Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KEBENARAN


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Suara tawa dan jerita terdengar dari berbagai sudut sekolahan elit di tengah kota, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi semua siswa.


Karena seluruh siswa sudah menyelesaikan ujian kenaikan kelas, di sisi lain juga akan di adakan pelepasan siswa kelas dua belas yang 100% sudah berhasil lulus.


Terlihat dari gerbang yang panjang dan tinggi sekolahan itu terbuka lebar, biasanya gerbang itu tertutup rapat dan hanya di buka saat pagi dan sore ketika para siswa pulang.


Banyak balon beraneka warna dan juga spanduk menghiasi sekolah, juga para siswa memakai pakaian olahraga yang serupa.


Banyak stand-stand berjejer rapi dengan berbagai barang jualannya, mulai dari makanan, aksesoris, pakaian, bahkan kerajinan seni rupa.


Semua stand tersebut adalah milik para siswa yang sudah terjun kedunia bisnis, karena support dari sekolah mereka di perbolehkan untuk menggelar lapak jualan di saat acara-acara tertentu sekolah.


Jika di depan sekolah begitu ramai dan meriah, kita beralih di sebuah taman belakang sekolah yang tampak asri dan sejuk.


Terlihat dua gadis tengah berdiri saling menatap penuh permusuhan, satu gadis terlihat congkak sedangkan gadis lainnya terlihat dingin.


"Untuk apa kamu memanggilku kemari? Apa kamu menyerah mendapatkan Nathan?" Tanya Mikayla kepada Laura.


Laura tertawa sumbang, "Bukankah Nathan sudah tidak memperdulikan kamu lagi, aku sarankan lebih baik kamu mundur dan menceraikan Nathan daripada kamu yang di ceraikan terlebih dahulu olehnya." Jawab Laura dengan tersenyum mengejek.


Mikayla hanya tersenyum tipis tetapi kedua matanya masih mengunci pandangan Laura, "Jika dia begitu mencintaimu, kenapa tidak kamu tidak menyuruhnya untuk menceraikan ku saat ini juga? Apa kamu tidak percaya diri?" Ucap Mikayla yang menjatuhkan kepercayaan diri Laura.


Gemeletuk gigi terdengar, Laura menatap tajam kepada gadis yang berdiri di hadapannya.


"Tidak percaya diri? Hah, bagaimana jika kita taruhan saja. Jika kamu menang, aku akan meninggalkan Nathan selamanya dan tidak akan pernah muncul di hadapan kalian. Tapi ... Jika kamu kalah, kamu harus pergi dari kehidupan Nathan sejauh mungkin. Bagaimana?" Kata Laura menawarkan sebuah perjanjian.


"Apa ucapan dari wanita ular sepertimu dapat di percaya?" Tanya Mikayla memandang remeh kearah Laura.


"Kamu bisa memegang ucapanku," jawab Laura dengan yakin.


"Baiklah, taruhan apa kita." Ucap Mikayla dengan jemari yang bergerak belan menyentuh udara.


"Lari, kita lomba lari. Kamu pasti sudah tahu jika aku tidak memiliki penyakit jantung bukan, aku tahu karena kamu pasti menggunakan kekayaanmu." Jawab Laura dengan tersenyum tipis.


Kedua mata Mikayla tampak terbuka lebar, olahraga adalah hal yang paling di hindari oleh Mikayla.

__ADS_1


"Bagaimana? Kamu juga sudah sembuh dari sakit typesmu bukan, apa kamu masih belum memiliki tenaga untuk berlari?" Ujar Laura kembali.


Benar, Laura saat mengunjungi Mikayla semua alat sudah di lepas dan juga tidak ada di ruangan. Hanya ruangan biasa seperti pasien pada umumnya.


"Setuju, aku akan menunggumu di lapangan." Jawab Mikayla dengan cepat.


"Baiklah, ayo. Biarkan teman-teman menjadi saksi kemenangan ku!" Laura berjalan meninggalkan Mikayla terlebih dahulu.


Mikayla menatap punggung Laura dalam diam, tangannya tergerak menyentuh dadanya, bahkan kini kedua kaki Mika seakan bergetar dengan hebat.


"Pasti bisa Mika! Tidak apa-apa masuk rumah sakit lagi." Ucap Mikayla dalam tekadnya.


*


*


*


Kini para siswa tengah berkumpul di lapangan sekolah, mereka tampak cemas dengan Laura yang mereka tahu memiliki penyakit jantung.


"Laura! Apa kamu sampai harus melakukan ini untuk seorang pria?" Tanya teman kelasnya.


"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Aku tidak mau Nathan sampai jatuh ditangan wanita yang salah." Jawab Laura lembut.


"Laura." Ucap mereka yang kemudian memeluk tubuhnya.


Beberapa anak memandang tidak suka kearah Mikayla, mereka beranggapan Mikayla begitu kejam karena menggoda Nathan dan kini membahayakan nyawa Laura.


"Pelakor gini amat sih dek-dek, kamu itu masih muda apa harus merebut pasangan orang lain?" Tanya anak kelas dua belas berbeda kelas dengan Laura.


"Apa kakak tidak pernah dengar, pelakor selalu unggul. Aku lihat kakak punya kekasih tampan dan kaya, hati-hati banyak wanita yang ingin merebutnya juga." Jawab Mikayla dengan mengedipkan sebelah matanya.


Gadis itu membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan Mikayla, Mikayla tampak berjalan di tengah lapangan yang memang di khususkan untuk berlari.


Laura dan Mikayla saling menatap bagaikan singa betina yang memperebutkan pejantan atau sang raja singa.


Seorang gadis berjalan di dekat Laura untuk memberikan aba-aba, kini Laura dan Mikayla menghadap lurus ke depan dengan tekad kemenangan yang sama.

__ADS_1


"Baiklah, semuanya bersiap-siap!" Serunya.


"Bersedia ... Siap .... Maju!" Teriaknya lagi.


Tampak debu yang di timbulkan akibat tolak sepatu Mikayla dan Laura, mereka berlari dengan cepat untuk mengambil bendera kuning yang di bawa oleh seorang siswa berdiri tegap di lapangan.


Para siswa bersorak sorai dengan meriah, membuat para siswa lainnya tertarik untuk mendekat termasuk Dean dan Kinan yang tengah berdiri di depan jendela lantai tiga untuk mengunggu Nathan.


"Ada apa sih kak, di bawah sana! Kayaknya ramai banget." Ucap Kinan dengan menyipitkan matanya.


"Sepertinya ada yang lomba lari." Jawab Dean acuh dengan menatap kearah lapangan.


Tapi sepersekian detik jantung keduanya berdegup kencang, karena seruan seorang siswa yang meneriakkan nama Mikayla.


"Mika! Tidak!" Seru Kinan dan Dean berbarengan.


Merega segera berlari menuruni anak tangga dan menuju lapangan lari, mata Kinan sudah berkaca-kaca bahkan sudah menangis. Dia sangat takut Mikayla tiada, begitu juga Dean yang sudah lari kencang mendahului Kinan dengan menabrak beberapa siswa.


"Tidak, Mikayla aku mohon!" Ucap Dean dalam larinya.


Nathan yang mau pulang di hadang oleh seseorang, karena Nathan akan mengurus dokumen untuk bersekolah di luar negeri sehingga dia pulang lebih awal dan tidak ikut meramaikan acara sekolah "Ada apa Susi?" Tanya Nathan heran.


Susi menyodorkan ponselnya kearah Nathan, Nathan yang bingung hanya diam dan menatap Susi dalam diam.


Susi mulai menekan tombol play, semua percakapan Dean dan Laura terdengar dengan jelas dan keras. Bahkan kini Nathan sudah jatuh di atas tanah yang tandus.


"Tidak mungkin! Susi ini semua bohongkan!" Teriak Nathan dengan lelehan air matanya.


"Maaf." Jawab Susi yang juga menangis.


Nathan bersimpuh di atas tanah dengan tangan kanan yang sudah mengepal dan memukul tanah keras itu, "Aaaa.... Tidak! Mikayla, Mika ...."


Nathan sadar jika Mikayla masih berada di sekolahan, segera Nathan bangkit dan berlari menuju gedung sekolahan.


Kedua kaki Nathan seakan sangat berat, untuk mencapai gedung yang jaraknya 500 meter saja seakan lama.


"Mika...." Panggil Nathan dengan menangis.

__ADS_1


"Nathan tunggu! Kamu harus ikut aku sebentar." Susi segera menggandeng Nathan menuju ruang UKS.


__ADS_2