Segenggam Rindu Untuk Mikayla

Segenggam Rindu Untuk Mikayla
SATU RANJANG


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Setelah selesai makan malam, mereka kini tengah duduk di sofa sembari menonton televisi.


Suara kriuk dari makanan ringan memecah keheningan sepasang suami istri tersebut.


"Kak, sudah larut malam. Mika mau pulang." Ucap Mika yang membuat Nathan menoleh.


Nathan melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, benar waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Tidur di sini saja, lagipula kita sudah menikah tidak akan di grebek warga." Jawab Nathan dengan tersenyum.


Mika berkedip cepat, dia hampir lupa jika status mereka sudah sah.


"Tapi, kak. Mika belum izin kepada Mom dan Daddy." Ucap Mika pelan.


"Kenapa harus izin? Kitakan sudah menikah." Kata Nathan dengan keheranan.


"Ish!"


Reflek Mika memukul kepala belakang Nathan, "Mika berangkat dengan Kak Dean dan di culik oleh Kak Nathan. Tentu saja harus mengabari orang rumah, bagaimana jika mereka berfikir Mika pergi dengan Kak Dean." Omel Mika bersungut-sungut.


Nathan mengelus kepala belakangnya meski Mika memukulnya tidak keras.


"Maaf, aku lupa. Aku akan hubungi Mom Bintang dulu jika begitu." Jawab Nathan yang baru ingat jika dia membawa pergi Mika dari acara reuni begitu saja.


Nathan segera mengambil gawai yang berada di atas nakas, dan segera mencari nomor ibu mertuanya.


Panggilan pertama tidak di jawab dan panggilan kedua barulah di angkat oleh Bintang.


Nathan segera mengucapkan salam sembari tangan kirinya mengecilkan volume televisi.


"Mom, Mikayla bersamaku. Malam ini dia akan tidur di apartemen." Ucap Nathan to the point.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Mom Bintang di sebrang telfon.


"Baik, Mom." Jawab Nathan jujur.


"Baiklah, semangat!" Kata Mom Bintang yang kemudian mematikan panggilan teleponnya.

__ADS_1


Nathan meletakkan kembali gawai di nakas samping sofa, dia menoleh kearah Mikayla yang tengah mengerucutkan bibirnya kesal.


"Jangan marah, aku sudah telfon Mom Bintang." Kata Nathan dengan menoel bibir Mika.


Seperti wanita yang tengah merajuk pada umumnya, Mikayla menampik tangan Nathan tetapi masih diam seribu bahasa.


Helaan nafas panjang hanya mampu Nathan lakukan saat ini, "Jangan bilang Mikayla ngambek beneran!" Runtuknya dalam hati.


Mika yang masih merajuk, dia segera berdiri dari duduknya, dan melangkah pergi menuju kamar utama.


"Mau kemana sayang!" Seru Nathan yang mengikuti sang istri seperti anak ayam.


Mikayla masih diam, dia benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat.


Kamar utama menjadi tujuan Mika, Mika terpaku di tempat saat membuka kamar utama.


Semua masih terlihat sama hanya ada foto pernikahan mereka yang tampak memenuhi tembok kamar.


Nathan yang mulanya berdiri agak jauh dari Mika berjalan mendekat, dia memeluk tubuh Mikayla dan menyenderkan dagunya di pundak Mika.


"Apa kamu ingat? Ini kamar kita sejak awal menikah, sejak awal menikah kita tidak pernah pisah kamar hanya pisah ranjang. Kita bergiliran tidur di sofa dan kasur, tetapi setelah kamu sakit demam kita lebih sering berbagi tempat tidur." Ucap Nathan pelan dan lembut.


"Mika ingin ganti pakaian, jika Mika benar istri kakak apa ada pakaian Mika di sini?" Tanya Mikayla yang masih di peluk oleh Nathan.


"Tidak, semua barang-barangmu sudah di ambil oleh Mom Bintang dan Dad Jackson. Hanya tersisa obat jantung yang kamu simpan di laci nakas." Jawab Nathan jujur.


Sontak hal itu membuat dia kaget, dia tidak tahu tentang hal ini. Terasa tubuhnya terasa ringan, karena Nathan kini sudah menggenggam tangannya.


"Untuk malam ini, kamu mengenakan pakaianku saja." Ucap Nathan lagi.


Mika dan Nathan berjalan masuk ke dalam kamar utama, Mika dapat melihat masih ada meja rias yang menjadi sumber kegaduhan dulu.


Nathan segera mengambil pakaian untuk di kenakan Mika dan juga dirinya karena masih mengenakan kemeja putih.


"Gantilah di kamar mandi." Kata Nathan dengan menunjuk pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar.


Mikayla mengangguk, dia segera berjalan dengan membawa pakaian milik Nathan.


Sedangkan Nathan sendiri berganti pakaian di depan lemari setelah memastikan Mikayla sudah masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Tidak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka terlihat gadis yang tingginya tidak tumbuh keatas tetapi masih cantik. Tengah mengenakan kaos berukuran besar hingga membuatnya seperti mengenakan pakaian over size dan celana kolor yang berada di atas lutut.


Nathan yang melihatnya reflek tertawa, bagaimana tidak penampilan Mikayla seperti orang-orangan sawah saat ini.


"Maaf sayang." Kata Nathan yang menahan tawanya.


Mikayla hanya mendengus kesal, "Kakak sengaja kan memberiku pakaian ini, seharusnya kakak seperti CEO di novel-novel memberikan kemeja putih yang tingginya di atas pahaku." Cecar Mikayla sebal.


"Maaf sudah merusak kehaluanmu istriku," Jawab Nathan dengan tertawa pelan.


Mikayla hanya melirik tajam, padahal di otak Mikayla sudah menghalu dengan liar. Tetapi dipatahkan dengan kenyataan.


Entahlah, sejak menyentuh sesuatu yang belum pernah dia lihat dan sentuh sebelumnya membuat pikiran Mikayla traveling.


Mika berjalan dengan wajah masam menuju sofa yang berada di kamar utama, dia menjatuhkan bobot tubuhnya.


"Kenapa malah duduk di sofa, apa kamu belum mengantuk?" Tanya Nathan dengan menaikkan sebelah alisnya heran.


"Mika tidur di sini saja, seperti kata Kakak tadi. Kita pisah ranjang," jawab Mikayla tanpa melihat kearah Nathan karena punggung dan kepalanya sudah bersender di sofa.


Mika menjerit pelan karena merasa tubuhnya melayang, beruntung Mikayla langsung reflek mencengkram pakaian Nathan jika tidak dia bisa terjatuh.


"Tidak ada pisah ranjang lagi sayang, sudah cukup satu tahun pernikahan kita dulu dan lima tahun penantian ku." Ucap Nathan yang sudah menggendong Mikayla secara bridal style


Mikayla hanya mampu mengigit bibir dalam bagian bawah, dia ingat terakhir kali sebelum acara pensi sekolah mereka memang tidur satu ranjang bahkan saling berpelukan.


"Tapi, Kak...."


"Tidak ada penolakan, aku ingin membuka dan menutup mata selalu melihatmu Mika. Lima tahun aku mengharapkan kehadiranmu dalam mimpiku tapi tidak pernah hadir, dan kini nyata wanita yang selalu aku tangisi setiap malam masih hidup bahkan dapat aku sentuh." Potong Nathan dengan sendu.


"Peluklah aku sepuasmu." Jawab Mika yang kemudian mendaratkan kecupan di bibir Nathan.


Nathan membelalakkan kedua matanya, dia tidak terima jika hanya sebuah kecupan. Nathan menahan tengkuk Mika agar ci*man mereka lama.


Suasana yang hangat perlahan berubah menjadi panas, Nathan tidak puas mengabsen isi mulut Mikayla. Dia melepas tautan bibirnya dan menyusuri leher jenjang istrinya yang membuat Mika mere*mat kedua pundak sang suami.


"Ah, kak."


Mikayla yang baru mendapatkan sentuhan lebih dari seorang pria terlebih Nathan tidak mampu mengontrol reaksi tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2