
Happy Reading 🌹🌹
Nathan mengunci pintu dan kembali melangkah menuju kasur, dia merangkak naik sedikit membuka selimut agar dapat memeluk istrinya.
"Emm, kak berat." Ucap Mika dengan suara serak dan mata terpejam.
"Aku kangen." Jawab Nathan manja dengan merapatkan tubuhnya.
Mikayla hanya mampu menggerakkan tangannya menepuk-nepuk lengan Nathan, seakan Mika sudah tidak sanggup menghadapi kebucinan Nathan.
Keduanya terlelap kembali tanpa memikirkan para orang tua yang sejak pagi menunggu keduanya bangun.
Hingga kedua mata Mika perlahan terbuka karena perutnya merasa sangat lapar.
"Astaga, jam berapa ini. Kenapa aku sangat lapar sekali. Dan aroma ini, harum apa Kak Nathan sedang memasak?" Gumam Mika setengah sadar.
Gerakan Mika yang akan bangun terhenti saat tubuhnya di tarik kembali kearah belakang, seketika kedua mata Mika terbuka dengan lebar.
Lengan yang kokoh membelit perutnya dengan erat, dia menoleh kearah belakang. Nathan masih tidur dengan nyenyak.
Seketika otaknya yang loading bekerja dengan cepat, "Jika kak Nathan dan aku di sini, yang masak siapa?" Tanya Mika pelan.
Terdengar suara tawa pelan di depan kamar utama, membuat Mika meringsek masuk kedalam selimut lagi.
"Kak." Panggil Mika ketakutan.
Nathan hanya bergumam saja, "Kakak!" Seru Mika yang tertahan dengan memukul lengan Nathan.
Nathan yang lelah mau tidak mau dengan rasa malas membuka kedua matanya, terlihat istrinya yang takut dengan setengah wajah di tutupi selimut.
"Ada apa sayang?" Tanya Nathan dengan cepat.
"Sttt...! Jangan keras-keras, kakak sepertinya ada hantu di apartemen ini." Kata Mika dengan membekap mulut Nathan.
Kening Nathan berkerut dalam, dia menurunkan tangan Mika yang menutup mulutnya.
"Hantu?" Beo Nathan.
Mika mengangguk dengan cepat, "Dengar ... Dengar ... Ada suara tawakan? Di sini hanya ada kita berdua kak tidak ada tamu dan juga aroma wangi ini? Siapa yang memasak jika kita saja berada di dalam kamar?" Cecar Mikayla menggebu dengan sesekali melirik kearah pintu.
Nathan ingat jika dia meninggalkan orang tua dan mertuanya di ruang tengah.
Hingga akal bulusnya muncul, "Benar, jika bukan kita berarti hantu!" Kata Nathan yang pura-pura takut.
__ADS_1
"Kakak jangan menakutiku." Rengek Mika yang hampir menangis.
"Kita diam saja di dalam kamar, lebih baik kita membuat junior lagi sembari menunggu para hantu pergi." Jawab Nathan yang mulai tangannya aktif kembali.
Mika memukul punggung tangan Nathan yang nakal, "Kakak, bukan waktunya mesum!" Kesal Mika dengan berbisik.
Hingga suara knop pintu kamar bergerak, membuat Mikayla terjingkat kaget.
"Kakak!" Ucap Mika yang sudah menangis.
"Utututu, tenang sayangku ada suamimu di sini." Kata Nathan dengan memeluk tubuh istrinya yang masih tela*jang.
Sedangkan di luar kamar, Alice yang mencoba membuka pintu dia urungkan.
"Bagaimana?" Tanya Kenan yang tengah memakan makan siangnya.
"Tidak ada tanda-tanda kehidupan." Jawab Alice savage di saat tertentu.
Dad Jackson yang mendengarnya terbatuk, "Tidak mungkin mati bukan?" Tanyanya.
"Tidak, Hon. Mungkin mereka masih tidur." Jawab Mom Bintang dengan menyodorkan segelas air putih.
"Yasudah kita makan siang dulu saja sembari menunggu sepasang suami istri itu bangun." Kata Kenan yang membuat Dad Jackson mendelik kesal.
Entah keberapa kali hari ini, yang jelas Nathan melakukannya secara perlahan, dan cepat karena dia mengingat kondisi istrinya yang memang berbeda dengan wanita sehat pada umumnya.
"Kak, Mika lelah!" Ucap Mika dengan deru nafas yang tidak beraturan.
"Sama, aku sangat lapar." Jawab Nathan yang sudah tumbang di samping Mika.
Keduanya tampak berlomba-lomba menghirup udara sebanyak mungkin, tubuh mereka berkeringat hingga membuat keduanya menunggu sejenak untuk mandi.
"Ayo mandi, nanti kita makan di luar saja." Ajak Nathan kepada istrinya.
Mika mengangguk, melihat istrinya yang lemas akibat ulahnya. Nathan segera menggendong Mika dengan bridal style.
Suara gemericik air terdengar sangat jelas karena pintu kamar mandi tidak di tutup, Mika sudah tidak memperdulikan dirinya mandi bersama atau tidak karena dia sudah sangat kelaparan.
Lagipula, Nathan sudah melihat bahkan menikmatinya sejak semalam suntuk.
Dengan telaten, Nathan menggosok punggung Mika dengan lembut. Dia memberikan shampo di rambut panjang istrinya karena pasti lepek dan bau keringat akibat pergulatan di atas ranjang.
Natah tidak memikirkan hal kotor, karena dia sudah sangat senang dapat bersama Mika kembali meski Mika belum dapat mengingatnya.
__ADS_1
"Sini, Mika bersihkan punggung kakak." Kata Mika yang mengambil jaring-jaring untuk mandi (autor lupa namanya 🤣)
"Di mana saja, aku pasrah sayang." Jawab Nathan dengan tersenyum.
Mika memercikkan air kearah wajah Nathan karena dia sudah lelah jika harus menuruti keinginan suaminya.
Nathan tersenyum dengan punggung dan tangan yang di gosok oleh Mika.
Keduanya sama-sama tersenyum karena kebahagiaan yang meletup-letup di dalam hati seperti kembang api.
"Bagian bawah bagaimana?" Tanya Nathan dengan menggerakkan pantatnya.
Terdengar suara pukulan yang keras hingga menggema di kamar mandi, Mika memukul pantat polos Nathan dengan keras karena sudah sangat kesal.
"Aww... Bercanda sayang." Ucap Nathan yang tidak di gubris oleh Mika.
Mika segera mengembalikan jaring-jaring kepada Nathan, dan dia membilas diri di bawah air shower dengan wajah datar seperti yang Luis lakukan.
"Jangan marah." Ucap Nathan lagi.
Mikayla tidak meresponnya, dia segera menyudahi acara mandi setelah semuanya terbilas dengan bersih.
Segera Mika mengambil bathrobe dan mengenakannya, mengambil handuk kecil untuk menggulung rambutnya yang basah.
"Sayang!" Teriak Nathan dengan suara merengek seperti anak kecil.
Nathan cepat-cepat membilas dirinya juga, dan segera mengambil bathrobe yang selalu tersedia dua buah di dalam kamar mandi.
Segera Nathan keluar kamar mandi mengikuti langkah istrinya, tampak Mika tengah membuka lemari pakaian miliknya. Dia mengambil beberapa potong pakaian yang dapat menutupi leher jenjangnya.
"Sayang, jangan marah. Aku hanya bercanda." Kata Nathan yang kini sudah berada di sebelah Mika.
"Iya." Jawab Mika apa adanya.
"Sayang, jangan seperti itu." Kata Nathan yang frustasi.
Mika menghela nafas panjang, "Kak, Mika lapar. Mika tidak berminat untuk merespon tingkah laku kakak yang membuat tenaga Mika semakin berkurang, Mika akan keluar lebih dulu untuk makan di swalayan." Jawab Mika panjang lebar sembari mengenakan pakaiannya.
"Tapi, saya-"
"Sttt! Diam." Jemari telunjuk mika ditempelkan kebibir Nathan agar tidak banyak bicara lagi.
"Sudah, Mika hanya pinjam celana panjang dan pakaian ini. Setelah ini Mika langsung pulang untuk berganti pakaian, pasti Mom dan Dad sudah menunggu Mika sejak tadi." Ucap Mikayla kembali.
__ADS_1
Nathan hanya diam saat di lewati oleh Mika, "Tapi, sayang. Kamu tidak mengenakan bra." Ucap Nathan polos yang membuat Mikayla menghentikan langkahnya.