
Happy Readinng
Nathan dan Laura baru saja selesai memesan makanannya, mereka berbincang ringan meskipun Nathan lebih banyak diam seperi biasanya.
Hingga kedua mata Nathan mengunci dua pelanggan yang baru mengobrol dengan pelayan cafe, pandangan yang mula datar dan dingin kini menjadi tajam dan penuh denga ketidak sukaan. Melihat Dean dengan lancang menggenggam erat tangan Mikayla tanpa Mikayla menghindarinya.
Hatinya semakin tidak suka saat melihat gaya berbicara Dean kepada Mikayla yang berbisik sehinngga sangat dekat dengan wajah gadis itu, bahkan Nathan bisa bertaruh seluruh kekayaannya. Jika Mikayla sampai meboleh maka bibir cherry itu akan bertemu dengan bibir Dean.
Membayangkannya saja sudah membuat suhu tubuh Nathan naik berkali-kali lipat, angin AC di dalam ruangan tidak mempan mendinginkan tubuh pria muda yang tengah terbakar api cemburu tanpa dia sadari.
Saat keduanya mendekat ke mejanya, Nathan mengepalkan kedua tangannnya. Ingin sekali dia melepaskan gennggaman tangan itu dan membawa pergi Mikayla dari cafe tersebut. Mengurungnya di dalam apartemen hanya untuk dirinya sendiri.
"Kenapa harus di meja lain, makan saja bersama kami. Di depanku juga masih ada dua bangku kosong." Ucapnya menghalangi agar Dean dan Mikayla tidak berduaan.
Beruntung Dean dengan cepat menyetujui tawarannya, membuat Nathan mengangkat tipis sudut bibirnya. Pandangannya tidak terputus bahkan saat Mikayla duduk tepat di hadapannya.
"Oh, iya. Kalian sudah pesan belum?" Tanya Laura dengan canggunng.
Dean memanggil seorang pelayan dan mendekat, "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya pesan salad, ikan panggang tetapi garamya sedikit saja hampir ke rasa hambar, spagetti, satu lemon squash, dan air mineral dingin." Ucap Dean dengan detail dan teliti.
Pelayan tampak menuliskan dalam buku catatannya, "Apa ada tambahan lagi?" Tanyanya.
"Tidak, itu saja." Jawab Dean sopan.
__ADS_1
Pelayan yang ingin pergi mendadak mengurungkan niatannya, karena mendengar salah satu pelanggan di meja tersebut bersuara dengan dingin dan penuh intimidasi.
"Hey, kau tidak pesan?" Tanya Nathan dengan mendorong salah satu kaki kursi milik Mikayla.
Mikayla merengut dan membenarkan tempat duduknya, "Aku punya nama!" Serunya kesal.
"Cepat pesan." Perintah Nathan dengan datar seraya menggerakan kepalanya kearah pelayan cafe.
"Sudah pesann, memangnya kamu tuli. Kak Dean sudah memesannkannya unntukku." Jawab Mikayla mencebik kesal.
Natahan tersenyum sinis, "Memangnya kamu bisu tidak bisa memesan sendiri, cih gadis manja. Ya .. ya tentu saja secara kau anak orang kaya yang selalu di layani oleh pelayan mansionmu. Bahkan kakakmu sudah seperti kacung jika aku amati sejak dulu," Cecar Nathan tanpa filter.
Mikayla merasa harga diri dan keluarganya di injak-injak oleh Nathan, dia mengepalkan tangannya di bawah meja, sedangkan gigiya mengigit-gigit bibir bawahnya dengan gemas. Ingin sekali dia meledakkan amarahnya dan mencaci Nathan ttapi dia ingat jika saat ini sedang berada di tempat umum.
"Tentu saja, karena aku anak gadis kesayangan keluargaku. Keluargaku sangat kaya raya bahkan mampu membeli restoran ini, memang ada masalah apa denganmu?" Jawab Mikayla degan angkuh sembari mengibaskan rambut pajangnya dan bersedekap dada.
Mikayla menoleh kearah Laura, dia memandang dari atas ke bawah dan bawah ke atas. "Lihat penampilan kekasihmu yang katanya anak orang kaya, setidaknya dia memakai tas seperti milikku yang paling murah harga dua juta lima ratus. Tapi, dia memakai tas di bawah harga satu juta dan aku tidak tahu itu merk apa." Jawab Mikayla mengejek telak di depan keduanya.
Dean hanya diam tetapi menahan tawanya karena melihat wajah pias dan marah Laura, "Tentu saja aku berbeda denganmu Mika, aku gadis mandiri, dan aku tidak memikirkan barang branded. Asalkan kedua orang tuaku selalu ada bersamaku itu sudah hal paling termahal untukku." Laura berkata dengan nada sedih.
"Memang kamu dari keluarga mana Kak Laura, alamatmu di mana? Mungkin Daddy dan Mommyku kenal dengan kedua orang tuamu akan aku sampaikan keluh kesahmu, dan orang tuamu bekerja di perusahaan atau pemilik perusahaan?" Mikayla meberondong banyak pertanyaan yang semakin membuat Laura gemetar tanpa di sadari.
Nathan yang melihat kebinngungan Laura, tetapi dalam pandangan Nathan adalah hal yang tidak nyaman untuk kekasihnya. "Mika! yang sopan kamu, kamu tidak berhak menanyakan hal sensitif seperti itu. Orang tua laura sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk di Indonesia." Sentak Nathan dengan menenangkan Laura.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Nathan perhatia kepada Laura.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, aku hanya sedih karena rindu dengan orang tuaku." Jawab Laura dengan wajah sedih.
"Maafkan Mika karena sudah keterlaluan." Ucap Nathan lembut.
Mikayla tentu saja marahnya meledak, "Untuk apa kamu memita maaf atas namaku, itu juga karena mulut sam*pahmu yang lebih dulu menginjak harga diriku. Lalu sekarang kamu dan kekasihmu berlagak korban padahal pelaku, sangat menjijikkan! Jika ingin playing victim jangan di depanku, aku semakin jijik melihat kalian sangat pasangan serasi." Ucao Mikayla dengan menggebu.
"A-Apa kamu bilang, menjijikkan? Playing victim?" Kata Laura terbata karena sudah beberapa kali mendengar ucapan Mikayla yang membuat dirinya tercengang.
"Apa telingamu tuli." Jawab Mikayla dingin.
"Kau! Hey, lihat dirimu. Kamu itu perusak hubungan orang, kamu itu orang ketiga di antara kami berdua! Ah, aku tahu kamu menggunakan kekuasaan keluargamu untuk menikah dengann Nathan. Ck ... ck ... pantas saja Nathan mengatakan kamu gadis manja ternyata cara bermainmu sangat kotor." Kata Laura tak kalah pedas dan memandang remeh ke arah Mikayla.
"Hah? Aku? Lucu, ingat kamu yang menolak lamaran pria itu dan sekarang menjadi suamiku. Lebih hina mana kamu atau aku, meskipun aku merebut Kak Nathan menggunakan kekuasaan keluargaku memangnya kamu mau apa, hah! Yang jelas sekarang aku sudah menjadi istri sah pria yang duduk di sampingmu, sedangkan
kau tidak lebih dari ja*lang kecil." Jawab Mikayla dengan seru dan lantang.
Para pengunjung melihat kearah meja empat annak remaja yang ternyata salah satunya adalah sepasang suami istri, tentu saja hal itu menjadi perbincangan. Ada yang membela Mikayla dan Laura, tetapi Mikayla type gadis keras kepala dan tidak peduli dengan ucapan orang lain karena dia hanya meyakini pikiran dan isi hatinya sendiri.
"Mika!" Seru Nathan berkilat marah.
"Apa! Kau mau membelanya?" Tuding Mikayla kepada Laura lantas Mika berdiri dan kembali berkata, "Dengarkan aku semua, saat ini pria di depanku adalah suamiku. Dia dengan terang-terangan makan bersama kekasihnya, membelanya, bahkan ... berduaan di dalam apartemen. Apa aku sebagai istrinya tidak pantas mempertahankan suamiku sendiri? Apa aku sebagai istrinya harus mengerti hubungan mereka berdua?" Ucap Mikayla dengan bibir bergetar dan kedua tangan mengepal.
Laura dan Nathan tampak kelabakan karena tidak menyangka jika Mikayla akan membeberkan hal tersebut di depann umum, "Mika, a-aku tidak melakukan apa-apa di dalam apartemen. A-aku hanya ...."
"Hanya apa? Hanya salah paham makhsudmu? Atau hanya untuk memperlihatkan bagaimana kuatnya cinta kaliah bahkan sampai pria itu menjanjikanmu bercerai denganku satu tahun ke depan! Hah, jjangan mimpi aku akann melepaskan pria itu meskipun aku mati, dia tidak akan pernah bisa lepas dariku. Camkan itu!" Mikayla memotong ucapan Laura yang membuat semua orang tertegun dan terdiam.
__ADS_1
Mikayla segera pergi dari meja itu dengan di susul oleh Dean sadar jika Mika sudah tidak ada di tempat, dia mengejarnya keluar cafe menyisakan Nathan dan Laura yang masih duduk dengan diam.