Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KEHIDUPAN LAURA (1)


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Lima tahun yang lalu, setelah semua terbongkar dan Nathan pergi meninggalkan Laura begitu saja di UKS sekolah menuju rumah sakit di mana istrinya tengah dirawat.


"Nathan!" Teriak Laura dengan histeris.


Bi Jum dan Susi yang ada di sana menahan Laura agar tidak mengejar Nathan, "Jangan Laura, biarkan Nathan bahagia bersama Mika." Ucap Susi.


"Ini pasti gara-gara kamu! Kamu yang sudah merencanakan semua inikan!" Terima Laura kepada Susi dengan air mata yang berlinang.


"Sudah, Nak. Ayo kita pulang dan minta maaf kepada mereka." Bujuk Bi Jum ibu Laura dengan lembut.


"Jangan sentuh aku! Ini juga gara-gara ibu, jika ibu tidak miskin aku tidak mungkin harus mencari pria kaya! Hiks, bagaimana setelah ini buk! Laura tidak ingin hidup susah seperti ibu dan bapak!" Teriak Laura mendorong ibunya hingga terjatuh di lantai.


"LAURA!" Teriak Susi dan beberapa kawan-kawan yang berada di luar UKS.


"Apa! Ini semua pasti ulahmu, aku sudah membayarmu tetapi kamu menikamku dari belakang Susi." Sentak Laura dengan menatap tajam Susi.


"Benar, aku yang merencanakan semua ini. Kamu mau apa? Tindakanmu sudah keterlaluan Laura, kamu membahayakan nyawa Mikayla." Ucap Susi tidak kalah tajam seperti tatapan Laura.


Bibir Laura tersungging miring mendengar ucapan Susi, "Asal kamu tahu, Nathan sejak awal milikku. Aku hanya mempertahankannya dan aku tidak peduli bahkan sampai menghilangkan nyawa Mikayla." Jawab Laura dengan ponggahnya.


Semuah tamparan keras mendarat di wajah cantik Laura, bahkan tamparan itu membuat ujung bibirnya sobek. Pipi kirinya terasa panas hingga telinganya berdengung.


Sang ibu yang mendengar ucapan Laura sudah tidak bisa menahan kesabarannya, selama ini dia sudah berupaya mewujudkan apapun keinginan putri sematawayangnya tetapi hasilnya di luar batas.


"Jaga ucapannya Laura! Ibu dan Bapak tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pembunuh hanya untuk memenuhi keinginanmu!" Tegasnya.


Susi dan beberapa temannya tercengang karena melihat tidandakan Ibu Laura, karena sejak awal beliau begitu lembut dalam bertutur kata dan membujuk Laura.


Tetapi mereka tidak menyalahkan tindakan tersebut karena memang Laura sudah benar-benar keterlaluan.


"Ibu baru saja menamparku?" Tanya Laura yang tidak percaya.


"Benar! Ibu menamparmu, ibu menamparmu agar kamu menjaga ucapannya, ibu menamparmu agar kamu sadar jika kamu salah." Jawab sang Ibu dengan tegas.


Laura masih menatap tidak percaya kearah ibunya, dia melakukan semua ini juga agar keluar dari belenggu kemiskinan yang sudah dia rasakan sejak kecil. Tetapi, apa yang dia perjuangkan tidak di hargai oleh sang Ibu.

__ADS_1


"Ayo pulang!" Ajak Ibu Laura.


Dengan tegas dan mengumpulkan kekuatan terakhirnya, Ibu Laura menyeret Laura agar berjalan meninggalkan UKS.


Mereka melewati lorong sekolahan, banyak para siswa menatap penuh kebencian kearah Laura bahkan mereka tidak segan menghina Laura.


Hati ibu mana yang tidak sakit mendengar anaknya di hina di depannya langsung, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak karena memang ini salah Laura meskipun tidak sepenuhnya salah Laura karena Nathan juga ikut andil di dalamnya.


"Dasar pelakor!"


"Orang miskin banyak bertingkah!"


"Lebih baik kamu yang mati daripada Mika!"


"Butol, mbak!"


Segelintir ucapan yang keluar dari siswa dan siswi di SMA tersebut, hingga akhirnya Laura dan sang Ibu sudah dekat menuju pintu keluar sekolahan.


Sebuah mobil berwarna coklat yang bertuliskan kepolisian berhenti tepat di depan mereka, Laura yang kaget dan takut langsung bersembunyi di belakang tubuh sang Ibu.


"Permisi, kami mendapatkan laporan atas tindakan tidak menyenangkan hingga membahayakan nyawa orang lain. Kami harus membawa saudari Laura untuk menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian." Ucap petugas polisi yang berdiri menjulang tinggi di depan Bi Jum.


Rekan satunya membuka sebuah surat penangkapan untuk Laura, Laura yang melihat menggelengkan kepalanya cepat. Dia kembali menangis karena takut jika sampai Masuk ke dalam penjara.


"Ini adalah surat penangkapan dari atasan kami, jadi mohon kerjasamanya agar tidak menghambat proses penyelidikan." Ucap polisi dengan tegas dan tenang.


Bi Jum memejamkan kedua matanya sejenak, dia mulai menggeserkan tubuhnya yang membuat Laura semakin ketakutan.


"Silahkan bawa dan proses sesuai hukum yang berlaku." Kata Bi Jum dengan tegar meskipun kedua kakinya sudah tidak sanggup menopang.


"Terima kasih, Anda bisa membawa pengacara atau menemui keluarga pelapor agar meringankan atau mencabut tuntutan." Jelas polisi kepada Bi Jum.


"Baik, terima kasih." Ucapnya.


"Tidak! Aku tidak mau ,aku tidak bersalah! Ibu tolong Laura." Kata Laura merengek kepada sang Ibu.


Bi Jum hanya mampu terdiam menatap polisi yang mulai memborgol kedua tangan Laura agar tidak kabur, Laura terus memberontak saat di suruh masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Tidak! Lepaskan aku! Ibu ...." Ucap Laura lagi.


Dengan susah payah kedua polisi membawa masuk Laura kedalam mobil, hingga mobil polisi di tutup dengan rapat.


Seorang polisi memberi hormat kepada kepada Ibu Laura sebelum meninggalkan area sekolah, Bi Jum menatap nanar kearah mobil dimana Laura mengetuk-ngetuk jendela mobil polisi dengan menangis.


Perlahan mobil polisi berjalan meninggalkan area sekolah, hingga kini menyisakan keheningan. Bi Jum langsung roboh saat mobil polisi sudah tidak terlihat.


"Bibi / Tante." Seru beberapa siswa yang berani mendekat untuk menolong Bi Jum.


"Bibi tidak apa-apa?" Tanya Susi yang baru saja bergabung.


Bi Jum menoleh kearah Susi dan tangisannya pecah. "Bagaimana Laura putriku?" Ucapnya.


Susi dan teman-temannya juga bingung karena mereka bukan pelapor terlebih berurusan dengan polisi sangat di hindari eh mereka.


Mereka memiliki tanggung jawab untuk meneruskan usaha keluarga dan cita-cita mereka yang tidak boleh bersinggungan dengan kepolisian.


"Kita coba menemui keluarga Nathan atau Mikayla dulu, Bi." Jawab Susi pelan.


Bi Jum langsung mengangguk dengan cepat, "Benar, aku harus datang kerumah Tuan Besar." Ucapnya.


Bi Jum dengan cepat mulai kembali tegar, meskipun Laura tetap di hukum setidaknya dia berusaha agar hukuman Laura diringankan.


"Ayo, Susi antar." Tawar Susi.


"Tidak perlu, Nak. Terima kasih sudah memberitahu Bibi." Tolak Bi Jum halus.


"Tapi, apa Bibi tau rumah Nathan? Susi akan antarakan sampai depan rumahnya saja, Bi setelah itu Susi akan langsung pulang." Tanya Susi kembali.


Bi Jum menggelengkan kepalanya pelan, selama ini dia hanya tahu vila tempatnya bekerja. Karena dia mendapatkan pekerjaan juga atas pemberitahuan dari tetangganya waktu itu.


"Ayo Susi antar, Bi." Ucap Susi lagi.


Akhirnya Bi Jum mengikuti Susi yang menuju parkiran motor. Tampak motor bebek berwarna hitam yang sudah mulai pudar warnanya di berbagai tempat.


Susi memberikan helm tanpa kaca kepada Bi Jum yang selalu dia gantung di depan motornya, Bi Jum tidak menolak karena dia lebih memikirkan untuk segera bertemu dengan Kenan dan Alice.

__ADS_1


Susi menyelah sepeda motornya agar dapat menyala, terdengar suara yang begitu nyaring dan juga asap mengepul keluar. Bi Jum segera naik di bangku belakang dan Susi menjalankan sepeda motornya keluar dari area sekolah menuju mansion Nathan.


__ADS_2