Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KENANGAN


__ADS_3

Happy Reading


Tampak sebuah ruangan yang cukup besar dengan lampu utama mati, sedangkan proyektor tengah bekerja menampilkan sebuah program kerjasama anatara dua perusahaan. Dean dan Nathan begitu cekatan dan terampil dalam menerangkan sekaligus menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan.


Kenan, Dave, dan juga para pemegang saham yang lainnya sangat puas dengan hasil persentasi kerjasama untuk dua perusahaan besar.


"Wah, dua penerus yang sangat hebat. Anak muda memang selalu memiliki ide-ide yang segar." Ucap salah seorang pemegang saham.


"Benar, aku tidak menyangka jika ada ide secemerlang itu." Timpal yang lainnya.


Nathan dan Dean hanya mengangguk sebagai rasa hormat dan terima kasih atas pujian para inversor atau pemegang saham.


"Lalu, bagaimana kerjasama kita? Apakah kalian setuju?" Tanya Kenan kepada Dave.


"Tentu saja, kami sangat setuju. Sudah lama perusahaanku ingin mengajukan kerjasama, beruntung putraku sudah cukup paham tentang dunia kerja." Jawab Dave dengan menepuk pundak Dean penuh bangga.


"Sama, saat ini Nathan tengah menjadi asisten pribadiku agar dia terbiasa bekerja dengan cepat dan tepat." Timpal Kenan yang sama bangganya dengan Nathan.


Kini kedua pemimpin perusahaan bercengkrama, Nathan yang melihat Dean gelisah akhirnya berbicara. "Apa kamu memiliki janji, Dean?" Tanya Nathan yang menghentikan pembicaraan Kenan dan Dave.


"O-oh, iya. Ayah ... Om ... saya ingin pamit terlebih dahulu karena ada seseorang yang sudah menunggu satu jam lalu." Jawab Dean sopan berpamitan kepada ketiganya.


"Oh begitu, silahkan. Aku tahu pasti kekasihmu sangat kesal saat ini karena menunggumu bekerja." Ucap Kenan yang hanya mendapatkan respon senyum getir dari Dean.


Dave yang mengetahui kisah cinta anaknya hanya mampu tersenyum dengan menyemangatinya, Dean kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar meninggalkan obrolan membosankan seputar bisnis.


Dean segera berlari menuju lift dengan tergesa, beruntung lift sudah lenggag membuatnya dengan cepat masuk dan turun menuju lantai satu. Dean mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mikayla.


Dengan cepat Dean menghubunginya, "Mika, aku baru di perjalanan. Apakah kamu masih di butik?" Tanya Dean dengan cepat.


"Masih kak, baiklah hati-hati." Jawab Mika.


Dean segera memasukkan ponselnya dan berlari keluar begitu saja saat pintu lift terbuka, beruntung mobilnya sudah siap di depan Perusahaan Wijayakusuma.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Dean kepada penjaga yang menyerahkan kunci mobil.


Dengan cepat, mobil Dean menyala dan berjalan meninggalkan perusahaan tersebut. Dean dengan cepat menembus kemacetan di jalan raya. Hingga tidak berselang lama, kini mobil Dean telah sampai di butik yang menjadi tujuan mereka.


Tampak gadis yang tengah memberikan beberapa potong pakaian kepada pelayan, Dean melangkah lebar kearahnya dengan nafas memburu.


"Maaf lama, apakah kamu sudah selesai?" Ucap Dean.


Mikayla yang sejak tadi fokus dengan koleksi pakaian kantor di butik tersebut, menoleh ke sumber suara. Tampak wajah tampan Dean yang mulai basah karena keringat.


"Iya, Mika baru saja selesai." Jawab Mikayla tersenyum.


Dean mengangguk, dia akhirnya menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa biru. "Berikan aku stelan jas koleksi terbaru di butik ini." Ucap Dean kepada pelayan toko.


"Baik, mohon di tunggu Tuan." Jawab pelayan yang langsung mendorong troli sisa stelan yang Mikayla pilih.


Mikayla menyerahkan satu botol air mineral kearah Dean, dengan cepat Dean menerima minuman yang masih dingin itu. Karena Dean sangat haus akibat berlari-lari keluar dari perusahaan Wijayakusuma.


"Oh, kakak baru saja pergi dari perusahaan Wijayakusuma karena ayah sedang melakukan kerjasama." Jawab Dean tanpa sadar.


Deg


Jantung Mikayla berdetak dengan cepat, tangannya gemetar tetapi dengan cepat dia sembunyikan. "Perusahaan Wijayakusuma? Mika baru dengar, Kak." Ucap Mikayla bingung.


Dean yang tahu bagaimana perjalanan Mikayla menjadi gelagapan, "O-oh , i-itu perusahaan dari teman SMAku dulu."


Hingga akhirnya seorang karyawan berhenti di depan keduanya, "Tuan, ini adalah koleksi stelan jas terbaru di butik kami." Ucapnya.


Dean dengan cepat bangkit dari duduknya, "Mika, kakak harus mencoba pakaian dulu." Ucap Dean yang berlalu dari hadapan Mikayla tanpa menunggu jawaban darinya.


Akhirnya karywan dan Dean berjalan menuju kearah ruang ganti meninggalkan Mikayla yang masih duduk di sofa seorang diri. Mika hanya menatap sendu kearah Dean karena dia ingin sekali bertanya mengenai Nathan. Bagaiimana kabar dari pria yang dia cintai hingga detik ini, apakah tetap baik-baik saja atau sudah mendapatkan kebahagiaan lainnya.


Dean mencoba salah satu stelan jas dengan panndangan kosong, pikirannya melayang memikirkan Mikayla yang akan ingat mengenai Nathan.

__ADS_1


"Bungkus semuanya dan kirimkan di alamat ini." Ucap Dean kepada pelayan butik tanpa mencoba semua stelan jas kerjanya.


"Baik, Tuan." Jawab pelayan.


Dean berjalan menuju kasir, dia membayar semua belanjaannya. Mikayla yang melihat Dean sudah melakukan transaksi segera berjalan mendekat untuk membayar juga pakaian yang sudah dia pilih.


"Sudah dibayar semua oleh suami anda, Nona." Ucap kasir dengan ramah.


"Eh?" Mikayla kaget dengan tangan yang sudah menyodorkan kartu atm.


Mikayla memasukkan kembali kary atm miliknya, dan menoleh kearah Dean yang tengah melakukan pembicaraan dengan seseorang di sebrang telfon. Mikayla menunggu sampai Dean selesai hingga dia berjalan mendekat.


"Kakak." Panggil Mikayla.


"Eh, maaf tadi temanku menelfon. Ada apa?" Tanya Dean dengan lembut.


"Itu, kenapa kakak membayar belanjaanku. Mika ada uang sendiri kok." Jawab Mikayla yang tidak enak hati.


Dean tersenyum dengan mengelus kepala Mikayla lembut, "Tidak apa-apa, itu adalah kado dariku karena kamu sudah mulai bekerja." Kata Dean.


"Tapi kak, itu terlalu berlebihan." Ucap Mikayla lagi.


"Bagaimana jika kamu meneraktirku makan malam saja, agar kamu tidak begitu menyesal karena barang belanjaan itu." Kata Dean memberikan ide.


Mikayla mengangguk dengan cepat, "Tentu, ida yang bagus. Jika begitu ayo kita pergi ke restoran yang kakak suka." Ucap Mikayla dengan riang.


"Eh tunggu dulu, belanjaan kita kak." Kata Mikayla kembali.


"Sudah nanti di kirim di mansion masing-masing, sekarang ayo kita cari restoran. Di dekat sini ada cafe enak." Jawab Dean dengan menggenggam tangan Mikayla cepat.


Mika segera berjalan keluar bersama Dean, Dean membukakan pintu mobil dan Mikayla masuk. Dean memberikan kode kepada sopir pribadi Mikayla jika dia akan pergi bersamanya, segera Dean masuk dan mulai menjalankan mobilnya pergi dari area butik.


Tidak membutuhkan waktu sampai sepuluh menit, mobil yang di kendarai oleh Dean telah sampai di cafe yang terdekat dengan deretan butik. Mikayla yang melihat gedung di depannya membuat suasana hatinya berubah, di sini adalah cafe dimana dia melihat Nathan bersama Laura dan di sini juga Nathan dan dia makan bersama untuk pertama kalinya sebelum menikah.

__ADS_1


__ADS_2