
Happy Reading 🌹🌹
Dean berlari sekencang mungkin agar sampai di lapangan, dia menerobos kerumunan siswa yang tengah bersorak-sorai kepada Mikayla dan Laura.
Dean terpaku di tempatnya bersamaan dengan kedatangan Kinan, terlihat nafas mereka yang memburu dengan hebat.
Tampak kedua gadis yang berlari kembali ke garis start, Mikayla dan Laura sama-sama berhasil mengambil bendera kuning. Mereka berlari sekuat tenaga karena pemenang sudah di depan mata.
"Yeahh! Mikayla!" Seru beberapa siswa yang uforia karena Mikayla pemenangnya.
Mikayla bernafas dengan cepat tidak beraturan, dia menahan jatungnya yang terasa amat sangat sakit saat ini.
"Laura!" Teriak beberapa siswa yang melihat Laura ambruk.
"Cepat bawa ke UKS dan telfon ambulans!" Teriak siswa yang menginterupsi.
Para siswa dengan cepat membawa Laura menuju UKS dan ada yang memanggil ambulans untuk datang ke sekolah mereka.
"Jika sampai Laura kenapa-napa kamu akan masuk penjara Mikayla!" Ucap siswa kelas Laura sebelum pergi meninggalkan lapangan.
Dean dan Kinan berjalan mendekat kearah Mikayla, mereka sangat cemas terlihat dari raut wajahnya.
"Mika, apa kamu gila!" Teriak Kinan dengan menangis.
Mikayla hanya tersenyum, "Aku menang Kinan, dia mengajakku bertaruh. Sekarang dia tidak akan mengganggu Kak Nathan lagi." Jawab Mikayla dengan air mata yang sudah menetes.
"Bo*doh!" Umpat Kinan dengan memeluk tubuh sahabatnya.
Wajah Kinan panik karena tubuh Mikayla mulai berat dan merosot ketanah, "Mika!" Teriak Kinan.
Dean segera menggendong Mikayla ke punggungnya setelah mengambil alih, Dean berlari keluar sekolahan dengan di ikuti Kinan.
"Mikayla! Sadarlah, Mika kau dengar aku!" Teriak Dean agar Mikayla tetap merespon.
Ketiganya menjadi pusat perhatian karena mereka berlari dengan menggendong Mikayla yang tampak sudah terpejam, wajah cantik gadis itu tertutup rambut panjangnya.
Beruntung saat mereka keluar gerbang sebuah mobil berhenti tepat di depannya, Luis segera keluar dan membuka pintu mobil.
Kinan masuk terlebih dahulu untuk membantu merebahkan Mikayla, Luis langsung kembali masuk dan mobil melesat dengan cepat di kendarai Langit.
Dean segera menyusul menggunakan taxi yang tidak lama berhenti.
Kinan menangis di jok belakang dengan terus menepuk pipi sahabatnya, "Mika ... Sadarlah, Mikayla jawab aku." Ucap Kinan dengan air mata yang menetesi wajah sahabatnya.
__ADS_1
Tidak ada respon apapun dari Mika, Langit menyetir dengan ugal-ugalan agar cepat sampai di rumah sakit.
Bagaimana Luis bisa tahu? Tentu saja dari orang yang bekerja sama dengannya.
"Kamu mau ke mana Laura?" Tanya Susi heran.
"Aku sudah merencanakan sesuatu, aku akan membuat taruhan dengan Mikayla." Jawab Laura bersedekap dada.
"Taruhan? Taruhan apa?" Tanya Susi kembali.
"Kepo, sudah aku pergi dulu." Ucap Laura yang langsung melenggang pergi.
Susi memastikan jika Laura sudah menjauh, dia segera menghubungi Luis untuk melaporkan semuanya.
"Ada apa?" Ucap Luis dingin.
"Laura akan membuat taruhan dengan adikmu." Jawab Susi dengan cepat karena dia takut berbicara terlalu lama dengan Luis.
"Taruhan? Taruhan apa." Tanya Luis bingung.
"Aku tidak tahu, kak. Dia tidak mengatakan apapun." Jawab Susi dengan jujur.
"Baiklah, kamu awasi terus dan segera hubungi aku jika membahayakan nyawa adikku." Luis dengan cepat memberikan instruksi.
"Baik kak."
Dia tampak sangat ragu untuk menekannya, "Ini demi sebuah keluarga." Gumam Susi pelan.
Akhirnya Susi menghubungi sebuah nomor, terlihat Susi menjelaskan sesuatu kepada sang pemilik nomor telfon dan juga dia menjelaskan bagaimana keadaan saat ini.
Hingga panggilan itu dia akhiri, dia memegang jantungnya yang berdegup dengan kencang.
"Aku harus segera melihat apa yang di lakukan Laura." Ucap Susi.
Susi segera berjalan meninggalkan kelasnya, dia melihat sekumpulan siswa yang berada di lapangan lari. Segera dia melangkah mendekat dan kaget mendapati Mikayla dan Laura sudah berdiri di tengah track lari.
Dia melangkah menjauh dari kerumunan, dia menghubungi kembali Luis tetapi panggilan tidak di angkat, dia mencoba beberapa kali sampai Susi merasa frustasi.
Kak Luis, Laura menantang Mikayla berlari jarak dekat di track.
Begitulah kiranya isi pesan Susi, dia sangat yakin jika langkahnya tidak salah saat menghubungi Ibu Laura.
"Aku harus mencari Nathan dan membeberkan semuanya!" Ucap Susi lagi.
__ADS_1
Susi segera berlari menuju gedung kelasnya, dia akan mencari mulai dari roftoop. Secepat mungkin Susi berlari di berbagai penjuru sekolahan.
"Apa kamu melihat Nathan?"
"Kamu melihat Nathan tidak?
"Kamu tahu di mana Nathan?
Susi terus bertanya setiap menit ke para siswa yang dia temui hingga dia bertemu siswa yang baru saja turun dari lantai tiga.
"Kamu tahu Nathan di mana?"
"Nathan? Sepertinya dia sudah pulang, mungkin dia baru sampai parkiran." Jawab siswa tersebut.
Susi segera berlari dengan sisa tenaganya, benar saja Nathan baru berjalan menuju parkiran. "Nathan!" Teriak Susi.
Nathan menghentikan langkahnya dan menoleh kearah sumber suara. Semua seakan terjadi begitu cepat, Susi yang melihat Nathan berlari menuju gedung sekolah mengajaknya ke UKS.
"Ayo ikut aku ke UKS!" Susi menarik Nathan dengan cepat.
Hingga tidak membutuhkan waktu lama, kini Susi dan Nathan sudah sampai di depan ruangan UKS.
"Kamu tunggu di sini, tunggu sampai kamu tahu semua kebohongan Laura." Ucap Susi menahan langkah Nathan yang akan masuk.
Nathan terdiam dengan menatap kedua mata Susi, akhirnya Nathan mengangguk dan membiarkan Susi meninggalkannya.
"Bagaimana keadaan Laura?" Tanya Susi yang sudah berkumpul di dalam UKS
"Untung semuanya baik-baik saja, dia hanya kelelahan. Aku sudah takut jika sampai Laura kambuh karena ulah Mikayla." Jawab seorang siswa.
"Oh begitu, terima kasih. Kalian pergilah aku akan menjaga Laura." Ucap Susi yang kemudian ruangan itu sepi.
Susi yang tahu jika Laura pura-pura tidur hanya menghela nafas pelan, "Bangunlah semua sudah pergi." Ucap Susi dengan menjatuhkan bobot tubuhnya di sebuah kursi plastik.
Kedua mata Laura terbuka dengan cepat, dia menoleh kearah Susi dengan wajah tersenyum cerah.
"Bagaimana aktingku? Hahah aku yakin saat ini Mikayla tengah kesakitan dan mati." Ucap Laura dengan senyum liciknya
Susi yang akan menjawab dinurungkan karena ada suara Ibu paruh baya yang cukup dia kenali.
"Laura, astaga. Kamu kenapa Nak?" Tanya
"Ibuk...." Ucap Laura lirih.
__ADS_1
"Ya ampun Laura, kamu membuat Ibuk khawatir. Ibu dengar kamu membuat masalah di sekolah, Laura setelah ini kita balik ke kampung. Ibu tidak ingin kamu menjadi orang jahat." Kata Bi Jum dengan wajah sedih.
Benar, orang tua Laura adalah Bi Jum. Pembantu yang bekerja di vila milik Nathan. Di mana vila itu pernah dikunjungi oleh Nathan dan Mikayla.