungnya, jemari Nathan meraba bagian sensitif lainnya yang masih terbungkus.
Sontak saja hal itu membuat Mika kaget karena tubuhnya semakin seperti di sengat listrik membuat tubuhnya merinding.
"Basah." Ucap Nathan yang membuat Mikayla menutup wajahnya dengan bantal.
"Sudah kak, aku sangat malu." Kata Mika yang mulai mendudukkan tubuhnya.
"Tidak bisa, kita sudah memulainya. Jadi kita harus menuntaskannya hingga selesai." Tolak Nathan dengan cepat.
Nathan kembali melu*mat bibir sexy istrinya, tanpa melepaskan ciu*mannya. Nathan melepaskan celana panjang yang dia kenakan.
"Kamu siap sayang?" Tanya Nathan yang sudah mulai memposisikan dirinya
Mika menghirup nafas dalam, dia sendiri juga sangat nerfes karena baru pertama kali bersentuhan dengan Nathan hingga sejauh ini.
"Iya." Jawab Mika pelan.
"Ini akan terasa sakit, kamu boleh menjambakku. Tapi jangan minta berhenti." Kata Nathan yang di angguki cepat oleh Mikayla.
Nathan menggesekkan agar keduanya terbiasa, Mika di buat pening bukan main akibat permainan Nathan sejak tadi.
Saat akan memulai permainan ponsel Mikayla berdering, mereka mengacuhkannya karena ingin fokus dalam membuat junior.
Tetapi ponsel Nathan dan Mikayla berdering secara bergantian membuat, Mika mau tidak mau menghentikannya.
"Kak, angkat dulu siapa tau penting." Ucap Mika lirih.
"Tapi sayang...." Rengek Nathan yang sudah berdenyut-denyut.
"Kak sebentar saja." Kata Mikayla memohon.
__ADS_1
Akhirnya Nathan menggulingkan tubuhnya dengan lemas, dia merajuk kepada Mika.
Sedangkan Mika segera beranjak dari atas kasur dengan mengenakan selimut tebal, dia segera berjalan menuju ruang tamu di mana tasnya berada.
Tampak nama Luis berada di layar ponselnya, dengan susah payah Mikayla menelan ludahnya kasar.
Sedangkan Nathan yang sudah kesal segera mengenakan celananya lagi dengan wajah di tekuk, dia mengikuti langkah Mika ke ruang tengah.
"Siapa?" Tanya Nathan ketus.
"Kak Luis." Jawab Mikayla pelan.
"Luis." Beo Nathan yang di angguki Mikayla.
Nathan segera mengambil ponsel Mika yang masih terus masuk panggilan dari Luis, segera Nathan geser tombol hijau ke atas.
"Hal-"
"Apa kau gila! Kenapa mengganggu di tengah malam seperti ini, kau bisa menghubungi Mika jika di Indonesia sudah siang hari." Nathan langsung mencecar Luis karena kegiatannya sudah terganggu.
"Di mana Mika?" Tanya Luis di sebrang telfon dengan dingin.
"Istriku? Tentu saja bersamaku, cepat apa yang ingin kamu katakan!" Jawab Nathan yang masih ketus.
"Berikan ponselnya pada Mika!" Ucap Luis dingin di ujung telfon.
Nathan tersenyum miring, "Tidak akan pernah, bermimpi lah. Jangan menghubungi Mikayla lagi tunggu besok saja, kamu menganggu kegiatan kami yang akan membuatkanmu ponakan Luis Anderson oh bukan Paman Luis Anderson." Kata Nathan yang di akhiri dengan sebuah ejekan.
"Kau mau mati." Ucap Luis yang kesal dengan Nathan
"Yaya, aku akan mati setelah membuatkanmu ponakan Luis. Selamat malam dan berhentilah mengurusi istriku, lebih baik kau urusi urusanmu sendiri." Jawab Nathan yang langsung mematikan sambungan telfon Luis.
Mika hanya mampu tercengang dengan ucapan Nathan kepada sang kakak, tidak biasanya Nathan berani kepada Luis karena kedua pria itu sama-sama dingin saat di pertemukan.
Nathan segera melemparkan ponsel Mika ke sofa, "Sampai di mana kita tadi, sayang? Ayo kita lanjutkan!" Ucap Nathan dengan senyum mesumnya.
"A-apa?" Tanya Mika terbata.
Nathan langsung menggendong Mikayla secara bridal style, "Aku akan mengingatkanmu." Jawab Nathan berbisik.
Semburat merah muncul di kedua pipi Mikayla saat ini, dia sangat malu ingin sekali menyembunyikan dirinya di kolong lemari pakaian.
Namun, baru dua langkah ponsel Nathan kembali berdering membuat kesabaran Nathan yang setipis tisu di belah dua benar-benar di uji.
__ADS_1