Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
KEMARAHAN NATHAN


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Nathan yang berdiri di depan pintu UKS dengan seksama mendengarkan percakapan antara Laura dan Susi.


Dia sungguh menjadi pria yang paling bod*oh di dunia karena berhasil di tipu dengan ucapan seorang wanita yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri.


Suara langkah kaki dari tangga membuat Nathan menoleh, terlihat wanita paruh baya yang sangat dia kenali yaitu Bi Jum.


Bi Jum yang melihat Nathan di depan UKS juga kaget, karena dia baru tahu jika anak majikannya satu sekolah dengan putrinya.


"Den, Nathan." Sapa Bi Jum sopan tetapi raut wajahnya khawatir.


"Laura ada di dalam, Bi." Jawab Nathan dengan menundukkan kepalanya dalam.


Bi Jum yang ingin bertanya dia urungkan karena saat ini yang terpenting adalah keadaan Laura, "Bibi masuk dulu ya, Den." Ucapnya.


Bi Jum segera masuk ke dalam ruang UKS terlihat jika Laura tengah berbincang dengan siswi di sana.


"Kenapa ibu kesini?" Tanya Laura tidak suka.


"Ya Ampun Laura, ayo kita segera pulang untuk berkemas. Ibu tidak akan memarahimu." Jawab Bi Jum denga lembut.


Laura yang sudah duduk menyentak tangan ibunya kasar, "Jangan sentuh Laura, buk! Ibuk lebih baik cepat pulang. Laura masih ada keperluan di sini." Tolak Laura dengan kasar.


"Duh Gusti, Laura ibu tau kamu merencanakan sesuatu yang tidak baik. Nak, jika kamu mencintai bukan dengan cara merusak kebahagiaan wanita lain. Ayo kita pulang." Ucap Bi Jum dengan lembut.


"Ck, apaan sih buk. Ibu tidak tahu sejak awal pria itu milik Laura! Jika Laura berhasil dengannya kita tidak akan hidup susah lagi buk, ibuk bisa fokus menjaga bapak." Jawab Laura yang membuat hati Bi Jum meremang.


"Tapi Laura, mereka sudah menikah dan kamu tetap akan salah meskipun kamu benar." Ucap Susi yang menimpali ucapan Laura.


Laura menatap tajam kearah Susi, "Pasti kamu yang menghubungi dia kan!" Tunjuk Laura pada sang Ibu.


"Sus, ingat ya! aku sudah membantumu membayar sekolah dan juga uang jajanmu, kamu itu hanya kacungku karena aku sudah membayar mu!" Lanjut Laura lagi.

__ADS_1


Kedua wanita berbeda generasi itu hanya terdiam mendengar ucapan kasar dari mulut Laura, dengan kasar Laura beranjak dari atas brangkar.


Deg


"Nathan." Ucap Laura lirih.


Nathan sudah berdiri tegap di depannya, dia menatap tajam nan dingin kearah Laura. Laura yang merasa terintimidasi mencoba menangkis semua rasa itu.


"Hiks, sayang." Laura mulai kembali menangis dan berjalan mendekat kearah Nathan.


"Hiks, Nath. Tadi Mikayla mengajakku bertaruh dengan berlari di track, kamu tahukan aku sedang sakit. Dia sangat jahat karena ingin membunuhku." Ucap Laura lagi.


Nathan tidak merespon, dia menatap kearah Bi Jum yang seakan wajahnya menggambarkan gurat permohonan maaf. Sedangkan Susi berharap Nathan dapat dengan tegas menyingkirkan Laura.


Laura yang tidak mendapatkan respon apapun mulai sedikit panik, dia melepaskan pelukannya dan menatap Nathan.


"Sa-"


"Hari ini kita putus dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi, atau nyawamu sebagai taruhannya!" Nathan kembali berucap dengan bibir bergetar.


Laura menggeleng pelan, buliran air mata sudah membasahi kedua pipi gadis itu.


"Ti-tidak Nathan, percayalah padaku!" Kata Laura dengan memohon.


Nathan tersenyum miring, "Percaya? Setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri atas semua kebohongan mu dan asal kamu tahu, Bi Jum adalah pegawai di villa milik keluargaku." Jawab Nathan dengan wajah menahan amarah.


Laura semakin membuka lebar kedua matanya, kaget karena dia tidak pernah tahu sang Ibu bekerja untuk keluarga kaya mana.


"Nath, kamu sayangkan denganku. Kamu sudah berjanji akan menceraikan Mikayla." Ucap Laura dengan wajah sedih.


"Sudah aku katakan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Mikayla. Hanya dia istriku satu-satunya , hanya dia wanita yang pantas menyandang nama Wijayakusuma!" Jawab Nathan dengan lantang.


Semua terpaku mendengar ucapan Nathan termasuk Laura, lagi dan lagi Laura harus mendengar Nathan menolak menceraikan Mikayla.

__ADS_1


" Tidak Nath, kamu hanya milikku! Sejak awal kamu milikku!" Ucap Laura mulai histeris.


"Sejak awal aku adalah milik Mikayla, jika sampai Mikayla terluka parah kamu akan tau akibatnya. Maka dari itu sebelum aku membalasnya kamu harus enyah dari hadapanku!" Jawab Nathan dengan tegas.


Bi Jum langsung mendekat, "Maaf, Den. Maafkan saya karena tidak bisa mendidik Laura dengan benar. Saya akan mengundurkan diri untuk kembali ke kampung." Ucap Bi Jum sopan dengan mencekal tangan Laura.


"Ingat peringatanku, jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Tegas Nathan yang langsung berlalu dari ruang UKS


"Tidak! Nathan, dengarkan penjelasan aku dulu!" Teriak Laura yang sudah mulai menangis.


Bi Jum dengan kuat menahan Laura agar tidak mengejar Nathan dengan bantuan Susi. Laura terus memberontak karena dia tidak mau kehilangan Nathan.


Hingga akhirnya Laura merosot di atas ubin dengan tangisannya, hal tersebut tentu saja menarik beberapa siswa untuk menontonnya.


Mereka mendengar apa yang Nathan ucapkan, "Mikayla istri Nathan?" Begitulah di pikiran mereka.


Hal itu lantas menjadi heboh di kalangan para siswa, dengan cepat berita itu menyebar bagaikan virus flu.


Para siswa yang sempat membela Laura merasa bersalah karena kenyataannya mereka membela orang yang salah, tetapi mereka juga tidak menyalahkan 100% atas tindakan Laura.


Mereka tahu bagaimana sulitnya mengikhlaskan orang yang kita sayang untuk orang lain, mungkin ini adalah salah satu cara Laura untuk mempertahankan Nathan tetapi caranya yang salah.


"Kita harus minta maaf kepada Mikayla, aku tidak ingin setelah lulus sulit mendapatkan pekerjaan. Kalian tahu keluarga Anderson itu adalah saudara dari Gandratama di tambah dengan Wijayakusuma." Ucap seorang siswa kepada sekumpulan anak perempuan.


"Benar, aku pasti akan di marahi oleh ayahku karena dia bekerja di perusahaan Wijayakusuma." Timpal siswa yang lain.


"Yang lain bagaimana? Karena kita juga salah seharusnya kita tidak ikut campur urusan orang lain, terlebih kita hanya mendengar dan melihat dari sisi Laura. Sedangkan dari sisi Mikayla tidak ada yang pernah tahu." Ucapnya lagi.


"Baiklah kamu ikut, benar apa yang kamu katakan. Lebih baik kita menjadi pihak penengah bukan membuat sebuah kubu untuk sesuatu yang akan membuat kita menyesal." Jawab ketua geng yang membela Laura secara penuh.


"Lalu di mana kita harus menemui Mikayla, kita tidak ada yang tahu?" Tanya seorang siswa lagi.


"Aku akan bertanya kepada teman kelas Luis kembaran Mikayla. Aku akan memberi kabar melalui pesan grup jika sudah mendapatkan informasi." Jawab siswa tersebut yang di angguki teman lainnya.

__ADS_1


__ADS_2