Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
HATI LUIS HANCUR


__ADS_3

Happy Reading


Penjaga apartemen segera membukakan pintu mobil Luis yang terparkir serampangan di depan, karena Luis menggendong Mikayla. Beruntung kunci mobil masih berada di tempatnya sehingga dengan cepat penjaga apartemen menancap gas hingga mobil bergerak cepat meninggalkan area apartemen.


“Bisakah cepat, Pak?” Tanya Luis khawatir.


“Ini sudah cepat, sabarlah ajak terus komunikasi agar tidak kebablasan.” Jawab penjaga yang notabennya adalah orang Jawa.


Meskipun Luis kurang paham apa yang di makshud oleh penjaga apartemen, dia tetap melakukannya. Berbisik di telinga Mikayla memanggil namanya untuk segera sadar.


Menempuh waktu kurang lebih lima belas menit hingga sampai di rumah sakit terbesar di kota, Luis segera membuka pintu mobil dan keluar dengan berlari sekencang mungkin.


“Perawat! Dokter! Tolong,” seru Luis dengan nafas tidak beraturan.


Beberapa perawat yang mendengarnya segera menghampiri, mereka mengarahkan ke salah satu brangkar di UGD. Luis segera merebahkan adiknya dengan cepat “Tolong, sus. Adik saya drop!” Ucap Luis panik.


“Tenang, biarkan kami memeriksa pasien terlebih dahulu.” Jawab perawat pria yang sedikit mendorong Luis menjauh dari brangkar pasien.


Kedua tangan Luis mencengkram rambutnya kencang, dia hanya mampu melihat Mikayla yang tengah di periksa oleh dokter umum. Cukup lama pemeriksaan Mikayla, segera dia di pindahkan ke ruang rawat intensif.


Luis yang melihat brangkar sang adik di pindahkan segera bangkir dari duduknya dan berjalan menyusul dengan cepat, melihat keberadaan Luis dokter segera mengikutinya.


“Nak,” panggil sang dokter.


“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?” Tanya Luis linglung.


“Keadaan cukup buruk, dia kelelahan, dan sepertinya pasien memakan makanan yang di larang oleh dokter.” Jelas sang dokter pelan.


“Makanan?” Beo Luis


“Benar, jika hanya satu atau dua kali tidak masalah. Dalam artian tidak setiap hari memakan makanan yang menjadi pantangan bagi penderita penyakit jantung. Saya sudah membaca rekam medis pasien, lemah jantung dapat menjadi penyakit katup jantung dan lebih parahnya menjadi gagal jantung.” Jawab sang dokter dengan pelan tetapi mudah dipahami oleh Luis.


Bagaikan petir di pagi hari, langit tidak mendung, dan berawan. Tetapi di hari Luis tampak retakan yang semakin dalam. “Gagal jantung?” Beo Luis lagi.


Dokter mengangguk , “Benar, untuk lebih lanjut keadaan pasien. Setelah sadar kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi agar tidak salah dalam menanganinya.” Ucap sang dokter.


Seorang suster bejalan menghampiri keduanya, “Dok, pasien saat ini detak jantungnya sudah mulai stabil.” Ucap sang suster.


“Bagus, saya akan memeriksa keadaan pasien sekali lagi.” Ucap dokter yang berjalan memasuki ruangan Mikayla.

__ADS_1


Luis berjalan dengan gontai mengikuti langkah dokter, tampak wajah pucat sang adik terbaring lemah di atas brangkar. Tidak ada jarum infus yang menancap karena penderita penyakit antung biasanya sensitive terhadap beberapa obat-obatan, mungkin akan dipasang setelah detak jantung stabil.


Dokter melepaskan stetoskopnya dan berputar hingga berhadapan lagi dengan Luis, “Pasien saat ini sedang beristirahat dan silahkan menunggu hingga pasien sadar.” Ucap dokter yang di angguki oleh Luis.


“Terima kasih, Dok.” Jawabnya.


Dokter dan dua perawat segera meninggalkan ruangan yang cukup luas, Luis dengan tatapan kosong menatap Mika yang beristirahat dengan nyenyak. Dia menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi tunggu samping brangkar pasien.


Pundaknya terguncang pelan dan perlahan kepalanya menunduk, kedua tangannya menggenggam erat jemari lentik milik Mikayla.


“Maafkan, kakak.” Ucap Luis pelan.


Luis semakin menangis, menumpahkan seluruh perasaan sesak di dalam dadanya. Dia sangat trauma melihat Mikayla tidak sadarkan diri di rumah sakit saat kecil, dan kini harus terjadi lagi bahkan hampir meregang nyawa jika dia terlambat datang. Begitulah pikir Luis,


*


*


*


Di sekolahan,


“Dean!” Panggil pengawas.


Dean yang tengah meminta jawaban lantas kelabakaan, “Saya, Pak?” Ucap Dean pura-pura bodoh.


“Ya, kamu siapa lagi. Kerjakan sendiri, jika sekali lagi kamu mencontek akan saya ambil lembar jawabanmu.” Jawan pengawas dengan garang.


“Baik, Pak saya akan mencontek lebih banyak lagi.” Kata Dean yang kalimat terakir dalam hatinya.


Para siswa yang melihat perilaku Dean hanya terkekeh geli termasuk Nathan, karena tes terakir adalah Bahasa Indonesia membuat Dean bingung banyak jawaban yang menjebak. Entah dari huruf capital, tanda baca, kata baku – tak baku, dan lain-lain.


Bel berbunyi dengan nyaring, para siswa mengantri mengumpulkan lebar jawaban ke depan kelas, dan segera keluar saat sudah mengumpulkannya.


“Nat, ayo kekantin!” Ajak Dean dengan merangkul Nathan.


“Ayo, aku juga lapar tidak sempat sarapan.” Jawab Nathan membalas rangkulan Dean.


Keduanya harus turun melewati lantai dua menuju lantai dasar, di mana kantin sekolah berada. Dari kejauhan Nathan dan Dean melihat Kinanti berjalan seorang diri dengan memainkan gawainya.

__ADS_1


“Itu Kinan, Kinan!” Seru Dean dengan melambaikan tangannya kearah Kinan.


Kinan tersenyum dan segera menghampiri kedua pemuda yang sangat dia kenal, “Kakak mau ke kantin?” Tanya Kinan cepat.


“Iya, kau mau ikut tidak?” Jawab Dean ramah.


“Skuyylah, Mika tidak berangkat hari ini jadi tidak ada teman.” Ucap Kinan dengan menggandeng tangan Dean.


Mendengar kata Kinan membuat langkah Dean dan Nathan terhenti, “Tidak masuk? Ke mana?” Tanya mereka bersamaan.


“Cie … barengan yang tanyain Mika nih.” Bukannya menjawab Kinan malah mengejek kedua pria tersebut tanpa rasa berdosa.


Nathan melirik tajam kearah Dean, “Ha Ha a Ha Ha, ti-tidak. Benarkan Nathan kita hanya bertanya saja.” Jawab Dean tertawa kaku dan hambar.


Nathan hanya diam, dia mengeluarkan gawainya, dan berjalan meninggalkan Dean serta adiknya. Dean memanggil Nathan beberapa kali tetapi diabaikan, dengan cepat Kinan membekap mulut Dean dan menyeretnya turun ke lantai satu untuk ke kantin.


“Mika, angkat.” Ucap Nathan yang kini sudah naik ke rofftop sekolah.


Beberapa kali Nathan menghubungi Mikayla nihil, tidak ada jawaban disebrang telfon. Dia duduk di lantai rooftop dekat tembok menatap ponselnya dengan perasaan yang campur aduk.


“Apa harus menghubungi Mommy Bintang atau Lucas? Tapi, bagaimana jika mereka justru bertanya di mana Mikayla.” Ucap Nathan pelan dengan nada frustasi.


Nathan akhirnya mencoba menghubungi Bintang, dengan cepat panggilan Nathan di angkat oleh ibu mertuanya.


“Ha-halo, Mom.” Ucap Nathan terbata.


“Halo, Nath. Ada apa?” Tanya Bintang disebrang telfon.


“Nathan hanya ingin tanya kabar Mommy dan Daddy saja , maaf kami belum bisa datang ke mansion.” Jawab Nathan berbohong.


“Tidak apa-apa, setelah kalian ujian datanglah kemansion. Mommy juga merindukan kalian.” Ucap Bintang membuat Nathan terpaku.


“Baiklah, Mom. Maaf Mom, Nathan tidak bisa lama-lama karena sebentar lagi sudah masuk.” Kata Nthan kembali berbohong.


“Tentu saja, sukses untuk kalian.” Jawab Bintang yang langsung mematikan sambungan telfonnya.


Makinlah Nathan gusar, karena ternyata Mikayla tidak berada di mansion, “Di mana kamu Mika,” Ucapnya lirih dengan melihat kearah langit yang biru nan luas.


Di ujung pintu rooftop, tampak seseorang mendengar semua ucapan Nathan. Dengan mengepalkan tangannya dia segera pergi dari roftoop begitu saja tanpa niatan untuk menemui Nathan.

__ADS_1



__ADS_2