Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
DIPERSIMPANGAN JALAN


__ADS_3

Happy Reading


Nathan menemani Mikayla hingga benar-benar terlelap, kedua mata Nathan menelisik ruangan Mikayla. Dia heran karena jika hanya kelelahan tidak mungkin istrinya berada di ruang rawat yang berbeda dari pasien pada umunya dan satu lagi berbagai alat yang menempel di tubuh Mikayla.


Segera Nathan mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku celananya, tanpa melepaskan genggaman tangannya kepada Mika. Nathan mencoba mengetikkan sesuatu di mesin pencarian internet, meskipun susah tetapi tidak masalah untuknya.


Dia mengetikkan alat-alat kesehatan, karena tidak tahu nama alatnya sehingga dia mencari pelan-pelan pada bagian gambar di mesin pencarian online. Hingga gerakannya terhenti pada salah satu gambar yang sama persis yang dikenakan pada tubuh Mikayla.


Segera dia menekan gambar hingga muncullah artikel tentang alat tersebut, dengan perlahan dia membaca. Kedua matanya bergetar hingga tangannya gemetar dengan hebat. Ponsel yang berada di tangannya jatuh begitu saja di atas lantai.


Pegangan tangannya pada Mikayla seakan kaku, air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Merasakan pergerakan tangan Mikayla membuat Nathan langsung menoleh kearahnya, tampak wajah istrinya yang tengah gelisah dengan lembut Nathan mengusap dahi istrinya.


"Tidurlah dengan tenang, Mika. Aku di sini." Bisik Nathan dengan pelan.


Perlahan genggaman tangan Mika sedikit mengendur dan wajahnya mulai tenang, Nathan mengusap wajah istrinya dengan penuh perasaan. Setelah memastikan jika Mikayla kembali terlelap, Nathan melepaskan genggaman tangannya dengan perlan agar tidak membangunkan istrinya.


Nathan memungut ponselnya dan beranjak keluar dari ruangan Mikayla, dengan wajah datar nan dingin Nathan berjalan menuju ruangan Dokter Joy setelah berpapasan dengan perawat untuk menanyakan ruang kerjanya.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu, Nathan langsung membuka pintu ruangan Dokter Joy bergitu saja. Membuat asisten, pasien, dan Dokter Joy kaget karena kehadiran Nathan tersebut.


"Maaf, selain pasien dilarang masuk!" Usir perawat yang menghalau Nathan agar tidak masuk lebih dalam ke dalam ruangan sang dokter.


Dokter Joy yang melihat kilatan amarah pada Nathan memberikan intruksi agar asistennya tidak mengusir Nathan, "Biarkan dia menunggu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu." Ucap Dokter Joy lembut.


Perawat mempersilahkan Nathan untuk duduk di kursi depan meja sang dokter, dengan kesabaran setipis tisu Nathan duduk dengan tenang tanpa menoleh kearah manapun. Hingga lima belas menit kemudian Dokter Joy baru selesai menangani pasiennya.


"Tolong, untuk antrian berikutnya tunggu satu jam lagi ya." Ucap Dokter Joy kepada asistennya.


Dokter Joy berjalan melewati Nathan menuju wastafel yang berada di dekat meja kerjanya, sudah kewajiban bagi tenaga kesehatan untuk selalu menjaga kebersihan. Dokter Joy berjalan dengan mengelap tangannya menggunakan kain yang sudah di sediakan.


Dia mulai duduk di depan Nathan sehingga kini keduanya saling berhadapan, "Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Dokter Joy lembut.


Nathan menatap kedua mata Dokter Joy dengan pandangan marah, kecewa, dan sedih secara bersamaan. "Anda berbohong kepada saya." Jawab Nathan yang mulai menitikan air mata tanpa aba-aba.


Dokter Joy mulai paham arah pembicaraannya, dia menarik satu kotak tisu dan di dekatkan kearah Nathan. Sudah bukan pemandangan yang asing bagi dia melihat setiap pasien maupun keluarga pasien menangis seperti Nathan.

__ADS_1


"Sepertinya, kebohonganku sudah ketahuan." Ucap sang dokter dengan tersenyum lembut.


"Katakan yang sebenarnya, istriku sakit apa? Kenapa dia harus menggunakan alat jantung, apa istriku memiliki penyakit berkaitan dengan jantungnya atau bagaimana?" Cecar Nathan dengan menggebu seakan ingin segera mengetahui semuanya.


"Tenanglah, akan aku jelaskan kondisi Mikayla sebenarnya." Dokter Joy mencoba menenangkan Nathan yang hampir histeris karena melihat kedua tangan pria itu mengepal di atas mejanya.


Dokter Joy segera menjelaskan apa penyakit Mikayla, dari gejala, pantangan, dan juga penyakit yang bisa saja merenggut nyawanya sewaktu-saktu. Dengan seksama Nathan mendengarkan penjelasan dari sang dokter yang membuat hatinya mencelos.


Nathan berjalan keluar ruangan Dokter Joy dengan pandangan kosong, dia berjalan gontai tidak tentu arah. Hingga langkahnya terhenti di depan ruangan Mikayla. Nathan menangis tanpa suara, kenapa Tuhan sekejam ini kepada dirinya.


Bagaimana bisa Tuhan menghadirkan dua wanita dalam hidupnya dengan penyakit yang sama, bagaimana Nathan harus menghadapi kedepannya. Apakah dia harus meninggalkan Laura agar dapat hidup bahagia bersama Mikayla yang nyatanya juga tengah berjuang dengan penyakit yang menggerogotinya, atau membiarkan kedua wanita tersebut berada di sampingnya?


Nathan masuk ke dalam ruangan Mikayla, dia berjalan dan duduk di samping Mika. Terlihat wajah pucat yang mulai berangsur pudar, bunyi mesin detak jantung yang membuat setiap detakan jantung Nathan sakit bagaikan di sayat sembilu.


Dia hanya mampu duduk termenung dengan memikirkan semuanya, "Bagaimana aku memilih di antara keduanya?" Ucap Nathan pelan yang mulai merebahkan kepalanya di pinggir brangkar Mikayla.


Nathan memandang wajah Mika dengan jemari yang mengelus surai hitam istrinya. Pilihan yang sangat sulit, karena sejatinya Nathan tidak tahu kebohongan Laura, dia juga tidak ingin menjadi pria kejam yang menyampakkan wanita terdekatnya begitu saja saat mengetahui kondisi kesehatan yang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2