
Happy Reading 🌹🌹
Sepeda motor yang Susi kendarai telah sampai di sebuah bangunan yang megah dan mewah.
Susi kembali mengecek alamat yang dia dapatkan dari teman-teman kelasnya.
"Bagaimana, Nak?" Tanya Bi Jum dengan raut wajah khawatir.
"Oh, sudah benar, Bi. Ini alamat keluarga Wijayakusuma." Jawab Susi.
Bi Jum akhirnya turun dan menyerahkan helm kepada Susi setelah dilepas.
"Terima kasih ya, Nak." Ucap Bi Jum.
Susi mengangguk, "Saya minta maaf ya, Bi." Jawab Susi dengan tulus.
Bi Jum hanya tersenyum dan menepuk pundak Susi pelan, Susi tidak meninggalkan Bi Jum seorang diri.
Dia menunggu Bi Jum sampai bertemu keluarga Wijayakusuma.
Bi Jum berjalan mendekati kantor pos keamanan, terlihat dua penjaga yang tengah beristirahat.
"Permisi, Pak." Sapa Bi Jum pelan.
Penjaga yang tengah makan siang segera berdiri, "Ada yang bisa kami bantu?" Tanya penjaga.
"Apa benar ini kediaman keluarga Wijayakusuma?" Tanya Bi Jum pelan.
"Benar." Jawab penjaga.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Kenan dan Nyonya Alice, apakah bisa? tolong sampaikan kepada mereka saya pembantu yang berada di villa pinggir kota." Ucap Bi Jum kepada penjaga.
"Tuan dan Nyonya sedang keluar baru juga lima menit yang lalu, mungkin nanti malam atau besok. Tapi akan saya sampaikan kepada mereka." Jawab penjaga pelan.
"Apa saya dapat menunggu di sini?" Tanya Bi Jum yang tidak mau pasrah begitu saja.
"Tapi kami tidak tahu kapan mereka kembali," ucap penjaga.
Susi yang melihat Ibunya Laura tidak segera masuk segera datang menghampiri. Susi meninggalkan nomor ponsel yang dia tulis di buku tamu setelah mendengar penjelasan dari penjaga mansion.
"Ayo, Bi."
Susi mengajak Bi Jum untuk meninggalkan kediaman Wijayakusuma. Meskipun Bi Jum merasa tidak rela tetapi juga tidak ada gunanya menunggu kepulangan pemilik mansion yang tidak tahu kapan pulangnya.
Tidak berselang lama dari kepergian Susi, penjaga segera menghubungi Kenan dan melaporkan jika pegawai dari villa datang untuk bertemu.
__ADS_1
Kenan dan yang lainnya tengah berada di rumah sakit tidak ambil pusing siapa pegawai tersebut. Bahkan dia tidak berfikir jika itu adalah Ibu dari Laura.
Hari berganti malam, kini di ruang yang cukup luas tengah berkumpul kedua orang tua Nathan dan Bi Jum.
Ketiganya tampak hening, semua menunggu salah satu memulai pembicaraan.
"Tuan...Nyonya...." Panggil Bi Jum lirih.
"Iya, bagaimana Bi? Sebenarnya ada perlu apa datang kemari?" Tanya Alice lembut
Bi Jum menundukkan kepalanya sama sembari memainkan jemarinya yang saling bertautan.
"Saya selalu orang tua Laura, meminta maaf atas perbuatan putri saya. Saya mohon cabut tuntutan Tuan dan Nyonya kepada Laura, hanya dia harapan kami satu-satunya." Bi Jum mengutarakan makhsud dan tujuannya.
Kenan dan Alice saling melihat satu sama lain, "Bi, tapi kami tidak melaporkan apapun ke kantor polisi terkait Laura." Ucap Kenan yang di angguki Alice.
Bi Jum yang mendengarnya kaget, "Lalu siapa Tuan, bisakah saya bertemu dengannya. Saya mohon Tuan, suami saya sedang sakit jika sampai dia tahu Laura masuk bui. Saya takut keadaan suami saya semakin drop." Kata Bi Jum yang sudah menangis.
Alice lantas langsung beranjak dari duduknya dan mendekati Bi Jum, dia memeluk tubuh wanita yang usianya jauh lebih tua darinya dengan hangat.
"Sebentar ya, Bi. Akan kami cari tahu." Kata Alice lembut.
Kenan segera menghubungi Jackson untuk menanyakan tentang pelaporan tersebut, dia tahu ini adalah hari berkabung bagi dua keluarga besar tetapi dia juga tida bisa lepas tangan begitu saja mengingat Bi Jum bekerja dengannya.
Beberapa kali panggilan tidak diangkat olehnya, Alice dan Kenan yang akan datang kerumah duka.
"Ma, bagaimana jika Bibi kita ajak saja kekediaman Anderson? Jackson tidak menjawab panggilan Ayah, kita juga harus datang bagaimanapun Mikayla lebih penting." Ucap Kenan berbisik.
Alice tampak berfikir, "Mama takut jika Bibi nanti di amuk oleh Bintang atau Jackson." Jawabnya lirih.
Kenan dan Alice sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing, "Tapi kita harus menyelesaikannya." Kata Kenan.
"Baiklah." Jawab Alice yang menuruti kemauan sang suami.
Bi Jum yang melihat Kenan dan Alice kembali lantas berdiri, dia menatap penuh harap agar Laura tidak masuk penjara.
"Bagaimana, Nyonya?" Tanyanya.
"Bibi ikut kami ya, mungkin di sana akan mendapatkan jawabannya." Jawab Alice yang membuat Bi Jum bingung.
Akhirnya Bi Jum hanya mengikuti keinginan kedua majikannya, dia berharap masalah cepat selesai tanpa adanya proses hukum.
Segera Kenan dan yang lainnya meluncur kekediaman Anderson, Bi Jum harap-harap cemas duduk di bangku belakang.
Bagaimana jika yang melaporkan Laura adalah orang tua dari Mika? Itu akan menjadi semakin sulit dan rumit.
__ADS_1
Selama perjalanan hanya ada keheningan, Alice dan Kenan juga bingung bagaimana jika salah satu anggota keluarga dari Anderson atau Gandratama yang melaporkan Laura.
Hingga, tanpa terasa mobil yang dikendarai Kenan berbelok kesebuah mansion mewah yang masih terlihat ramai oleh para pelayat.
Bu Jum membuang pandangannya keluar jendela, banyak karangan bunga bela sungkawa yang berjejer rapi di sepanjang jalan sebelum memasuki area mansion.
Bi Jum kaget, "Nyo-nyonya, a-apa ada orang meninggal?" Tanyanya dengan bibir dan tangan gemetar.
"Iya, Bi. Mikayla telah berpulang." Jawab Alice pelan.
Deg!
Jantung Bi Jum bagaikan di hantam batu, masalah Laura belum selesai dan kini menerima kenyataan dari perbuatan anaknya menghilangkan seorang nyawa gadis muda.
Tidak dapat membendung ketakutannya, Bi Jum menangis di bangku belakang. "Ba-bagaimana ini Nyonya, bagaimana jika Laura dipenjara?" Tanya Bi Jum dengan terisak.
"Kita bicarakan di dalam ya, Bi." Ucap Alice lembut.
Kenan dan yang lainnya segera keluar dari dalam mobil, Alice mendampingi Bi Jum yang merasa takut untuk menginjakkan kakinya di mansion Anderson.
Maid yang melihat kedatangan besan dari majikannya segera menyuruh mereka untuk masuk ke dalam ruang keluarga. Di mana ada Jackson dan keluarga besar lainnya yang berkumpul.
Kenan segera memeluk Jackson dan Alice memeluk Bintang, semuanya tampak amat sangat terpukul dengan kejadian hari ini yang begitu cepat.
Kenan membisikkan sesuatu ketelinga Jackson, hingga tatapan tajam Jackson bagaikan anak panah yang menghunus jantung Bi Jum.
Semua orang keluar dari ruang keluarga memberikan ruang untuk keluarga Jackson dan Kenan.
Alice mengutarakan kedatangan Bi Jum kekediaman Anderson, semua tampak mendengar dengan seksama.
"Bukankah pantas bagi seorang perundung masuk kedalam bui?" Tanya Bintang dengan dingin.
"Ma-maafkan anak saya, Nyonya." Ucap Bi Jum yang sudah kembali menangis
"Apa dengan permintaan maafmu dapat menghidupkan kembali putriku!" Teriak Bintang histeris.
Bi Jum langsung luruh di atas lantai dua memohon mengampunan kepada Bintang dan keluarga besar lainnya.
"Tolong, Nyonya. Cabut tuntutan untuk Laura karena hanya dia harapan kami satu-satunya." Ucap Bi Jum mengiba.
"Harapan? Aku kehilangan harapanku, buah hatiku! Kamu masih dapat melihat dia meski di dalam penjara sedangkan kami? Jangankan untuk melihat mendengar suaranya saja sudah tidak akan pernah bisa!" Sentak Bintang yang berderai air mata.
Keluarga Kenan dan Jackson belum mengetahui jika jasad Mikayla telah di tukar oleh Luis dan dokter yang sudah di bayarnya. Sehingga kedua orangtuanya berfikir jika Mikayla benar-benar meninggal.
Luis yang mendengar teriakan Mommy Bintang segera masuk kedalam ruang keluarga, dia baru saja kembali mengurusi Mikayla yang sudah siap di terbangkan keluar negeri.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tanya Luis dengan suara dingin.
Bintang hanya dapat menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa dengan menangis, dia tidak mampu berkata-kata lebih banyak lagi. Rasanya terlalu sakit mengingat Mikayla putri yang sudah dia jaga dan rawat sejak dalam kandungan.